ODE TO SUMMER LOVE (travel story)
ODE TO SUMMER LOVE
Cinta – big theme for the youth.
Dalam semua film Holly wood maupun Eropa, hal apa yang menjadi kesamaan? Orang-orang bisa jadi seperti pasangan Moulin Rouge. Bisa jadi para junkie di film Trainspotting. Boleh jadi punya dua kepribadian di Fight Club. Bisa jadi idiot. Siapapun mereka, mau jungkir balik bagaimanapun, ujung-ujungnya biasanya cinta. Cinta jadi penyelamat, hal yang paling agung. Mickey Knox, pembunuh natural di Natural Born Killer berkata bahwa cinta adalah satu-satunya surga bagi setan seperti dirinya.
Apapun cinta bagi kawula muda di seluruh dunia, tidak ada yang tidak pernah nyemplung ke dalamnya.
Satu pagi hari di Mahabodhi International Meditation Centre. Biaya 100 Rupee, sekitar 20.000 Rupiah, sudah termasuk makan pagi, siang, dan sore. Setelah selesai sarapan pagi, tiba-tiba datanglah seorang pemuda gundul dengan senyum yang sangat lebar. Dari pandangan pertama, saya menafsirkan orang ini hendak menjadi biksu betulan. Apalagi Pinja, seorang Finlandia yang juga sedang menyepi di sana, bilang bahwa pemuda yang satu itu tinggal menyepi di sebuah gubuk di bukit Milarepa.
Setelah sarapan habis, saya pun keceplosan memulai percakapan dengan sang calon biksu, “How’s your breakfast?” Dengan nada yang ‘terlalu’ ramah. Dia juga sedikit heran dengan pertanyaan kikuk itu, “Fine..! Thanks for asking!” Dengan sedikit bla sana dan bla sini lagi, ternyata namanya adalah Kevin Brosnahan, dari Birmingham, Inggris. Lahir 22 Agustus 1975. Dipanggil Kev saja.
Kev ternyata tidak di situ untuk menjadi biksu. Dia di situ hanya untuk meditasi. Pagi hari berikutnya sang pemimpin Mahabodhi, Venerable Sanghasena, menghampiri Kev dan bertanya kalau Kev sudah dekat Pencerahan. Saya bertanya bagaimana kita tahu kalau kita dekat dengan pencerahan? Kev bilang itu pertanyaan bagus. Dan tidak ada dari kita bertiga bisa menjawabnya.
Venerable Sanghasena bertanya jika saya mau bertanya-tanya kepada seorang biksu Burma yang kebetulan nginap di sana. Saya bilang, mungkin. Kev bertanya, “What IS your question?” Sayang mereka serahasia pertanyaan-pertanyaan yang diutarakan dalam hati di depan patung Buddha. Kev bilang, untuk mendapat jawaban yang benar, pertanyaan pun harus benar. Beberapa pertanyaan tidak akan membawa kita kemana-mana, contohnya seperti ceritanya tentang seorang pengendara yang motornya tiba-tiba ngadat.
Sang pengendara melihat ke kiri bawah, masih di atas motornya, untuk mengecek mesin. Tiba-tiba muncul pertanyaan aneh, “Jika saya melihat motor dari sisi sini, bagaimana saya tahu kalau sisi motor yang sebelah sana, dan dunia di belakangnya, benar-benar eksis?” “Jika saya melihat motor dari sini,” sang pengendara beralih ke sisi kanan, “bagaimana saya bisa tahu sisi kiri sana, benar-benar eksis? Mungkinkah mereka hanya eksis ketika saya melihatnya? Ketika ada seseorang yang melihatnya?” Sang pengendara terus menerus menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu, dan berakhir di rumah sakit jiwa. Beberapa pertanyaan, Kev bermaksud, tidak untuk dijawab secara ya atau tidak – secara dualitas. Pertanyaan itu sendiri pun secara intrinsik merupakan pisau analisis, selalu membelah hal-hal menjadi dua – ini atau itu. Sehingga beberapa pertanyaan pun runtuh jika harus menghadapi hal-hal yang bukan ya-atau-tidak.
Kev pun lalu terus menyerocos tentang sebuah buku yang ada di tangannya. Bahwa buku itu menjadi ‘buku’ karena ada hal-hal di sekelilingnya yang ‘bukan buku’. Dan karena itu bahwa buku dan kita semua tidak terpisah. Tentang mechanic-romantic-Ultimate Reality. Entahlah, saya juga tidak terlalu mengerti apa yang dibicarakannya..
