Archive for November, 2005

Zen Sing (travel story4)

Monday, November 21st, 2005

ZEN SING

            Ibrahim pun menghilang dari pandangan di depan restoran Kebab paling enak di Singapura. Saya lupa nama restoran itu, pokoknya yang ada di depan

Masjid Sultan di Arab St

.

Saya pun melanjutkan jalan-jalan sore. Masalahnya, tidak tahu kemana.

            Singapura ini negara kecil. Seminggu berjalan-jalan di sana sudah terasa begitu membosankan, karena rasanya semua yang ada di Singapura sudah kita lihat. Untungnya ada penyelamat dari kebosanan di negara ini: makanan.  Sehingga pantas jika sapaan paling umum yang ada di Singapura adalah: “Sudah makan?”

            Akhirnya, saya pun memutuskan untuk berjalan-jalan saja, kemana pun kaki melangkah. Dan suatu saat tibalah saya di suatu jalan yang rindang pepohonan. Tiba-tiba lewat seorang cewek Singapura yang sedang jojing sore, dengan headphone walkman di telinganya. Hmm.. sekonyong-konyong saya juga memutuskan untuk berlari.

            Lari memang olahraga kesenangan. Rasanya pikiran menjadi tertib dengan irama kaki yang konstan. Dan karena hirupan oksigen yang banyak, pikiran juga menjadi jernih. Jika Anda sedang bad mood, berlarilah saja.

            Langit berubah menjadi vanilla sky, merah jambu – biru muda – kuning emas. Langit begitu manis seperti lollipop untuk teman berlari seperti ini.

            Setiap ada belokan, saya belok. Setiap ada yang menarik, saya berhenti. Selebihnya lari, dikelilingi gedung-gedung tinggi dan aliran mobil.

            Sedang ada di mana dan hendak kemana, saya tidak tahu. Sangat menyenangkan berlari tanpa tujuan.

            Dunia layaknya taman bermain yang besar.

            Dan dengan pikiran yang tertib, setiap langkah kaki menjadi berharga.

           Setiap tempat dan saat adalah rumah.

            Dan tentu saja perasaan ‘hidup,’ karena lari-lari begini sedikit ‘gila.’

            Matahari semakin tenggelam, langit pun semakin berubah warna menjadi jingga tua. Saya pun tiba di suatu persimpangan yang mengharuskan saya memilih antara ke kiri dan ke kanan.

            Di kanan, ada jalanan sepi berwarna jingga akibat pantulan matahari sore pada dinding kaca gedung-gedungnya. Di kiri, ada daerah pertokoan yang dipenuhi mobil. Hiruk pikuk, tetapi lebih ‘terang’ – bagaimanapun.

            Saya pun akhirnya memutuskan untuk lari ke kiri.  Sedikit menyesal meninggalkan jalanan yang indah di belakang. Semakin saya mendekati daerah pertokoan itu, semakin jelas terdengar suara-suara yang riuh. Akhirnya saya menyadari bahwa suara-suara itu berasal dari ratusan burung yang sedang hinggap di sebuah pohon. Seakan sedang mengadakan pertemuan besar di sore hari. Terdapat sekitar lima pohon semacamnya, di jalanan sebelah kanan dari mana saya berada. 

            Jadi beloklah juga saya ke kanan, penasaran akan pohon-pohon tersebut. Setelah berhenti sejenak menikmati momen aneh itu, saya pun melanjutkan berjalan. Di jalan yang sama, saya berhenti setelah menemukan sebuah bangunan dengan tulisan besar “Zen” di atasnya.

            Ternyata bangunan tersebut adalah sebuah toko buku dan keramik – dikelola oleh Singapore Zen Buddhist Cultural Centre. Keramik-keramik jualannya berbentuk Buddha dan para Bodhisattva. Buku-buku jualannya buku-buku Zen, termasuk komik-komik Tsai Chih Chung yang lucu-lucu, versi aslinya.

