Archive for June, 2006

Land of Ideas

Saturday, June 24th, 2006

Nathalie_139

12 Juni 2006, Berlin

Waktu aku sampai di Altes Museum pas tur keliling Berlin pake sepeda itu, matahari lagi bersinar terik2nya. Haus n laper, rehat lah aku di tangga2 di museum itu. (Bikin Energen, hehe..)

            Taman Lustgarden terbentang hijau di depanku. Anak2 muda Berlin nongkrong2 sun bathing. Banyak yang baca buku, ada yang ngegosip, ada yang ngelamun, dan seorang cowok lagi latihan ngelempar2 semacam bola merah untuk pertunjukan sirkus.

            Di sebelah kiriku, sebuah monumen yang unik berdiri. Tulisan E=MC2. Di sinilah Einstein menemukan teori paling tersohor itu. Seperti yang tertulis dalam keterangan dekat monumen itu, Jerman ini memang land of ideas. Seperti yang sedang terjadi di kepala2 anak muda di depanku ini yang sedang serius baca buku.

            E=MC2  

            Aku pun ikutan larut dalam land of ideas, ngelamun menghayati rumus itu. Suasana tiba2 menjadi begitu sepi..

            Yang kutahu, ia adalah rumus yang benar2 menjungkirbalikkan pandangan akan dunia. Dunia bukan lagi balok2 solid yang terpisah seperti sudut pandang Newton. Sebaliknya, segalanya seperti tarian energi, serba cair dan mengalir. Materi tidak lain adalah energi yang terpadatkan. Energi, E, adalah materi, M (yang dilajukan dalam kecepatan cahaya, C2). Materi, pada hakikatnya, adalah energi. Semuanya adalah aliran.

            Yang ada hanyalah aliran..

            Dan energi ini hanya berubah2 saja wujudnya. Tidak pernah terciptakan, tidak pernah hilang. Energi gesekan berubah jadi energi panas, kemudian jadi energi … terus jadi energi … kata guru Fisika SMP dulu. Tapi energi sendiri ga pernah musnah. Karena totalitas energi harus tetap sama, maka energi2 kecil harus terus patuh terhadap keseluruhan energi.

            Karenanya, energi2 kecil itu harus membentuk satu kesatuan. Segala sesuatunya harus kompak, harus Satu..Related.

            And to say everything is related is to say everything is relative..

            Karenanyalah, kata Einstein, dunia ini sebetulnya relatif.

            Lamunanku kini jatuh pada si cowok yang sedang sirkus dengan bola merah di depan. Semuanya relatif. Dari posisi saya, si bola merah lah yang sedang bergerak2. Tapi kalau si bola merah yang dijadikan pivot, seluruh bumi inilah yang lagi bergerak2.

            Dan pada hakikatnya, tidak ada yang tahu siapa yang bergerak dan siapa yang diam..

            Bayangkan.. lamunanku terus bergulir, saya mengapung-apung di kehitaman langit. Bayangkan tidak ada bintang, planet, udara, tidak ada apapun. Hanya saya sendiri mengapung2 dalam kehitaman total. Lalu kemudian, tiba2, seseorang lain muncul di depanku. Dia terlihat mendekat. Tapi, sebetulnya, kita tidak bisa tahu, saya kah yang sedang mendekat ke dia, atau dia kah yang sedang mendekat ke saya. Tidak ada referensi untuk mengatakan itu. Tapi kemudian, muncul orang ketiga di samping kami yang terlihat diam. Relatif terhadap orang itu, ya, dapat dikatakan kini siapa mendekat ke siapa. Tapi, betulkah bahwa pada hakikatnya demikian? Jika si orang ketiga melihat orang kedualah yang bergerak mendekati saya, si orang kedua juga sah untuk mengatakan bahwa saya dan orang ketigalah yang bergerak2 bersamaan. Tidak ada yang tahu sebenarnya siapa yang bergerak, siapa yang diam.

            Begitulah juga keseluruhan alam ini bergerak2 dalam kekosongan hitam, tidak ada kebenaran mutlak. Saya katakan bola merah itu bergerak karena yang mengatakan adalah saya, yang sedang diam. Tapi diamnya saya juga relatif terhadap apa dulu?

            Begitulah sifat relativitas ruang. Dan kemudian, lahir juga ide Einstein yang lebih luar biasa lagi (setidaknya menurut saya): waktu adalah dimensi keempat. Ide yang luar biasa, tapi juga ide yang tidak dapat kurasakan hingga sekarang. Secara teori, ya, waktu adalah dimensi keempat dari ruang. Sehingga dapat dikatakan bahwa waktu itu juga tidak mutlak bergulir dari masa lalu hingga masa depan. Waktu dikatakan bergulir seperti itu karena yang dijadikan titik referensi adalah manusia yang ‘bergulir ke depan’ sejak lahir hingga mati. Dalam percobaan2 fisika modern sendiri, seringkali terlihat bahwa partikel2 tertentu baru ‘masuk akal untuk dimengerti’ jika dinyatakan dalam kerangka waktu mundur..

            Unbelievable, isnt it?

            Tapi aku masih tidak dapat memahaminya, lamunku berlanjut. Aku belum merasakannya. Terlalu jauh rasanya untuk berpikir Lustgarten di depan ini dan langit di atasnya berada dalam waktu yang relatif. Ayo… diriku mengharap sambaran ilham yang waktu itu sampai ke kepala Einstein dapat kurasakan juga di sini.

            Alih-alih, teringat sebuah kisah lain. Sebuah kisah dalam komik Zen, tentang master Zen Huineng. Sesaat sebelum penisbahannya sebagai seorang master Zen, Huineng datang ke sebuah lapangan di mana sedang ada khotbah keagamaan. Di antara murid2 yang ada di situ, ada yang nyeletuk, “Hey, lihat! Bendera bergerak!”

