SIDDHARTHA DAN KSATRIA JEDI

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Sore itu adalah satu dari beberapa hari
yang saya habiskan di sebuah rumah perahu di danau Dal, Srinagar.
Burung gagak meracau seperti biasa, sebagaimana di seluruh daratan
India. Air danau tenang, hijau, berlumut, dipenuhi bunga-bunga
teratai pink, dan rumah-rumah perahu yang lain: Himalaya.
Shambala. Paradise. Adventure of Lifetime. Dan segudang nama-nama
lain yang dicat dengan warna norak khas India.

Rumah-rumah perahunya! Bagaimana bisa
rumah-rumah perahu di sini berdesain elegan dan ‘kalem’? Di
lautan warna-warni gonjreng India, yang seolah tidak mengenal
teknik gradasi, rumah-rumah perahu ini diukir dengan gaya eksotis
khas kesukaan para Westerner. Para British tepatnya, yang
dahulu kala menginjakkan kaki di bumi Kashmir ini tapi tidak
diperbolehkan membangun rumah di atas tanah. Jadilah, rumah-rumah di
atas perahu ini.

 

Di samping saya sore itu ada seorang
British lain. Namanya Bob.

Untuk apa Bob ke sini?

Dua puluh tahun yang lalu dia pernah
datang ke Kashmir, jadinya sekarang dia datang lagi untuk ‘meninjau
ulang’. Tentunya, banyak yang berubah.

 

“Untuk apa kau ke sini?”, tanyanya.

“Saya sedang mencari master Yoda,”
jawab saya ngasal.

 

{Sedikit orang
tahu, kata dia, bahwa orang-orang Inggris mengisi kolom ‘agama’
dalam sebuah survey nasional di sana dengan kata: Jedi. Dan berapa
orang yang mengisi demikian? 30%! }

 

Dan apakah Bob juga beragama Jedi?

Penampilan Bob berambut gundul,  dengan
tato besar ‘Om’ di lengan kanannya. Celananya katun, tipis, dan
lebar, macam pakaian orang-orang yang suka yoga dan bergaya hippies.
Saya kira dia orang Hindu (yang suka yoga dan bergaya hippies).

“Dua puluh tahun yang lalu saya
kesini, saya pindah agama menjadi pengikut Siddhartha,” Bob bilang
begitu.

 

Matanya menerawang jauh ke deretan
Himalaya. Shambala. Paradise. dan Adventure of Lifetime di depan
kami. “Master Yoda tidak usah dicari. Dia akan datang sendiri
ketika kamu benar-benar membutuhkannya. Kapan itu? Tidak ada yang
tahu, biasanya ketika kamu berhenti mencarinya,” kata Bob.

 

So, apakah dia seorang ksatria
Jedi sehingga mengetahui tindak-tanduk master Yoda?

 

Well, film Star Wars muncul
ketika sedang ada pergolakan new age di Amerika Serikat.

Orang-orang Amerika saat itu yang sudah
gak tahan dengan kehambaran zaman modern, sehingga mulai
mengais-ngais kebijakan pre-modern.

{Apakah zaman
pre-modern itu? (Zaman sebelum zaman modern, hehe)

Definisi pastinya
saya tak tahu. Tapi yang jelas, ciri-ciri utamanya adalah bahwa zaman
tersebut selalu mengikutsertakan sebuah domain ‘lebih tinggi’
dari manusia. Dari pohon ke gunung ke sungai ke roh leluhur ke dewa
ke Trinitas ke Yang Satu. Zaman beribu-ribu tahun yang diikuti
berjuta-juta manusia, yang kemudian ditampik dengan enaknya oleh para
manusia modern berbekal bahan bakar minyak dan pikiran reduksionistik
dengan dalil: ‘berhalusinasi’.  Beribu-ribu tahun dan
berjuta-juta manusia sebelum mereka: berhalusinasi.}

 

Dan ternyata, tidak enak hidup tanpa
Tuhan.

 

{Bukan artinya saya
hendak main menang-kalah dengan mengatakan, “Tuh kan.. kita yang
bener. Ngapain sih lo dulu ateis-ateisan?”

Bukan, bukan. Yang
saya bicarakan di sini tidak lebih dari legenda para ksatria Jedi.}

 

Jadi, George Lucas dan kawan-kawan tadi
hendak membawa kembali kekuatan yang lebih tinggi dari manusia, a.k.a
The Force, ke atas dunia, yang sebelumnya terkubur dalam-dalam di
bawah reruntuhan modernitas bernama The New Republic. Dan itulah juga
tepatnya yang dicari oleh Bob dan para backpacker lainnya di
India ini, yang konon menyimpan sejuta sejarah pre-modernitas.

 

Matahari Srinagar mulai tenggelam,
sinar jingganya membayang di atas air danau. Bebek-bebek yang damai
mengapung di depan kami.

The Four Noble Truths, by The
Buddha,”
Bob menggumam.

  1. Hidup itu penderitaan

  2. Penderitaan muncul dari dalam diri
    sendiri

  3. Ada jalan keluar dari penderitaan
    ini

  4. Delapan langkah untuk keluar dari
    penderitaan

 

Hidup penuh penderitaan yang dirujuk
sang Buddha di sini adalah hidup ala modernitas. Hidup sebelum
berserah diri kepada The Force.

{Tentunya gaya
hidup ini udah ada di zaman Buddha. Bukannya hidup tanpa berserah
diri ini salah satu fase dalam hidup manusia ya? Hanya saja pada
zaman modern semua itu terjadi secara global. (Jadi, penderitaannya
juga global..)}

 

Ada jalan keluar dari penderitaan ini.

Cerita berlanjut kepada ratusan ritual
religius yang semua didesain untuk mencapai ‘kedamaian pikiran’
itu. Surga!

To feel the Force..!

 

And well, that is how desperate the
30% British are..

 

 

(Bersambung.. bosen ah …:D)

One Response to “SIDDHARTHA DAN KSATRIA JEDI”

  1. DrAgOnO Says:

    asik jg yach, ngamatin sdikit interpretasi kmoe mengenai “catur ariya saccani” atawa “teh four noble truth” dlm lingkup monotonisme modernitas barat..

    tapi neng, klo mo pk namanya si buddha as the lecturer “the four noble truth”, dlm artikel ini [yg nyambung ntar..] kliatannya ada yg ‘mispersepsed’..

    buknny mo nge-judge bener-salah sih, kyk FPI dkk, tp ntar takutnya ada yg salah nangkep trus nganggepnya klo “the four noble truth” tuh segitu2nya.. at least, biar g salah kaprah, cantumin dech refrensinya..

    btw, buddhism tuh g ada sangkut2nya dech ama yoga or religi hindu laennya..

    trakhir, “catur ariya saccani” tuh:
    1. adanya penderitaan
    2. adanya penyebab
    3. adanya akhir
    4. adanya jalan mnuju akhir

    dhenk.. dhenk.. dhenk..
    segitu dulu aja dech neng..
    good post dech..
    tp ‘aing’ msh sanksi, neng nganggepnya buddhism tuh penyembahan berhala ato udh bukn.. hehehe..

    bye..

Leave a Reply