            Setelah membuka-buka beberapa buku Zen yang indah, saya pun membawa pulang satu buku berjudul Buddhism: Plain and Simple, karya Steve Hagen – seorang pendeta Zen asal Amerika. Pada halaman-halaman pertama buku tersebut, terdapatlah bait-bait berikut:

            Suatu saat seorang petani mendatangi Sang Buddha, karena telah mendengar dari orang-orang bahwa sang Buddha adalah seorang guru besar nan bijaksana. Sang petani berharap pertemuannya dengan sang Guru dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dideritanya.

            Ia pun mulai menceritakan kehidupannya, “Saya seorang petani. Sawah saya selalu memberikan beras untuk dimakan maupun dijual. Tapi terkadang muncul juga musim kering, sehingga sawah saya tidak menghasilkan apa-apa.”

            “Saya memiliki seorang istri. Dia istri yang baik, dan saya mencintainya. Tetapi terkadang dia berbicara terlalu banyak dan saya pun lelah dibuatnya.”

            “Saya memiliki seorang anak laki-laki. Dia anak yang baik, tetapi terkadang….” Sang petani pun berlanjut menceritakan semua masalah dalam hidupnya. Di akhir cerita, sang petani meminta nasihat sang Buddha mengenai hal-hal itu.

            Di luar dugaan, sang Buddha berkata, “Saya tidak dapat membantu apa-apa mengenai masalah-masalahmu.”

“Manusia selalu dirundung masalah selama hidupnya. Selalu terdapat  83 masalah dalam hidup mereka. Boleh saja manusia mencoba menyelesaikan sebuah masalah, tetapi sesegera masalah itu selesai, masalah yang lain akan langsung muncul ke permukaan. Pada akhirnya, manusia pun harus menghadapi kematian dirinya dan orang-orang yang dicintainya. Semua ini, tidak terelakkan.”

            Mendengarnya, sang petani pun marah, “Kalau begitu apa baiknya ajaranmu?!!”

            Sang Buddha menjawab, “Mungkin saya dapat membantumu menyelesaikan masalah yang ke-84.”

            “Masalah yang ke-84?! Apa pula itu?” tanya sang petani.

            “Bahwa engkau ingin terbebas dari masalah-masalah.”

—-

Pulang ke asrama seorang teman di NUS, dengan bis, terasa sedikit mual. Kebenaran yang begitu sederhana terkadang terasa begitu ‘meruntuhkan’. 

Terasa bahwa selama ini perjalanan mencari jawab layaknya pelarian.  Bahwa masalah yang saya hadapi tidak pernah ‘benar,’ dan pasti selalu ada yang lebih baik di masa depan.

Denial.

Sewajarnya terjadi, tapi juga tidak pernah membuat hidup lebih memuaskan sedikit pun saja.

Terdapat sebuah frase Zen, “Sebelum pencerahan, gunung adalah gunung, dan sungai adalah sungai. Setelah pencerahan, gunung adalah gunung, dan sungai adalah sungai.” Yang ngaco perjalanan di antaranya. Tapi perjalanan itulah hidup di dunia. Dan pencarian berakhir ketika disadari bahwa dunia baik-baik saja.

Dan pencarian itu juga, maka, baik-baik saja.

Tuhan bersama mereka yang bersabar..

            

            

            

            

            

ODE TO SUMMER LOVE (travel story)

Monday, November 21st, 2005

ODE TO SUMMER LOVE

            Cinta – big theme for the youth.

            Dalam semua film Holly wood maupun Eropa, hal apa yang menjadi kesamaan? Orang-orang bisa jadi seperti pasangan Moulin Rouge. Bisa jadi para junkie di film Trainspotting. Boleh jadi punya dua kepribadian di Fight Club. Bisa jadi idiot. Siapapun mereka, mau jungkir balik bagaimanapun, ujung-ujungnya biasanya cinta. Cinta jadi penyelamat, hal yang paling agung. Mickey Knox, pembunuh natural di Natural Born Killer berkata bahwa cinta adalah satu-satunya surga bagi setan seperti dirinya.

            Apapun cinta bagi kawula muda di seluruh dunia, tidak ada yang tidak pernah nyemplung ke dalamnya.