            Murid lain di situ menanggapi, “Goblok kamu! Yang bergerak angin, bukan bendera!” Dan kedua murid itu pun kemudian bertengkar, “Bendera!” “Angin!” “Bendera!” Angin!”

            Hingga kemudian, Huineng pun tiba2 bersuara, “Yang bergerak bukan bendera atau angin, melainkan pikiran..”

            Yang bergerak adalah pikiran.. yang bergerak adalah pikiran.. yang bergerak adalah pikiran.. ulang saya terus berharap sambaran pemahaman hinggap di kepala.

            Tapi tidak.. aku tetap tidak dapat merasakannya

            Lamunanku terhenti oleh sebuah suara yang familiar, tepat duduk di sebelahku. Seorang cewek Brazil.

            “Ya Tuhan.. Lea…?”

            Si cewek Brazil yang kutemui di rumah Daniel di Munich.

            Unbelievable. Kenapa kita selalu bertemu secara tidak sengaja? (Atau lebih tepatnya, kenapa saya harus selalu bertemu orang yang agak menyebalkan ini? hehe…)

            How come we always meet?” tanya saya melongo.

            Tapi Lea terlihat biasa2 saja, “Well, there is a saying that people always meet twice in Berlin. It’s a small city, you know?”

            Small city? I dont think so. Ini kota terbesar di Jerman gituh..

            Dan Lea pun berusaha pergi dari situ agak2 cepet. N dia kini udah gak ama Katarina, temennya berantem dulu di kereta. Hmm.. no wonder, pikir saya sebel.

            Coincidence or Destiny...

Apapun namanya, terasa begitu amazing.. Dan aku terus berusaha merasa2, di balik label bahwa ‘waktu itu relatif’, berusaha merasakan sendiri betapa amazingnya itu..

            Aku bangkit ke arah sepedaku setelah tidak berhasil merasakan apa2.

            Maybe next time.. Mungkin ada pelajaran lain yang harus kupelajari..

(Seperti .. blajar tuk ngga dongkol ama snobs kayak Lea n Katerina gitu? hehehe....)

Aarrrgghhh!!

Saturday, June 24th, 2006

Stay

12 Juni 2006, Berlin

Cara paling enak untuk keliling2 kota di Jerman, adalah dengan sepeda. Kenapa? Karena satu: gratisan booo..

Kedua, di Jerman ini trotoar udah dibangun sedemikian rupa sehingga tidak ada jalanan tanpa trayek tuk sepeda. (Masuk kereta pun sepedanya boleh dibawa) Ketiga, sepeda itu ga terlalu lamban dan nyapein kayak jalan kaki, tapi juga ga terlalu cepet sehingga ga bisa menikmati keadaan sekeliling. Keempat, tentunya menyelaraskan diri dengan kampanye sayang-lingkungan ala Jerman.

            Jadilah hari ini, saya bakal keliling2 Berlin pake sepedanya Sara. Sara nunjukkin di peta rute2 yang sebaiknya saya lalui. Dan off we go!!

            Sepeda Sara yang sangat ergonomis itu melalui trotoar2 Berlin yang riuh. Dan sepuluh menit kemudian, sudah sampai di tembok Berlin – East side gallery – sebelah sungai Spree. Kalau aja Sara ga nandain peta bahwa di situ ada “tembok Berlin”, saya pasti udah lewat aja dengan cueknya. Mesin2 pembangunan sedang menderu di sekitar situ, suasana berdebu, gak kayak tempat bersejarah sama sekali. Dan temboknya juga ga terlalu tinggi, bocel2 ga signifikan, dan dipenuhi grafiti2 ‘biasa’. Seluruh tembok di Berlin juga bergrafiti gituh..

            Tapi, inilah memang tembok yang pernah jadi simbol pemisah dunia kapitalisme dan komunisme di Berlin. Di salah satu temboknya, ada lukisan pemimpin kedua sisi (siapa ya namanya?), akhirnya ciuman setelah tembok Berlin runtuh (hehe.. plis deh!). Saya jalan menyusuri tembok 300 meter itu sambil nyentuhin tangan ke tekstur kasarnya.

            “Sebetulnya, Berlin Barat dan Timur masih bisa kamu rasakan lho perbedaannya,” pernyataan Sara terngiang-ngiang. Saya ngeliat ke kanan saya, Berlin Timur, dan memutuskan untuk bersepeda ke sana. Memang terasa perbedaannya. Dari Berlin Barat yang banyak ornamen dan hiasan, ke Berlin Timur ini yang segalanya seperti serba fungsional. Agak sepi, dan lanskapnya kerasa sangat lega. Saya bersepeda terus hingga mencapai sebuah jalan: Karl Marx Allee. Sebuah jalanan besar dengan mobil2 cepat berada di antara bangunan2 super besar dan megah khas komunisme. Jika lanskap daerah rakyatnya biasa2 saja, lanskap pemerintahan lah yang bagus. (Iya lah.. uang rakyatnya mengalir ke sana semua.)

            Setelah puas mengagumi bangunan2 besar itu, yang sekarang tidak lain jadi toko2 dan cafe2, saya berbalik tuk menuju tempat selanjutnya: pulau museum. Disebut pulau karena merupakan delta dalam sungai Spree. Dan rasa2nya saya masuk lagi ke Berlin Barat, jalanan menyempit, bangunan mengecil, banyak ornamen, riuh.

            Dan sampailah saya ke pulau museum.

Arrgghh…!! adalah kata yang saya ucapkan dalam hati berkali-kali. Bangunan2 berarsitektur indah edan tersebar di mana2. Sungai Spree pun menjadi sangat cantik dibingkai trotoar2 berkafe dengan pagar2 mendetil. Saya terus jalan dan melewati monumen Neptunus, Katedral Berlin, Museum Altes..

