Backpackers

Para_backpackers_di_koh_pangan_thailand

Bayangkan Anda akan bepergian ke sebuah daerah di Asia, Amerika Selatan, atau negara-negara nomor tiga lainnya. Panas, kotor, semrawutan, tetapi begitu seru hingga rasanya terus ingin berjelajah. Apa yang akan Anda bawa dari rumah untuk menyimpan pakaian-pakaian Anda? Akankah Anda membawa koper Louis Vuitton untuk turun dari bajaj Delhi dan masuk bis yang tampaknya hampir kolaps?
Jawaban kepraktisan atas masalah ini adalah sebuah tas gunung, ransel, backpack. Beratus-ratus wisatawan mulai menjamah daerah-daerah eksotis dengan sebuah backpack  di pundaknya - dan istilah inipun muncul ke dunia: backpackers.
Terdapat banyak macam backpackers: traveler, pendaki gunung, hingga anak-anak SD yang pergi menuntut ilmu pun adalah backpackers - jika taat kepada makna literalnya. Tetapi di sini istilah tersebut saya persempit menjadi mereka yang melakukan perjalanan horizontal, alias traveling. Mereka yang kepada siapa buku-buku panduan, seperti Lonely Planet atau Fodor’s, ditujukan.  Mereka  yang sebagian besar pelakunya, aneh bin ajaib, adalah para penghuni negara maju.
Tidak jelas kapan komunitas ini resmi berdiri. Ada yang bilang mereka terlihat ramai selepas Perang Dunia Kedua. Ketika sarana transportasi semakin efektif dan berharga terjangkau, ditambah media informasi yang membuat dunia ini semakin sempit dan membuat perasaan bepergian tidak seperti hendak pergi ke ujung bumi yang datar. Atau juga karena semangat persatuan akibat kapok perang besar-besaran. Yang jelas Anda tidak akan kuat menjadi seorang backpacker jika Anda seorang rasis.

Bosan Hidup Senang
Saya punya seorang teman yang hidupnya penuh perjuangan. Penuh derita, penuh kesedihan -  tetapi anehnya, begitu penuh kehidupan. Hidup yang sulit memberikannya sebuah tujuan - mengakhirinya (penderitaan, maksudnya, bukan hidupnya). Dan setiap keberhasilan kecil yang ia terima tampak begitu memuaskan dan penuh arti. Terkadang saya pun iri dibuatnya. Bagaimana dengan mereka anak-anak muda yang hidupnya sangat berkecukupan di Amerika, Eropa, atau Jepang? Para backpackers? Hidup diNew York, Tokyo, atau Paris dengan segala macam kemudahan: fast food, perabotan Ikea, kereta Underground, televisi 500 channel, dan alam serta budayanya sendiri yang tidak kalah indah. Mengapa mereka datang susah-susah ke Asia?
Ketika saya bertemu seorang dari mereka yang berkata bahwa ia jarang melihat traveler Indonesia di India, saya pun berkata bahwa biasanya kita pergi berlibur ke Eropa atau Amerika. Orang-orang Islamnya pergi ke Mekah, dan orang-orang Chinesenya pergi ke Cina. Dia tanya, “What the hell are they doing in Europe and US?” Saya tanya balik, “Apa,” - tanpa the hell - “yang dia cari di Asia?” Dia bilang, “Well, kenyamanan yang didapat tanpa susah payah itu depresif, soft hell; apalagi jika hidup, cepat atau lambat, terasa hambar dan saat itu kita tidak tahu apa yang kurang - karena memang tidak ada yang kurang di Eropa atau Amerika.” Mungkin dengan kata lain, untuk merasa ‘hidup’ terkadang kita harus serempet-serempet kematian. “Beberapa pergi surfing, balap mobil, mendaki sisi utara Eiger, pergi ke India, apapun untuk merasa hidup. Dan ada kepuasan tersendiri dengan hidup sederhana, rasanya dirimu bukan barang-barang di sekelilingmu.”
Saya bilang kalau hidup di Asia itu susah dan amburadul, hard hell; jadi wajar kalau kita-kita pergi ke Eropa atau Amrik untuk kenyamanan atau keteraturan. (Walaupun saya pribadi bilang kalau London itu membosankan jika dibandingkan Delhi) Dan tentu saja: gengsi, pergi ke sana itu mahal lho..! Yah, mungkin rumput tetangga memang selalu lebih hijau.. 