Kev punya biksu lain untuk konsultasi. Seorang biksu asal Yugoslavia bernama Chakupala. Setiap biksu yang satu ini lewat, Kev dan saya berhenti untuk menikmati. Pemandangan kepalanya yang tertunduk, langkah-langkah kakinya yang sunyi, dan Kekosongan yang diciptakannya ke sekeliling. Kev bilang suatu hari dia pernah bermeditasi di gubuknya. Dan pertama kali dalam sepuluh tahun, Kev meledak dalam kemarahan. Dia membanting pintu dan menendang barang-barang di sekitarnya, dan dia tidak tahu mengapa dia merasa begitu marah. Kev menceritakan ini ke Chakupala, dan sang biksu tertawa keras terbahak-bahak. Chakupala bilang kalau orang meditasi memang mudah untuk marah. Meditasi ibarat menerobos terus ke dalam lapisan-lapisan diri, dan kotoran-kotoran batin yang terperangkap terkadang termuntah keluar. Teruskan saja bermeditasi, biarkan semua kotoran termuntah keluar.
Di sebuah restoran lassi (sejenis yoghurt) di Leh, Kev pun menceritakan kisah mengenai Milarepa. Seorang biksu besar Tibet yang dahulunya seorang pembunuh besar berilmu hitam. Lelah dengan penyesalan, Milarepa pun datang ke seorang Guru Besar untuk menjadi muridnya. Sebagai syaratnya menjadi murid, sang Guru memerintah Milarepa untuk membangun sebuah biara, sendirian, di puncak sebuah bukit. Susah payah, akhirnya biara tersebut selesai juga. Sang Guru melihat, dan dengan dingin berkata bahwa biara tersebut tidak sesuai dengan permintaannya. Ia menyuruh Milarepa membangun biara lain di tempat-tempat yang tidak kalah sulitnya, lagi-lagi sendirian. Sang Guru tidak juga puas dengan biara Milarepa. Terus begitu hingga 14 biara (kalau tidak salah) pun terbangun. Setelah biara terakhir juga ditolak sang Guru, Milarepa dilanda putus asa yang mendalam, “Apanya yang salah…?” Sang Guru tetap tidak menjawab. Akhirnya, setelah berada dalam ketidakberdayaan total, Milarepa pun menjadi muridnya, dan mencapai pencerahan.
Suatu saat berjalan di pinggir sungai kecil di Leh, saya bertanya jika dia percaya Tuhan. Kev bilang Tuhan ada di dalam hati. Hmm.. itu mengingatkan saya pada sebuah puisi Rumi. Kev bilang itu kepercayaan yang tidak lazim bagi orang-orang Islam. Dia ingat suatu saat bertemu dengan seorang kakek bersorban yang tiba-tiba menanyakan hal yang sama. Jawaban Kev pun sama, dan sang kakek tua berteriak-teriak keras sekali, “Tuhan ada di atas sana!!!”
Kev berjalan di sepanjang Leh, dan para pedagang, hampir semua pedagang, mengenal dan menyapanya. Kev menikmati ini semua dan berkata “Assalamualaikum!” kepada setiap pedagang yang Muslim. “Waalaikumsalam!” jawab mereka, dan saya menanyakan jika ia tahu apa artinya Assalamualaikum. Dia bilang itu “Halo” nya orang Islam. Saya bilang artinya “Semoga Kedamaian tercurah padamu.” Kev bilang itu menarik sekali, karena orang-orang Islam yang dia kenal di Birmingham biasanya tidak damai.
Kev datang ke India juga untuk mencari seorang Guru. Dan tampaknya dia sudah menemukan tempat sang Guru berada. Dia bilang Guru sejati adalah Dirimu yang terdalam. Para guru luar adalah mereka yang membiarkan Diri terdalam mereka bersinar keluar.
Kev tidak terlalu tampan (sih), setidaknya bagi saya, tapi entah bagaimana dia ‘berkilau.’ Bukan karena kulit pucatnya atau jubah biksu yang dipakainya menjadi ‘rok.’ Kev selalu tersenyum, dan agak ‘transparan.’ Cantik sekali..