Aarrggh..!!

Di antara bangunan2 itu, terdapat sebuah taman yang didekasikan pada “one of the finest German children”: Karl Marx, dan Frederich Engels. Di situ, patung Marx dan Engels berwarna abu2, bertengger di antara patung2 yang dimaksudkan untuk menceritakan ‘betapa makmurnya rakyat dalam naungan komunisme’. Saya ingin berfoto dengan Om Marx dan Engels itu, tapi saat itu tidak ada teman. Setelah celingukan cari2 orang, seorang bule berbaju merah terang datang dan mengerti.

“Terima kasih, kamu tidak ingin difoto juga?” tebak saya akan aksen Amerikanya. “Emmh.. saya gak bawa kamera. Lagipula, I am a venture capitalist, so it will be a bit of irony.” Kita berdua nyengir2.

“Oh ya? Memang apa kerjaanmu?”

“Saya pemilik bisnis mikrochip. Lagi perjalanan bisnis ke Inggris, Perancis, Jerman, lalu saya akan ke Austria, ke Swiss – ke CERN, dan kembali ke California.”

Hoo.. pikir saya kagum.

Setelah ngobrol2 bentar, saya dadah2 dengan sang kapitalis. Dan dari taman Marx, ke Potsdamer Platz. Sentral bisnis pusat kapitalisme Berlin yang dibangga2in banget sebagai daerah paling modern.

Dan suasana yang lebih familiar pun beredar dimana2. Mall2, Sony Centre, Starbucks, McDonald, Dunkin Donuts.. dengan bangunan2 yang berarsitektur kontemporer banget, bergelas-gelas kaca dengan detil2 mengagumkan.

Aargghh!

(Di dalem Sony Centre, keramaian sedang terjadi. Tentunya, nonton bareng bola.)

Dari Potsdamer Platz, peta Sara membimbingku ke sebuah monumen beken di Berlin: Brandenburger Tor. Saya bersepeda ke sana dalam terik matahari (untungnya ada cowok2 Kroasia yang cakep2, siap2 mendukung pertandingan besoknya, jadi ngga terlalu watir lah..:D) Monumen Brandenburger Tor itu sempet jadi monumen pemisah antar Berlin Barat dan Timur, tapi setelah tembok Berlin runtuh, malah jadi monumen persatuan Berlin :D Di atas gerbang itu, ada patung Quadriga, Dewi Kemenangan, naik kereta yang ditarik empat kuda.

Kenapa empat kuda? Aku juga ingin tau tentang simbologi itu. Ada yang bisa bantu?

Kenapa Quadriga? Kayaknya sih, emang pas banget ama mentalitas Jerman yang selalu ingat win.. win.. win…

Tapi ada yang berbeda dari Brandenburger Tor kali ini. Secara, ada big screen di belakangnya. Ribuan penonton lagi seru2nya juga nonton bola. Ck ck ck..

Deket dari situ, aku pergi ke Reichstag, gedung parlemen yang indah banget. (Aarrggghh!!) Tanggal 2 October 1990, persatuan Berlin Barat dan Timur disahkan di sini. Dan betapa bahagianya, turis bisa masuk gratis di sini. Di atas gedung itu, ada kubah kaca yang dibangun Sir Norman Foster tahun 1999. Kita bisa ngeliat Berlin 360 derajat dari sana. Maka naiklah aku pake lift, sampai di dalam dome tadi. Di tengahnya, ada monumen serupa kerucut yang ‘menusuk’ ke dalam Reichstag.

Di sepanjang sisi dome, ada jalan naik. Aku jalan di situ sambil ngeliat2 keluar. Semakin naik, Berlin semakin kelihatan. Setengah dome, Berlin Timur, gedung2 besar didominasi warna coklat dan putih. Setengah dome lain, Berlin Barat, lebih renyek, penuh pepohonan, dan kecil2 bangunannya.

Pilih mana, kanan, kiri? Kiri, kanan?

Saya sampai di puncak dome. Kerucut besar di tengah dome berpangkal di situ, pangkalnya menghadap ke atas puncak dome yang ternyata bolong! Langit biru jernih terbuka di atas saya. Turis2 tiduran di sekeliling pangkal kerucut itu sambil ngeliatin langit di atas. Ikutan juga ah! Ide2 ‘kanan-kiri’ seperti larut dalam kejernihan langit di atas. Dan kemudian.. (seperti tiba2 membaca pikiran Norman Foster) mungkin kejernihan itu lah yang ingin dimasukkan ke dalam parlemen. Saya memandang menyusuri kerucut besar di belakang saya; langit jernih ‘terhisap’ masuk ke dalam Reichstag..

Kebahagiaan tidak berakhir di situ. Sehabis Reichstag, saya menghampiri tempat terakhir yang Sara suratkan tuk saya: monumen Siegessaule. Saya mengayuh sepeda menyusuri Str des 17 Juni, dan sampailah saya.

Matahari sudah hampir terbenam, monumen keemasan itu bersinar dengan indahnya. Tapi.. tunggu.. kok familiar ya? Monumen di depan saya dengan jalanan di sekitarnya ini… Saya pernah melihat pemandangan ini sebelumnya.. Sering malah! Di mana ya?

Dan aku pun nyadar, ini kan monumen yang ada di video klip Stay?? Lagu Stay pun otomatis berputar dalam kepalaku – lagu dramatis itu. Suasana sore yang hening dengan kelap-kelip samar mobil mengalir terus di sekitar. Aku seperti terlempar ke dunia lain..

Aarggghhh!!!