            Satu pagi hari di Mahabodhi International Meditation Centre. Biaya 100 Rupee, sekitar 20.000 Rupiah, sudah termasuk makan pagi, siang, dan sore. Setelah selesai sarapan pagi, tiba-tiba datanglah seorang pemuda gundul dengan senyum yang sangat lebar. Dari pandangan pertama, saya menafsirkan orang ini hendak menjadi biksu betulan. Apalagi Pinja, seorang Finlandia yang juga sedang menyepi di sana, bilang bahwa pemuda yang satu itu tinggal menyepi di sebuah gubuk di bukit Milarepa.

            Setelah sarapan habis, saya pun keceplosan memulai percakapan dengan sang calon biksu, “How’s your breakfast?” Dengan nada yang ‘terlalu’ ramah. Dia juga sedikit heran dengan pertanyaan kikuk itu, “Fine..! Thanks for asking!” Dengan sedikit bla sana dan bla sini lagi, ternyata namanya adalah Kevin Brosnahan, dari Birmingham, Inggris. Lahir 22 Agustus 1975. Dipanggil Kev saja.

            Kev ternyata tidak di situ untuk menjadi biksu. Dia di situ hanya untuk meditasi. Pagi hari berikutnya sang pemimpin Mahabodhi, Venerable Sanghasena, menghampiri Kev dan bertanya kalau Kev sudah dekat Pencerahan. Saya bertanya bagaimana kita tahu kalau kita dekat dengan pencerahan? Kev bilang itu pertanyaan bagus. Dan tidak ada dari kita bertiga bisa menjawabnya.

Venerable Sanghasena bertanya jika saya mau bertanya-tanya kepada seorang biksu Burma yang kebetulan nginap di sana. Saya bilang, mungkin. Kev bertanya, “What IS your question?” Sayang mereka serahasia pertanyaan-pertanyaan yang diutarakan dalam hati di depan patung Buddha. Kev bilang, untuk mendapat jawaban yang benar, pertanyaan pun harus benar. Beberapa pertanyaan tidak akan membawa kita kemana-mana, contohnya seperti ceritanya tentang seorang pengendara yang motornya tiba-tiba ngadat.

Sang pengendara melihat ke kiri bawah, masih di atas motornya, untuk mengecek mesin. Tiba-tiba muncul pertanyaan aneh, “Jika saya melihat motor dari sisi sini, bagaimana saya tahu kalau sisi motor yang sebelah sana, dan dunia di belakangnya, benar-benar eksis?” “Jika saya melihat motor dari sini,” sang pengendara beralih ke sisi kanan, “bagaimana saya bisa tahu sisi kiri sana, benar-benar eksis? Mungkinkah mereka hanya eksis ketika saya melihatnya? Ketika ada seseorang yang melihatnya?” Sang pengendara terus menerus menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu, dan berakhir di rumah sakit jiwa. Beberapa pertanyaan, Kev bermaksud, tidak untuk dijawab secara ya atau tidak – secara dualitas. Pertanyaan itu sendiri pun secara intrinsik merupakan pisau analisis, selalu membelah hal-hal menjadi dua – ini atau itu. Sehingga beberapa pertanyaan pun runtuh jika harus menghadapi hal-hal yang bukan ya-atau-tidak.

Kev pun lalu terus menyerocos tentang sebuah buku yang ada di tangannya. Bahwa buku itu menjadi ‘buku’ karena ada hal-hal di sekelilingnya yang ‘bukan buku’. Dan karena itu bahwa buku dan kita semua tidak terpisah. Tentang mechanic-romantic-Ultimate Reality. Entahlah, saya juga tidak terlalu mengerti apa yang dibicarakannya..

Kev punya biksu lain untuk konsultasi. Seorang biksu asal Yugoslavia bernama Chakupala. Setiap biksu yang satu ini lewat, Kev dan saya berhenti untuk menikmati. Pemandangan kepalanya yang tertunduk, langkah-langkah kakinya yang sunyi, dan Kekosongan yang diciptakannya ke sekeliling. Kev bilang suatu hari dia pernah bermeditasi di gubuknya. Dan pertama kali dalam sepuluh tahun, Kev meledak dalam kemarahan. Dia membanting pintu dan menendang barang-barang di sekitarnya, dan dia tidak tahu mengapa dia merasa begitu marah. Kev  menceritakan ini ke Chakupala, dan sang biksu tertawa keras terbahak-bahak. Chakupala bilang kalau orang meditasi memang mudah untuk marah. Meditasi ibarat menerobos terus ke dalam lapisan-lapisan diri, dan kotoran-kotoran batin yang terperangkap terkadang termuntah keluar. Teruskan saja bermeditasi, biarkan semua kotoran termuntah keluar.