Youth Culture
We are MTV generation! Anak-anak muda krisis teladan. Televisi, musik, dan film adalah mentor kami. Agama sudah kehilangan taring dalam masyarakat sejak berabad-abad lalu Galileo cekcok dengan gereja, tentang siapa mengorbit siapa, dan Galileo masih terbukti benar hingga sekarang. Warisan baik dan benar pun sudah rancu jika yang tua melakukan yang salah, dan tetap meng-klaim diri sebagai yang benar, sehingga lebih baik menjadi ‘salah’ daripada munafik. Tidak ada yang bisa dipercaya sehingga jawaban-jawaban harus dicari sendiri. Dan jalan yang efektif untuk itu adalah mula-mula berada jauh dari rumah, setidaknya untuk ‘menetralisir’ pengaruh..
Beberapa yang berjiwa persatuan pun kemudian mengunjungi desa-desa di pelosok, membaur dengan penduduk sekitar mencari perbedaan dan menyebarkan semangat ‘unity in difference.’  “Y’know, orang-orang tua kami mengebom kalian, dan teroris-teroris kalian pun mengebom balik, tetapi kami berbeda dengan orang-orang tua kami sehingga sudah saatnya menjalin hubungan baru.” Penduduk asli boleh jadi tidak mengerti kegundahan mereka, tetapi penghasilan yang didapat dari kegiatan pariwisata pun tidak sedikit. “Travelers are scum of the earth!”, menurut sebuah istilah. Tidak melakukan yang penting, atau tepatnya: tidak produktif. Istilah ini pun rasanya harus diedit.
Beberapa yang lain pergi mencari diri. Ke Tibet, India, atau Nepal. Konon, di sana agama-agama Timur berakar. Agama-agama di mana para pengikutnya hidup damai di gunung-gunung, dengan Tuhan ‘ala’ Jung atau Fisika Modern. Dengan fokus utama ke dalam diri, agama-agama tersebut terasa sungguh pas dengan keinginan mahasiswa-mahasiswa atau mereka yang mid-life crisis di usia 40, yang ingin tahu siapa dan ke mana mereka akan pergi. 

The Beach
Lieh Zi, seorang filsuf sezaman Confusius, berkata bahwa ada tiga macam perjalanan. Yang pertama adalah perjalanan untuk melihat-lihat dan mengagumi negara yang dikunjungi. Yang kedua adalah perjalanan untuk melihat perubahan yang telah terjadi. Dan yang ketiga adalah perjalanan untuk memperkaya diri. Bukan secara materiil, tentunya, melainkan spirituil, dan ini menjadikannya perjalanan “yang sempurna,”  setidaknya menurut beliau.
Tentang perjalanan melihat-lihat dan mengagumi, semua jenis paket tour ‘8 Days Amazing Europe’ atau ‘1 Week Beautiful America’ tentunya termasuk kategori ini. Bedanya, para backpackers melakukannya ke negara-negara yang lebih ‘seru’ - menurut mereka - dan independen dari jadwal dan guide. Bagaimanapun, tetap saja motivasinya sama: untuk melihat-lihat, bersenang-senang, dan berlibur ketika semua fasilitas di dunia telah tersedia untuk itu.
Perjalanan macam ini pun dikisahkan Alex Garland dalam novelnya The Beach, yang bercerita tentang sekumpulan pemuda-pemudi Amerika dan Eropa yang backpacking ke Thailand dalam pencarian sebuah pantai surga. Pantai ini tidak pernah terjamah manusia, aturan hidup pun sebebasnya, plus dekat dengan sebuah ladang ganja nan luas. Sehari-harinya para penghuni pantai itu layaknya pesta pora. Memang seperti itulah gambaran ideal bersenang-senang bagi para backpacker: penuh petualangan dan tantangan, mandiri dari ortu (hingga mendapat pasokan dana dari ortu merupakan sesuatu yang agak ‘hina’ dalam kode etik mereka), bebas dari sekolah, seharian bersama teman-teman, dan berpesta. Kurang lebih semua anak muda menyukai hal-hal itu, backpacking hanyalah versi spektakulernya.
Cerita The Beach terus berlanjut ketika, sewajarnya dalam hidup, hal-hal berjalan ‘salah.’ Dua orang anggota komunitas tergigit hiu ketika berenang di pantai, dan kelestarian pantai terancam dengan mulai berdatangannya turis-turis lain. Terpenjara oleh ide akan kesenangan dan kenyamanan, suara sang anggota komunitas yang mengeluh kesakitan pun menjadi pengganggu, sehingga akhirnya ia pun diungsikan sendirian di hutan agar mereka tidak usah mendengarnya lagi. Akhirnya, komunitas ini bubar lancar melihat segala sesuatunya berjalan terlalu jauh.

Semua perjalanan adalah sebuah usaha mencari ‘pantai surga,’ apapun bentuknya. “Surga mungkin bukanlah sebuah tempat, melainkan sebuah perasaan yang dapat terus kita pelihara, di manapun kita berada,”  ucap Alex Garland di akhir cerita. Tetapi mungkin memang kita harus berjalan dulu ke ujung dunia untuk menyadari bahwa pantai surga ada di belakang rumah kita.

One Response to “Backpackers”

  1. DIAN Says:

    Marina salut banget dg tulisan2nya, sungguh nggak nyangka kamu bisa bikin sesuatu yang begitu inspirated, percayalah aku salah satu pengagum catatan2 perjalananmu….kenapa nggak di terbitin aja…..???? sayangkan kalo hanya sebatas orang tertentu saja yang bisa menikmati…kebetulan aku punya kenalan dari salah satu penerbit, mungkin tertarik untuk kerja sama….nanti aku usahakan…sekali lagi salut buat kamu….dan jangan pernah berhenti untuk terus berkarya dan membuat sesuatu yang baru……

Leave a Reply