Musisi2 jalanan

Saturday, June 24th, 2006

Putri_1 Saya, Sara, Alice, dan Aleka sampai di sebuah taman bernama Marienplatz (Berlin) untuk nonton sebuah festival. “Apakah ini terjadi setiap minggu?” tanya saya ke Sara. “Ya.. sekitar 3 mingguan..”

Kami sampai di sebuah kebun berpanggung. Anak2 muda ‘warna-warni’ duduk2 nonton seorang musisi cewek manggung di depan. Panggung dan sound system ala kadarnya, tapi setelah duduk cuma 5 menit, saya enjoy banget aja gitu duduk di situ. Musiknya enak banget, original; dalam setiap bagian lagu kayaknya ada sesuatu yang spesial.

Makin lama, lagu2nya makin asik. Semua penonton di sekeliling saya makin senyum2 ngikutin beat musik yang makin lama makin cepet. Kayak campuran antar.. Tori Amos, n penyanyi2 cewek Perancis yang simple tapi poetic..

“Namanya Kleingeldprinzessin: putri para pengamen,” kata Sara.

“Oh..” julukan yang tepat. Soalnya musiknya bakal enak banget juga tuk dinyanyiin cuma pake gitar akustik.

“Kamu punya CDnya?” tanya saya.

“Ya, dari internet,” jawab Sara, “Dia tidak punya CD beredar di toko2 musik. Tapi gimana pun dia tetap populer di Berlin.”

“Maksudmu, dia tidak major label?”

Sara mengangguk. “Aneh sekali, padahal musiknya bagus. Dengan peralatan minim saja terasa enak.”

“Banyak yang menawarkan sebetulnya, dianya aja yang ngga mau. Alasannya indie banget..”

Konser berakhir, tapi sekitar 80 orang di park itu memintanya untuk kembali lagi ke panggung. Permintaan pun dikabulkan oleh sang putri yang datang kembali sambil ketawa-ketiwi, “Danke..”

Konser pun berlanjut. Dan anehnya, ternyata dia belum kehabisan stok lagu asyik satu pun. “Itukah juga alasannya banyak toko2 home-made di sini? Karena alasan ‘indie’ yang sama?”

“Hmm, kamu bisa menemukan banyak McDonald dan Starbucks di pusat kota sih. Tapi di sekitar sini, ya, penduduk lebih memilih untuk pergi ke tempat2 seperti itu. Memang sedikit lebih mahal dari toko2 mass product. Tapi manfaatnya lebih baik bagi masyarakat keseluruhan di daerah ini, karenanya kami rela saja mengeluarkan uang lebih..”

Konser berlanjut dan semua orang sudah mengangguk2an kepala mengikuti beat. Sang putri tersenyum2 seperti sedang dalam keadaan trance. Musisi2 semacam ini sebetulnya selalu membuat saya kagum. Coba tanyakan pada diri sendiri, dalam semua hal yang kita lakukan, berapa banyak yang kita lakukan tanpa ingin mendapatkan recognition? Berapa banyak hal yang kita lakukan yang: orang lain pun tidak perlu tahu karena kita udah cukup senang hanya dengan melakukannya? Sekolah? Traveling? Bahkan pacaran pun seringkali diikuti embel2 recognition: “Hey.. look, I got the lady/guy!”

Saya teringat masa2 kecil saya dulu ketika saya masih senang menari balet. Satu dari sedikit hal murni yang saya lakukan hanya karena saya suka; orang2 tidak tahu pun tidak apa2. Menari karena tarian itu sendiri, period. Begitulah di pandangan saya musisi2 semacam ini. Terus bermusik bukan karena fame, atau uang, tetapi karena musiknya itu sendiri.

Musik mereka jauh lebih besar daripada diri mereka sendiri.

They are not stars… they are the black sky itself.

However, saya hanya berharap akan ada yayasan yang menopang hidup rare pearls ini.

Sarapan di flat asyik

Friday, June 23rd, 2006

Nathalie_105

11 Juni 2006, Berlin

Paginya, saya pergi ke dapur indah dan makan pagi bareng Sara, John, dan Maja. Sarapan ala Jerman yang enak banget itu: roti, mentega, keju, sapi, orange juice, selai, anggur, pisang, susu, kopi, teh. Pilih2 antar mereka. Item2 itu biasa2 aja sih, tapi kayaknya di Jerman ini semuanya dibuat secara lebih niat.. Kejunya lumer sendiri dalem mulut, menteganya juga kayak mentega Anchor tapi segede keju Kraft, daging sapinya dari Turki – halal – n bau2 asep gitu, rotinya gandum, orange juicenya masih keset2 asem tapi ga kemanisan. Yummy..

            Seabis sarapan, saya nanya ke Sara, “Ada yang aneh di Jerman ini yang ga kutemui di negara saya: Kesadaran lingkungan. Kayaknya semua penduduk di sini kok sayang ya sama lingkungan?”

            “Soalnya kita pernah ngerusak lingkungan banget, sekitar tahun 60an ke belakang, waktu industri lagi giat2nya gitu. Dan semua orang waktu itu ngerasain akibatnya. Ga enak hidup di daerah yang industrial banget, hingga ampe sekarang, semua orang jadinya sayang lingkungan,” kata Sara.

            Ya sih.. tapi yang ngebuat amazed adalah kayaknya kesadaran itu massal banget. Sepertinya semua orang di sini sengaja pake sepeda, demi lingkungan. Begitu dipedulikan dan mengakar seperti kesadaran akan.. anti-rasisme, misalkan.

            “Sempat ada gerakan massal emang di Jerman ini, tahun 60an. Asalnya dari Amerika Serikat juga sih, budaya hippies. Di dalemnya, termasuk ide akan cinta lingkungan.”