Di sebuah restoran lassi (sejenis yoghurt) di Leh, Kev pun menceritakan kisah mengenai Milarepa. Seorang biksu besar Tibet yang dahulunya seorang pembunuh besar berilmu hitam. Lelah dengan penyesalan, Milarepa pun datang ke seorang Guru Besar untuk menjadi muridnya. Sebagai syaratnya menjadi murid, sang Guru memerintah Milarepa untuk membangun sebuah biara, sendirian, di puncak sebuah bukit. Susah payah, akhirnya biara tersebut selesai juga. Sang Guru melihat, dan dengan dingin berkata bahwa biara tersebut tidak sesuai dengan permintaannya. Ia menyuruh Milarepa membangun biara lain di tempat-tempat yang tidak kalah sulitnya, lagi-lagi sendirian. Sang Guru tidak juga puas dengan biara Milarepa. Terus begitu hingga 14 biara (kalau tidak salah) pun terbangun. Setelah biara terakhir juga ditolak sang Guru, Milarepa dilanda putus asa yang mendalam, “Apanya yang salah…?” Sang Guru tetap tidak menjawab. Akhirnya, setelah berada dalam ketidakberdayaan total, Milarepa pun menjadi muridnya, dan mencapai pencerahan. 

Suatu saat berjalan di pinggir sungai kecil di Leh, saya bertanya jika dia percaya Tuhan. Kev bilang Tuhan ada di dalam hati. Hmm.. itu mengingatkan saya pada sebuah puisi Rumi. Kev bilang itu kepercayaan yang tidak lazim bagi orang-orang Islam. Dia ingat suatu saat bertemu dengan seorang kakek bersorban yang tiba-tiba menanyakan hal yang sama. Jawaban Kev pun sama, dan sang kakek tua berteriak-teriak keras sekali, “Tuhan ada di atas sana!!!”

Kev berjalan di sepanjang Leh, dan para pedagang, hampir semua pedagang, mengenal dan menyapanya. Kev menikmati ini semua dan berkata “Assalamualaikum!” kepada setiap pedagang yang Muslim. “Waalaikumsalam!” jawab mereka, dan saya menanyakan jika ia tahu apa artinya Assalamualaikum. Dia bilang itu “Halo” nya orang Islam. Saya bilang artinya “Semoga Kedamaian tercurah padamu.” Kev bilang itu menarik sekali, karena orang-orang Islam yang dia kenal di Birmingham biasanya tidak damai.

Kev datang ke India juga untuk mencari seorang Guru. Dan tampaknya dia sudah menemukan tempat sang Guru berada. Dia bilang Guru sejati adalah Dirimu yang terdalam. Para guru luar adalah mereka yang membiarkan Diri terdalam mereka bersinar keluar.

Kev tidak terlalu tampan (sih), setidaknya bagi saya, tapi entah bagaimana dia ‘berkilau.’ Bukan karena kulit pucatnya atau jubah biksu yang dipakainya menjadi ‘rok.’ Kev selalu tersenyum, dan agak ‘transparan.’ Cantik sekali..

Kev berkata, kapanpun dia down dia menonton The Matrix sebagai penyemangat. Kev senang mendengarkan azan. Kev tidak tahu David Beckham pindah ke Real

Madrid

. Kev memeluk para pengemis kecil di jalanan dan menawari mereka minuman dari gelasnya. Kev bilang dia menangis ketika menonton film Gandhi. Kev mampu membuat suasana bak di dalam novel Celestine Prophecy. Jika sedang bercerita, wajah Kev sesaat tertekuk dan sesaat kemudian menyeringai. Kev juga senang Kula Shaker dan lagu favoritenya Into The Deep. Kev bilang dia orang yang naïf.

Kev begini. Kev begitu.

Saat di Delhi seorang pembaca telapak tangan berkata saya akan jatuh cinta di India.