Kev berkata, kapanpun dia down dia menonton The Matrix sebagai penyemangat. Kev senang mendengarkan azan. Kev tidak tahu David Beckham pindah ke Real
Madrid . Kev memeluk para pengemis kecil di jalanan dan menawari mereka minuman dari gelasnya. Kev bilang dia menangis ketika menonton film Gandhi. Kev mampu membuat suasana bak di dalam novel Celestine Prophecy. Jika sedang bercerita, wajah Kev sesaat tertekuk dan sesaat kemudian menyeringai. Kev juga senang Kula Shaker dan lagu favoritenya Into The Deep. Kev bilang dia orang yang naïf.
Kev begini. Kev begitu.
Saat di Delhi seorang pembaca telapak tangan berkata saya akan jatuh cinta di India.
Dan saya senang Kev tidak akan jadi biksu.
Tapi Kev juga kemudian melihat-lihat sebuah toko pakaian, jikalau ada sesuatu yang menarik untuk pacarnya. Kev pun mustahil sekali lagi.
Cinta – big problem for the youth.
Suatu malam setelah berlari-lari di seluruh penjuru pusat
kota Leh – mencari televisi untuk menonton konser Ravi Shankar – Kev pun mengajak saya pergi ke sebuah bar untuk ‘just sit and talk.’ Di jalan dengan senternya sebagai sumber penerangan satu-satunya, saya pun bertanya kepadanya tentang “cinta.” Cinta, apalagi jika mematahkan hati, selalu menyita seluruh perhatian. Benarkah cinta sebuah penghalang dalam spiritual path?
Sampai di bar dan memesan makanan, Kev bilang cinta adalah penghalang hanya jika dilakukan secara egois. Cinta bisa menjadi spiritual training. Dia pun berkata bahwa biasanya kita mencintai seseorang karena memiliki semacam blue print dalam kepala kita mengenai orang-orang yang ingin kita cintai. Jadi, sebetulnya semuanya ada di dalam pikiran. You love somebody because you are somebody. Sehingga sebetulnya, kita bisa jatuh cinta pada siapapun, jika kita mau merelakan apa yang ada di dalam kepala kita.
Dia yang mematahkan hati, dia pula yang menyembuhkan. Saya pun merasa agak cheer up karena menyadari bahwa semuanya ada di tangan saya. If you want to love everybody, be nobody. “Just like Mohammad,” dia bilang.
Malam itu langit bertabur bintang tanpa bulan. Lebih banyak bintang dari kota manapun karena letak Leh yang tinggi di pegunungan Himalaya. Senternya lagi-lagi mengiringi langkah kami pulang ke Dorje Guest House.
Malam itu pula saya akan meninggalkan Leh, sehingga momen-momen saat itu layaknya gap dalam aliran sebuah cerita. Indah karena akan berakhir dan masing-masing akan kembali ke kehidupan ‘normal’nya.
Hal-hal terindah pun datang dan pergi..
Diantar naik motor ke terminal bis oleh sang pemilik Guest House yang baik hati, seluruh kota Leh padam lampu hingga suasana menjadi gelap gulita. Tiga hari berkawan dengan Kev, serasa bertahun-tahun lamanya. Pergi juga bermuram durja seperti padam lampu.
“That’s easy.” pesan Kev yang terakhir. “Apa?” saya bertanya. “Attachment.. Remember, don’t get attached..!” Dan dia pun menyatukan kedua tangannya dan menunduk hormat memberi salam perpisahan, tidak lupa dengan senyum ekstra-lebarnya.
Dengan begitu, saya pun melanjutkan perjalanan..
November 25th, 2005 at 6:06 pm
Name = Being..
April 19th, 2006 at 10:10 pm
Ipi.. jadi ini rupanya si pembuat jatuh hati Ipi.. sabar y sayaang..kadang kita jatuh cinta dg org2 spt ini..tapi kt sendiri ternyt seakan2 hanya orang biasa bg dirinya..terkdg cinta butuh waktu utk pembuktian.utk manusia2 papa spt kita yg sering lara di dalam hati,kt membutuhkan org2 lembut spt ini..tp trkdg yg nyata di dpn mata kita lah yg akan membawa kebahagiaan bt kita,krn dia real.sedangkan manusia2 lembut ini hanya ada di batas angan2..sgt sulit utk menjangkaunya.pandai2 lah membawa diri dan hati adikku.sesungguhnya Allah telah menciptakan seseorg yg akan baik utk kita dunia akhirat.jadi bersabarlah..trkdg buruk di mata kita, sesungguhnya baik utk kehidupan kita ke depannya,juga utk akhirat kita nanti..
dari teh tanti yg selalu sayang sm Ipi..