            Sekarang lumayan masuk akal. Jadi ternyata kesadaran lingkungan di sini salah satu bagian dari gerakan posmodernisme juga. N bisa dimengerti, setelah trauma ama pengalaman Nazi, tentunya budaya hippies itu diterima banget. Persamaan ras, ‘make love not war’, spiritualitas, hormat pada mother earth, semua itu kontra budaya yang pastinya lagi dibutuhin banget waktu itu.

            Sehingga, kini hal itu jadi mengakar dalam masyarakat. Karena anti-rasisme jadi marak, maka kesadaran lingkungan yang dateng barengan juga ikut dipedulikan. Hmm.. Jerman ini posmodernisme banget donk ya kalo gitu..

            Ya iyalah, pikir saya asyik sendiri, banyak banget gitu pemikir terobosan yang berasal dari sini. Dari Marx, ampe Herman Hesse, Hitler, Nietzche, ampe teori relativitas pun lahir di sini gituh..

            (Sayangnya, menurut gwa, sisi negatif posmodernisme: relativitas nilai, berlaku juga di sini… Ga asik kata gwa sih, kayak semua bergulir bebas tanpa aturan dan tujuan..)

            Kapan ya Indonesia bisa sadar lingkungan juga? Kita sih masih berkutat untuk menguasai modernisme kali. “Boro2 mikirin lingkungan, kebutuhan personal aja belum tercukupi.”

            “Tapi aku harap negara2 Asia itu blajar dari kita. Lihat kami sebagai orang2 yang pernah sampai ke kejayaan modernisme. Lingkungan amburadul dan penduduk pun ngga hepi. Kenapa kalian mengejar itu juga? Kami udah ngerasain ga enaknya, jadi jangan pergi ke sana..”

            “Mungkin,” kata saya, “emang udah tabiat manusia tuk ngerasain ga enaknya dulu baru kapok.”

            “Ya.. sayang sekali..”

            …………………………….

            “Tapi bagaimanapun, aku kagum dengan kesadaran lingkungan kalian. Ngga kebayang setelah aku lulus kuliah, saya harus mikir2 untuk ngga masuk Freeport ato Schlumberger hanya karena mereka mengeksploitasi lingkungan. Ngga kebayang saya harus mikirin itu daripada.. gaji saya tiap bulan bakal.. terus posisi saya bakal… Ngga kebayang oleh saya kalian demo gak pake baju2 buatan Gap ato Banana Republic, hanya karena baju2 itu dibuat oleh buruh2 Indonesia yang digaji cuma 2 dolar per hari.”

            “Ya.. begitulah ..” kata Sara senyum2 biasa, as if it is something usual.

            Begitulah posmodernisme pun punya sisi positif: Kesadaran bahwa segala sesuatu di muka bumi ini berkaitan. Berusaha melangkah lebih jauh dari sekadar memenuhi kebutuhan diri sendiri, bertanya, apakah ini akan memenuhi kebutuhan orang2 di luar saya juga, bahkan yang jaraknya ribuan mil?

Dan sebuah ironi sampai ke kepalaku. Orang2 Eropa di sini udah ga bisa ‘diboongin’ lagi, makanya perusahaan2 itu mengarahkan eksploitasi mereka ke Asia, kita2 yang masih berkutat ingin mencapai kejayaan modernisme

Student Life

Friday, June 23rd, 2006

Nathalie_094_1

10 Juni 2006, Berlin

Pada suatu hari di Bandung, seorang traveler dari Malaysia bernama Chee Keong nginep di rumahku. Nah, aku ngasi tau dia rencanaku tuk backpacking Eropa taun ini. Jadinya, Chee Keong yang baik hati itu juga ngasi banyak referensi berguna tentang Eropa, termasuk temen dia orang Jerman bernama Lisa yang dia temuin di kereta Trans-Siberia. Lisa ini punya adik di Berlin, namanya Sara, begitulah jadinya aku nginep di rumah dia sekarang :D

            Sara dan saya keluar stasiun underground menuju flat dia. Dan.. welcome to Berlin.. di trotoar, tai anjing tersebar di mana2. Grafiti2 ga pernah meninggalkan space tembok tanpa tercoret. Awalnya saya agak risi, dari Frankfurt n Munich yang serba bersih ke Berlin yang tidak indah ini. Tempelan2 poster desain grafis anak-muda-banget terlihat di mana-mana.

            Kami sampai di flat Sara. Pertama masuk, saya ngerasa senang banget. Berantakan!! Lantainya kayu, n barang2 kayak keluar semua, ga ada lemari satu pun. Semua itu langsung ngebuat saya ngerasa lagi ada di student flat. Asik. Poster2 film ditempel dimana2. Buku2, CD2, DVD2, baju2 semua amburadul di flat berkamar empat itu. (Dan satu kamar buatku, cihuy!). Lantai kayu dan desain di baliknya beraura agak mediteran, jadi nambah perasaan hangat.

            Love it!

            

            Seolah dapat membaca pikiranku yang nguing2 masih laper. Sara bilang ada barbeque party ama temen2nya di park deket situ. Jadilah kita keluar lagi dan jalan ga jauh dari situ. Parknya padang rumput biasa. Dengan sebuah monumen besi aneh. Tapi isinya kayaknya mahasiswa semua. Ada cewek2 berpakaian minim lagi sun-bathing. Ada perkumpulan hippies yang lagi main2 gitar. Gank kita, terdiri dari mahasiswa2 ‘ga aneh2 amat’ yang lagi berusaha ngehidupin tungku.

            Dan setelahnya, saya merasa sangat bahagia! Roti2an. Salad2an. Ayam2an. Semua dikeluarin di karpet piknik kami. Ada babi2an juga, of course. Dan tentunya: beers.