Dan saya senang Kev tidak akan jadi biksu.

Tapi Kev juga kemudian melihat-lihat sebuah toko pakaian, jikalau ada sesuatu yang menarik untuk pacarnya. Kev pun mustahil sekali lagi.

Cinta – big problem for the youth.

Suatu malam setelah berlari-lari di seluruh penjuru pusat

kota

Leh – mencari televisi untuk menonton konser Ravi Shankar – Kev pun mengajak saya pergi ke sebuah bar untuk  just sit and talk.’ Di jalan dengan senternya sebagai sumber penerangan satu-satunya, saya pun bertanya kepadanya tentang “cinta.” Cinta, apalagi jika mematahkan hati, selalu menyita seluruh perhatian. Benarkah cinta sebuah penghalang dalam spiritual path?

Sampai di bar dan memesan makanan, Kev bilang cinta adalah penghalang hanya jika dilakukan secara egois. Cinta bisa menjadi spiritual training. Dia pun berkata bahwa biasanya kita mencintai seseorang karena memiliki semacam blue print dalam kepala kita mengenai orang-orang yang ingin kita cintai. Jadi, sebetulnya semuanya ada di dalam pikiran. You love somebody because you are somebody. Sehingga sebetulnya, kita bisa jatuh cinta pada siapapun, jika kita mau merelakan apa yang ada di dalam kepala kita.

Dia yang mematahkan hati, dia pula yang menyembuhkan. Saya pun merasa agak cheer up karena menyadari bahwa semuanya ada di tangan saya. If you want to love everybody, be nobody. Just like Mohammad,” dia bilang.

Malam itu langit bertabur bintang tanpa bulan. Lebih banyak bintang dari kota manapun karena letak Leh yang tinggi di pegunungan Himalaya. Senternya lagi-lagi mengiringi langkah kami pulang ke Dorje Guest House.

Malam itu pula saya akan meninggalkan Leh, sehingga momen-momen saat itu layaknya gap dalam aliran sebuah cerita. Indah karena akan berakhir dan masing-masing akan kembali ke kehidupan ‘normal’nya.

Hal-hal terindah pun datang dan pergi..

Diantar naik motor ke terminal bis oleh sang pemilik Guest House yang baik hati, seluruh kota Leh padam lampu hingga suasana menjadi gelap gulita. Tiga hari berkawan dengan Kev, serasa bertahun-tahun lamanya. Pergi juga bermuram durja seperti padam lampu.

That’s easy.” pesan Kev yang terakhir. “Apa?” saya bertanya. “Attachment.. Remember, don’t get attached..!” Dan dia pun menyatukan kedua tangannya dan menunduk hormat memberi salam perpisahan, tidak lupa dengan senyum ekstra-lebarnya.

Dengan begitu, saya pun melanjutkan perjalanan..

 

             Nubra_1

Backpackers

Wednesday, November 16th, 2005

Para_backpackers_di_koh_pangan_thailand

Bayangkan Anda akan bepergian ke sebuah daerah di Asia, Amerika Selatan, atau negara-negara nomor tiga lainnya. Panas, kotor, semrawutan, tetapi begitu seru hingga rasanya terus ingin berjelajah. Apa yang akan Anda bawa dari rumah untuk menyimpan pakaian-pakaian Anda? Akankah Anda membawa koper Louis Vuitton untuk turun dari bajaj Delhi dan masuk bis yang tampaknya hampir kolaps?
Jawaban kepraktisan atas masalah ini adalah sebuah tas gunung, ransel, backpack. Beratus-ratus wisatawan mulai menjamah daerah-daerah eksotis dengan sebuah backpack  di pundaknya - dan istilah inipun muncul ke dunia: backpackers.
Terdapat banyak macam backpackers: traveler, pendaki gunung, hingga anak-anak SD yang pergi menuntut ilmu pun adalah backpackers - jika taat kepada makna literalnya. Tetapi di sini istilah tersebut saya persempit menjadi mereka yang melakukan perjalanan horizontal, alias traveling. Mereka yang kepada siapa buku-buku panduan, seperti Lonely Planet atau Fodor’s, ditujukan.  Mereka  yang sebagian besar pelakunya, aneh bin ajaib, adalah para penghuni negara maju.
Tidak jelas kapan komunitas ini resmi berdiri. Ada yang bilang mereka terlihat ramai selepas Perang Dunia Kedua. Ketika sarana transportasi semakin efektif dan berharga terjangkau, ditambah media informasi yang membuat dunia ini semakin sempit dan membuat perasaan bepergian tidak seperti hendak pergi ke ujung bumi yang datar. Atau juga karena semangat persatuan akibat kapok perang besar-besaran. Yang jelas Anda tidak akan kuat menjadi seorang backpacker jika Anda seorang rasis.

