Zen Sing (travel story4)

ZEN SING

            Ibrahim pun menghilang dari pandangan di depan restoran Kebab paling enak di Singapura. Saya lupa nama restoran itu, pokoknya yang ada di depan

Masjid Sultan di Arab St

.

Saya pun melanjutkan jalan-jalan sore. Masalahnya, tidak tahu kemana.

            Singapura ini negara kecil. Seminggu berjalan-jalan di sana sudah terasa begitu membosankan, karena rasanya semua yang ada di Singapura sudah kita lihat. Untungnya ada penyelamat dari kebosanan di negara ini: makanan.  Sehingga pantas jika sapaan paling umum yang ada di Singapura adalah: “Sudah makan?”

            Akhirnya, saya pun memutuskan untuk berjalan-jalan saja, kemana pun kaki melangkah. Dan suatu saat tibalah saya di suatu jalan yang rindang pepohonan. Tiba-tiba lewat seorang cewek Singapura yang sedang jojing sore, dengan headphone walkman di telinganya. Hmm.. sekonyong-konyong saya juga memutuskan untuk berlari.

            Lari memang olahraga kesenangan. Rasanya pikiran menjadi tertib dengan irama kaki yang konstan. Dan karena hirupan oksigen yang banyak, pikiran juga menjadi jernih. Jika Anda sedang bad mood, berlarilah saja.

            Langit berubah menjadi vanilla sky, merah jambu – biru muda – kuning emas. Langit begitu manis seperti lollipop untuk teman berlari seperti ini.

            Setiap ada belokan, saya belok. Setiap ada yang menarik, saya berhenti. Selebihnya lari, dikelilingi gedung-gedung tinggi dan aliran mobil.

            Sedang ada di mana dan hendak kemana, saya tidak tahu. Sangat menyenangkan berlari tanpa tujuan.

            Dunia layaknya taman bermain yang besar.

            Dan dengan pikiran yang tertib, setiap langkah kaki menjadi berharga.

           Setiap tempat dan saat adalah rumah.

            Dan tentu saja perasaan ‘hidup,’ karena lari-lari begini sedikit ‘gila.’

            Matahari semakin tenggelam, langit pun semakin berubah warna menjadi jingga tua. Saya pun tiba di suatu persimpangan yang mengharuskan saya memilih antara ke kiri dan ke kanan.

            Di kanan, ada jalanan sepi berwarna jingga akibat pantulan matahari sore pada dinding kaca gedung-gedungnya. Di kiri, ada daerah pertokoan yang dipenuhi mobil. Hiruk pikuk, tetapi lebih ‘terang’ – bagaimanapun.

            Saya pun akhirnya memutuskan untuk lari ke kiri.  Sedikit menyesal meninggalkan jalanan yang indah di belakang. Semakin saya mendekati daerah pertokoan itu, semakin jelas terdengar suara-suara yang riuh. Akhirnya saya menyadari bahwa suara-suara itu berasal dari ratusan burung yang sedang hinggap di sebuah pohon. Seakan sedang mengadakan pertemuan besar di sore hari. Terdapat sekitar lima pohon semacamnya, di jalanan sebelah kanan dari mana saya berada. 

            Jadi beloklah juga saya ke kanan, penasaran akan pohon-pohon tersebut. Setelah berhenti sejenak menikmati momen aneh itu, saya pun melanjutkan berjalan. Di jalan yang sama, saya berhenti setelah menemukan sebuah bangunan dengan tulisan besar “Zen” di atasnya.

            Ternyata bangunan tersebut adalah sebuah toko buku dan keramik – dikelola oleh Singapore Zen Buddhist Cultural Centre. Keramik-keramik jualannya berbentuk Buddha dan para Bodhisattva. Buku-buku jualannya buku-buku Zen, termasuk komik-komik Tsai Chih Chung yang lucu-lucu, versi aslinya.

            Setelah membuka-buka beberapa buku Zen yang indah, saya pun membawa pulang satu buku berjudul Buddhism: Plain and Simple, karya Steve Hagen – seorang pendeta Zen asal Amerika. Pada halaman-halaman pertama buku tersebut, terdapatlah bait-bait berikut:

            Suatu saat seorang petani mendatangi Sang Buddha, karena telah mendengar dari orang-orang bahwa sang Buddha adalah seorang guru besar nan bijaksana. Sang petani berharap pertemuannya dengan sang Guru dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dideritanya.

            Ia pun mulai menceritakan kehidupannya, “Saya seorang petani. Sawah saya selalu memberikan beras untuk dimakan maupun dijual. Tapi terkadang muncul juga musim kering, sehingga sawah saya tidak menghasilkan apa-apa.”

            “Saya memiliki seorang istri. Dia istri yang baik, dan saya mencintainya. Tetapi terkadang dia berbicara terlalu banyak dan saya pun lelah dibuatnya.”

            “Saya memiliki seorang anak laki-laki. Dia anak yang baik, tetapi terkadang….” Sang petani pun berlanjut menceritakan semua masalah dalam hidupnya. Di akhir cerita, sang petani meminta nasihat sang Buddha mengenai hal-hal itu.

            Di luar dugaan, sang Buddha berkata, “Saya tidak dapat membantu apa-apa mengenai masalah-masalahmu.”

“Manusia selalu dirundung masalah selama hidupnya. Selalu terdapat  83 masalah dalam hidup mereka. Boleh saja manusia mencoba menyelesaikan sebuah masalah, tetapi sesegera masalah itu selesai, masalah yang lain akan langsung muncul ke permukaan. Pada akhirnya, manusia pun harus menghadapi kematian dirinya dan orang-orang yang dicintainya. Semua ini, tidak terelakkan.”

            Mendengarnya, sang petani pun marah, “Kalau begitu apa baiknya ajaranmu?!!”

            Sang Buddha menjawab, “Mungkin saya dapat membantumu menyelesaikan masalah yang ke-84.”

            “Masalah yang ke-84?! Apa pula itu?” tanya sang petani.

            “Bahwa engkau ingin terbebas dari masalah-masalah.”

—-

Pulang ke asrama seorang teman di NUS, dengan bis, terasa sedikit mual. Kebenaran yang begitu sederhana terkadang terasa begitu ‘meruntuhkan’. 

Terasa bahwa selama ini perjalanan mencari jawab layaknya pelarian.  Bahwa masalah yang saya hadapi tidak pernah ‘benar,’ dan pasti selalu ada yang lebih baik di masa depan.

Denial.

Sewajarnya terjadi, tapi juga tidak pernah membuat hidup lebih memuaskan sedikit pun saja.

Terdapat sebuah frase Zen, “Sebelum pencerahan, gunung adalah gunung, dan sungai adalah sungai. Setelah pencerahan, gunung adalah gunung, dan sungai adalah sungai.” Yang ngaco perjalanan di antaranya. Tapi perjalanan itulah hidup di dunia. Dan pencarian berakhir ketika disadari bahwa dunia baik-baik saja.

Dan pencarian itu juga, maka, baik-baik saja.

Tuhan bersama mereka yang bersabar..

            

            

            

            

            

3 Responses to “Zen Sing (travel story4)”

  1. DrAgOnO Says:

    I am ‘Buddha’..

  2. Fahmi Says:

    Phewh, I’ll take this bit by bit

  3. KabayanSabaUSA Says:

    the last comment was for your entire blog jedi marina :)

Leave a Reply