            “Lucu juga. Saya baru blajar kalo di Jerman ini, bir itu kayak komoditi biasa. Padahal kalo di Indonesia, ada image yang sedikit negatif terhadap minuman itu. Orang2 yang minum2 itu pasti dipandang sedikit ‘aneh’..” kata saya ke John. Salah seorang mahasiswa yang tinggal di flat yang sama dengan Sara.

            Well, welcome to Germany,” katanya sambil ketawa renyah, “it’s in our blood.”

           Di sekitar situ, ada beberapa keluarga Turki yang lagi piknik celebrating sun juga. Pemandangan jadi lucu, cewek2 berjilbab yang jalan2 di sekitar jadi agak2 nunduk dikit, karena di sekitar ada bule2 yang hampir bugil sun-bathing, ada yang lagi ciuman juga (plus dua orang cewek ya tolong!), ada yang rada2 mabok, dan sebagainya lah :D

            Berlin ini pusat budaya, konon. Jadinya ekspresi apapun sah2 aja di sini. Mau lesbian, ato jilbaban, semua punya hak masing2.

            Matahari yang dipuja-puji itu akhirnya tenggelam jam 10 malam. Dan udara tiba2 langsung dingin. Kita ngebenahin semua piring2 (dengan makanan yang udah ludes semua!). Jalan keluar kebun, kukira kita bakal langsung ke flatnya Sara. Tapi ternyata ngga, “kita bakal nyari bar di sekitar sini tuk duduk2 bentar.”

            Kami jalan di trotoar yang penuh sama cafe2 tuk orang2 nongkrong. Hampir semua bar dan cafe yang kita lewatin penuh, dan semua mata di dalamnya trtuju pada televisi kecil yang lagi nayangin bola. Akhirnya, kami menemukan sebuah bar remang2 yang ga terlalu penuh. Semua langsung mesen botol bir, kecuali saya yang cuma megang botol aqua (alah..) Percakapan ngalor ngidul langsung bergulir lagi dalam kelompok sekitar 10 orangan itu. Beberapa dari mereka nanya2 tentang Indonesia. Bar ini rada2 ga nyambung juga, penampilan Bob Marley banget, tapi musiknya Frank Sinatra n musik2 klasik Amerika jaman 50-an:D

            Ada perasaan lain yang hinggap. Saya ngerasa nyaman dan senang. Kenapa? Pertama, saya kenyang banget. Kedua, saya ngerasa kayak di kota sendiri: Bandung. Di kota saya penuh orang2 tukang nongkrong ampe lewat tengah malam gini. (Termasuk saya gitu, hehe) Penuh juga sama youth culture. Poster2 distro ato band indie, grafiti2, protes2 anti kapitalisme, ato bahkan cuma desain2 tak berujung. Plus tadi, anak2 muda tukang nongkrong tanpa akhiran dan tujuan.

            Cuma duduk2, doing nothing absolutely..

            Just being with friends…

            Love it! Feel at home.. :D

Huu.. lapeerr..

Monday, June 19th, 2006

Nathalie_085

10 Juni 2006, Munich – Berlin

Perjalanan saya dari Munich ke Berlin rada2.. aneh sebetulnya.

            Pertama, karena temen seperjalanan yang kukira bakal sangat menyenangkan ternyata tidak demikian adanya. Kami masuk ke dalam satu kompartemen, plus seorang kakek2 tua yang ga bisa bahasa Inggris n cemberut melulu. Dari menit pertama kereta jalan, mereka berdua berantem ribut banget pake bahasa Brazil. Sampe seorang Bavarian (note: Bavarian dont want to be called Germans) yang sempet ada di kompartemen kita juga bilang ketika dia turun, “Kalian tahu ngga kalau orang2 Jerman, sebetulnya ingin punya temperamen seperti kalian? Karena sepertinya semuanya dapat lepas begitu saja..”

            Sing..

            Begitulah usahanya untuk mencairkan suasana. Tapi nampaknya tidak berhasil sama sekali.

            Pada akhirnya, mereka diem2an. Dan o-oh, sepertinya sekarang mereka mengarahkan perhatian pada saya. Dan topik yang diangkat, lagi-lagi, adalah Islam. Pada awalnya, mereka masih berusaha baik2. “Kalau di perjalanan, bagaimana kamu akan shalat?”

            Hingga, pertanyaan2 pun agak memanas dan memojokkan, “Mengapa dalam Islam kamu harus pakai kerudung? Mengapa tidak boleh minum alkohol? Mengapa tidak boleh seks sebelum nikah? Bla..bla..bla..” (bla..bla..bla itu diucapkan secara literal, seperti mengejek otoritas yang sedang mendiktekan peraturan).

            Hingga, akhirnya, pertanyaan yang nampaknya menjadi biang keladi semua ketidaksukaan mereka pada Islam, “Who do you think will go to heaven?”

            Mereka jelas2 adalah fanatik Kristen Brazil yang pastinya menganggap kaum mereka lah yang akan masuk surga. Dan jika kujawab ‘umat Islam’, tentunya itu bukan jawaban yang bijak, hanya akan menjadi debat kusir sampai Berlin. (Dan ga ada yang tahu juga siapa bakal masuk mana, itu mah keputusan Tuhan, nya nteu?) Meanwhile, saya bilang yang masuk surga adalah orang2 yang Islam.. “Orang2 yang berserah diri pada Hidup.. Peaceful souls..”

            Awalnya mereka senang dengan jawaban itu, “Kami kira Islam adalah seperti yang ditunjukkan media2..”