Bosan Hidup Senang
Saya punya seorang teman yang hidupnya penuh perjuangan. Penuh derita, penuh kesedihan -  tetapi anehnya, begitu penuh kehidupan. Hidup yang sulit memberikannya sebuah tujuan - mengakhirinya (penderitaan, maksudnya, bukan hidupnya). Dan setiap keberhasilan kecil yang ia terima tampak begitu memuaskan dan penuh arti. Terkadang saya pun iri dibuatnya. Bagaimana dengan mereka anak-anak muda yang hidupnya sangat berkecukupan di Amerika, Eropa, atau Jepang? Para backpackers? Hidup diNew York, Tokyo, atau Paris dengan segala macam kemudahan: fast food, perabotan Ikea, kereta Underground, televisi 500 channel, dan alam serta budayanya sendiri yang tidak kalah indah. Mengapa mereka datang susah-susah ke Asia?
Ketika saya bertemu seorang dari mereka yang berkata bahwa ia jarang melihat traveler Indonesia di India, saya pun berkata bahwa biasanya kita pergi berlibur ke Eropa atau Amerika. Orang-orang Islamnya pergi ke Mekah, dan orang-orang Chinesenya pergi ke Cina. Dia tanya, “What the hell are they doing in Europe and US?” Saya tanya balik, “Apa,” - tanpa the hell - “yang dia cari di Asia?” Dia bilang, “Well, kenyamanan yang didapat tanpa susah payah itu depresif, soft hell; apalagi jika hidup, cepat atau lambat, terasa hambar dan saat itu kita tidak tahu apa yang kurang - karena memang tidak ada yang kurang di Eropa atau Amerika.” Mungkin dengan kata lain, untuk merasa ‘hidup’ terkadang kita harus serempet-serempet kematian. “Beberapa pergi surfing, balap mobil, mendaki sisi utara Eiger, pergi ke India, apapun untuk merasa hidup. Dan ada kepuasan tersendiri dengan hidup sederhana, rasanya dirimu bukan barang-barang di sekelilingmu.”
Saya bilang kalau hidup di Asia itu susah dan amburadul, hard hell; jadi wajar kalau kita-kita pergi ke Eropa atau Amrik untuk kenyamanan atau keteraturan. (Walaupun saya pribadi bilang kalau London itu membosankan jika dibandingkan Delhi) Dan tentu saja: gengsi, pergi ke sana itu mahal lho..! Yah, mungkin rumput tetangga memang selalu lebih hijau.. 