Tapi setelahnya, kok mereka tetap musuhin aku ya?:D

            Kedua, adalah kenyataan bahwa teman baikku selama perjalanan itu, adalah sang kakek tua bertampang bete yang ternyata sangat baik hati. Dia sampe rela melepas kereta ICEnya ke Berlin (kereta warna putih yang cepet banget itu) demi ngarahin aku ke trayek yang benar di setiap stasiun (soalnya kereta weekend ini ganti2nya banyak banget bow!).

            Selama perjalanan, saya jadinya berbahasa Tarzan aja ama sang kakek. Setiap ada yang menarik, saya tunjuk2.

Dan hmm.. I actually… finally… begin to like this country.. Keramahan orang2 Bavaria di Munchen (kalo udah ngobrol tapi ya!). Desa2 hijau dan padang2 rumput membentang di luar kaca jendela kereta. Semuanya terasa harmonious. Keretanya juga tidak buruk sama sekali, mulus, n cepet.

            Harmonious karena negara ini tampak merhatiin lingkungan benar2. Aku inget jalan2 di sekitar rumah Ninit pake sepeda (dan nyasar pulangnya), ngeliat hampir semua rumah kayak hampir tenggelam dalam kebun dan pohon. Terus, transportasi kereta DB ini dimajuin banget ama pemerintah Jerman selama World Cup karena bahan bakarnya listrik (dan dipromosiin dalam setiap brosur World Cup – DB). Karenanya udara di luar bersih banget keliatannya. Dan rumah2 kayu di antara padang2 rumput hijau bak di negeri dongeng, bertengger damai di sebelah tower2 tinggi baling2 pembangkit listrik tenaga angin berwarna putih.

            Ketiga, adalah bahwa hipotesisku untuk bawa Energen tuk menghemat biaya ternyata tidak berhasil! Baru nyampe sepertiga perjalanan, perut dah keruyukan.. terus, ternyata air dari tap water di kereta ga boleh diminum! :,(

            Jadi, otomatis harus beli air botol minum. Terus, pas udah minum satu sachet Energen, ternyata masih laper! Ayo.. bertahanlah.. Kata saya nyemangatin diri.

            Minum sachet kedua di stasiun Leipzig, saya masih laper. Lebih2 lagi, malah ngerasa agak pusing. Kepala nguing-nguing ga stabil. Dan akhirnya, “nyerah ah!” Pergi ke lantai bawah stasiun tuk beli roti yang paling murah: 55 sen.

            Makan roti kerasa nikmat banget. Selama makan, nguing2nya kerasa banget. Kayaknya waktu itu aku udah agak2 goyang2 kanan kiri gitu!:D N roti itu juga ngga bertahan lama ternyata. Nyampe di stasiun Berlin, ekspresi kayaknya udah ga karuan. Tas gunung n tas ransel kerasa nyiksa banget..

            Untungnya, host saya selanjutnya di Berlin: Sara, dateng tepat waktu banget..

30 minutes with Daniel

Monday, June 19th, 2006

Nathalie_082

9 Juni 2006, Munich

Sebelum pergi ke Olympia Stadium, ada cerita.

Karena di Ninit cuma bisa nginep gratis 3 hari, otomatis saya harus nyari host lain untuk hari keempat. Dan aku pun menemukan seorang Jerman dari site Hospitalityclub.org, bernama Daniel Horst.

Daniel ini nampaknya orang yang sangat baik hati. Kalo orang2 Jerman di site itu kadang2 suka ngeles kalo dimintain inep, dia ‘bela2in’ banget biar aku bisa nginep di tempatnya. Walaupun di hari itu juga dia harus siap2 buat nikahan temennya, n baru pulang dari Birmingham, n udah ada 2 orang cewek Brazil n satu cowok Mexico di tempatnya.

Hari itu, jam 2, saya udah ada di depan flatnya. N dia pun dateng, buru2 dari kantornya, pake mobilnya, “Hi, I’m Daniel. I only have about 30 minutes before I have to go again. So, let’s walk to have a cup of coffee..”

Maka kami pun jalan dengan buru2 di blok2 di sekitar situ. Orang2 Jerman pada naik sepeda dengan segala atribut Jermannya, siap2 tuk nonton pembukaan World Cup di Olympia Stadium deket situ, “Kamu ga akan nonton bola?”

“Ngga, saya bukan fans fanatik bola,” katanya, “Saya bakal main squash aja setelah ini.”

Dia umur 30an, tapi nampak thoughtful, dan wise, terlihat dari garis2 kerut di matanya setiap kali senyum.

Jalan2 dan flat2 di kiri-kanan kami juga sepi, seolah semua orang sudah pergi ke Olympia Stadium saat itu. Cafe pertama yang kami kunjungi juga ga buka. Jadi kita nyari2 cafe lain.

Sebuah cafe yang sepi juga, dengan kursi2 teras dalam bayangan gedung2, terlihat di seberang jalan. Kita memutuskan untuk duduk2 di sana aja.

“Untuk pertama kalinya di Jerman,” kata saya, “matahari bersinar.”

“Hehe.. ya. Mungkin doa presiden dikabulkan hari ini di gereja tuut (lupa ey namanya, pokoknya yang bermenara dua dengan bola sepak besar di altar yang saya kunjungi bareng Ninit sebelumnya)..”

“Hah?? Ada presiden juga di situ?”

“Hehe.. yup..!”

“Pantas saja doanya dikabulkan :D”

Tapi Daniel malah diem. “Maybe.. I dont believe in God actually. Bagi saya mungkin ini hanya kebetulan aja. Hari ini.. cerah..that’s all.” kata dia cuek sambil ngaduk juice yang baru dateng.

Saya senyum2 ngeliat dia. Selama semingguan di Jerman, udah 3-4 orang atheis yang saya temui. Emang bener ternyata kalo atheisme emang lagi happening banget di Eropa ini. So pasti saya jadi penasaran gituh..