Youth Culture
We are MTV generation! Anak-anak muda krisis teladan. Televisi, musik, dan film adalah mentor kami. Agama sudah kehilangan taring dalam masyarakat sejak berabad-abad lalu Galileo cekcok dengan gereja, tentang siapa mengorbit siapa, dan Galileo masih terbukti benar hingga sekarang. Warisan baik dan benar pun sudah rancu jika yang tua melakukan yang salah, dan tetap meng-klaim diri sebagai yang benar, sehingga lebih baik menjadi ‘salah’ daripada munafik. Tidak ada yang bisa dipercaya sehingga jawaban-jawaban harus dicari sendiri. Dan jalan yang efektif untuk itu adalah mula-mula berada jauh dari rumah, setidaknya untuk ‘menetralisir’ pengaruh..
Beberapa yang berjiwa persatuan pun kemudian mengunjungi desa-desa di pelosok, membaur dengan penduduk sekitar mencari perbedaan dan menyebarkan semangat ‘unity in difference.’  “Y’know, orang-orang tua kami mengebom kalian, dan teroris-teroris kalian pun mengebom balik, tetapi kami berbeda dengan orang-orang tua kami sehingga sudah saatnya menjalin hubungan baru.” Penduduk asli boleh jadi tidak mengerti kegundahan mereka, tetapi penghasilan yang didapat dari kegiatan pariwisata pun tidak sedikit. “Travelers are scum of the earth!”, menurut sebuah istilah. Tidak melakukan yang penting, atau tepatnya: tidak produktif. Istilah ini pun rasanya harus diedit.
Beberapa yang lain pergi mencari diri. Ke Tibet, India, atau Nepal. Konon, di sana agama-agama Timur berakar. Agama-agama di mana para pengikutnya hidup damai di gunung-gunung, dengan Tuhan ‘ala’ Jung atau Fisika Modern. Dengan fokus utama ke dalam diri, agama-agama tersebut terasa sungguh pas dengan keinginan mahasiswa-mahasiswa atau mereka yang mid-life crisis di usia 40, yang ingin tahu siapa dan ke mana mereka akan pergi. 

The Beach
Lieh Zi, seorang filsuf sezaman Confusius, berkata bahwa ada tiga macam perjalanan. Yang pertama adalah perjalanan untuk melihat-lihat dan mengagumi negara yang dikunjungi. Yang kedua adalah perjalanan untuk melihat perubahan yang telah terjadi. Dan yang ketiga adalah perjalanan untuk memperkaya diri. Bukan secara materiil, tentunya, melainkan spirituil, dan ini menjadikannya perjalanan “yang sempurna,”  setidaknya menurut beliau.
Tentang perjalanan melihat-lihat dan mengagumi, semua jenis paket tour ‘8 Days Amazing Europe’ atau ‘1 Week Beautiful America’ tentunya termasuk kategori ini. Bedanya, para backpackers melakukannya ke negara-negara yang lebih ‘seru’ - menurut mereka - dan independen dari jadwal dan guide. Bagaimanapun, tetap saja motivasinya sama: untuk melihat-lihat, bersenang-senang, dan berlibur ketika semua fasilitas di dunia telah tersedia untuk itu.
Perjalanan macam ini pun dikisahkan Alex Garland dalam novelnya The Beach, yang bercerita tentang sekumpulan pemuda-pemudi Amerika dan Eropa yang backpacking ke Thailand dalam pencarian sebuah pantai surga. Pantai ini tidak pernah terjamah manusia, aturan hidup pun sebebasnya, plus dekat dengan sebuah ladang ganja nan luas. Sehari-harinya para penghuni pantai itu layaknya pesta pora. Memang seperti itulah gambaran ideal bersenang-senang bagi para backpacker: penuh petualangan dan tantangan, mandiri dari ortu (hingga mendapat pasokan dana dari ortu merupakan sesuatu yang agak ‘hina’ dalam kode etik mereka), bebas dari sekolah, seharian bersama teman-teman, dan berpesta. Kurang lebih semua anak muda menyukai hal-hal itu, backpacking hanyalah versi spektakulernya.
Cerita The Beach terus berlanjut ketika, sewajarnya dalam hidup, hal-hal berjalan ‘salah.’ Dua orang anggota komunitas tergigit hiu ketika berenang di pantai, dan kelestarian pantai terancam dengan mulai berdatangannya turis-turis lain. Terpenjara oleh ide akan kesenangan dan kenyamanan, suara sang anggota komunitas yang mengeluh kesakitan pun menjadi pengganggu, sehingga akhirnya ia pun diungsikan sendirian di hutan agar mereka tidak usah mendengarnya lagi. Akhirnya, komunitas ini bubar lancar melihat segala sesuatunya berjalan terlalu jauh.

Semua perjalanan adalah sebuah usaha mencari ‘pantai surga,’ apapun bentuknya. “Surga mungkin bukanlah sebuah tempat, melainkan sebuah perasaan yang dapat terus kita pelihara, di manapun kita berada,”  ucap Alex Garland di akhir cerita. Tetapi mungkin memang kita harus berjalan dulu ke ujung dunia untuk menyadari bahwa pantai surga ada di belakang rumah kita.