I’m quite curious actually. Apa sih nilai2 yang kamu pegang kalo gitu? Maksudnya, kalo saya, ya udah jelas nilai2 Islam. Saya berusaha ngikutin nilai2 itu dalem hidup saya. Kalo kamu, apa?”

Daniel kelihatan mikir sambil senyum2 sendiri, “Hmm.. apa ya? Mungkin respect aja kali ya? Saling hormat antar manusia.”

Oke.. nampaknya dia udah menunjukkan itu dengan baik banget dengan bela2in ngehost saya hari ini. “Jadinya aku nganggep semua ini kebetulan aja. Ga ada embel2 gaib di belakangnya. Kalo tsunami, itu berarti emang dua lempeng sudah waktunya tabrakan, bukan Tuhan lagi balas dendam. Kalo aku mati, ya aku akan hilang begitu aja, ngga lahir lagi di kehidupan selanjutnya atau apa..”

Dunia adalah rantai berantai sebab-akibat kejadian materi. Semuanya tidak lain adalah materi.

Tapi..“Aku pernah baca sebuah buku,” tanya saya masih tertarik banget, “buku postmodern movement, dari Saussure. Kamu tahu kan kalo posmodernisme itu sebetulnya ‘balas dendam’ terhadap modernitas yang serba.. materialistis?” Daniel ngangguk2 kalem. “Nah.. di situ, dia bilang, dalam dunia materialis, sebuah buku, tidak lain adalah lembaran2 kertas dan tinta. Tapi hanya itu sajakah buku? Tentunya tidak. Buku, adalah makna yang ada di dalamnya. Malah itulah yang paling penting. Dunia interior itu dapat kita rasakan jelas2, walaupun tidak terlihat. Dunia interior itu ada di sekitar kita, bahkan pikiran ada dalam dunia interior, tidak terlihat. Nah.. kalo semuanya materi, what do you think we are? Who are we? Who are you?? Apakah kita tidak lain adalah impuls2 syaraf atau jalinan respon kelenjar2?” kata saya asli penasaran, bukan lagi dalam rangka nge-judge atau menjatuhkan.

Daniel diem senyum2. Kali ini tampak menerawang serius, kerut2 wisenya masih tampak dalam matanya yang ‘dalem’. “I dont know..” katanya akhirnya, masih senyum kalem banget.

It was a meaningful 5 seconds pause.. kita berdua kayaknya lagi ngubek2 kedalaman masing2.

But we will find out..” katanya lagi. “Dan back to God, saya rasa saya telah sampai pada suatu titik dimana ide akan adanya Seseorang di atas sana yang mengatur alam semesta ini nampak tidak masuk akal lagi.”

“Oke..” kata saya ragu juga kalo tiba2 teleskop paling kuat di dunia ini memang akan ‘menangkap’ seseorang serupa Zeus di langit hitam di atas, misalkan.. Btw, juice mangga yang saya minum rasanya enak banget juga lho!

This is how this god-things occur to me..” lanjutnya, “Manusia, selama hidupnya dari jaman purbakala, selalu ingin mengerti hal2 di sekelilingnya. Karena itulah kita menamai hal2 di sekeliling kita. Nah.. tapi di antara penamaan itu, ada beberapa hal yang tampak misterius yang tidak bisa kita jelaskan, dan saat itulah kita menisbahkan kata ‘Tuhan’ padanya. Contohnya, zaman dulu, ada Tuhan Angin, Tuhan Laut, Tuhan Hujan, dst. Tapi kemudian, kini kita tahu bahwa kekuatan maha dahsyat dari badai, misalkan, tidak lain disebabkan oleh temperatur di sini berbeda sekian derajat dari temperatur di sana, plus tekanan2nya, sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi misterius.”

“Sehingga pada akhirnya…” lanjut Daniel serius “suatu saat.. kita akan sampai di suatu titik di mana tidak ada lagi yang misterius di dunia ini. Tidak ada lagi tempat di mana kata ‘Tuhan’ dapat kita nisbahkan..”

Aku diam. Berusaha merasa-rasa sepenuh jiwa bagaimana rasanya jadi dia, bagaimana jalan pikirannya..

“Sehingga, saya merasa, Tuhan adalah ciptaan pikiran manusia. Ia ada karena manusia membutuhkanNya. Walau pada hakikatnya tidak ada lagi tempat untukNya. Ketika saya berdoa, saya tidak lain sedang berbicara pada diri saya sendiri.”

“Seperti kontemplasi maksudmu?”

“Ya. Dan saya tidak mau itu, saya lebih milih nge-share masalah saya dengan teman2 saya, sambil main squash.”

“Dan mungkin, lebih lagi,” tambah saya agak ngelamun, “atheisme makin marak karena Tuhan yang dipintai solusi itu pun tampak tidak pernah menjawab. Atheisme muncul di antara reruntuhan Auschwitz, kutip Karen Armstrong, dari jeritan hati manusia karena cintaNya memang tidak pernah terlihat di muka bumi ini…”

“Tepat sekali.” Kata Daniel. “You see..” lanjut Daniel “in the end… kita tidak akan punya tempat lagi untuk ide akan Tuhan..dan in the end..we dont really need Him as well..

Long pause again..

Then my heart wants to say something… “Hahaha…, I dont know about you, but to me.. saya lebih meragukan keberadaan diri saya sendiri daripada keberadaan Tuhan. Untukmu, tidak akan ada lagi Tuhan. Tapi untuk saya, hari demi hari saya merasa kalau tidak ada yang lain selain Tuhan, dan dunia inilah yang boongan!”

Daniel nyengir lebar sambil bertopang dagu.

“Seperti penamaan tadi,” lanjut saya, “dapat terjadi karena dunia ini adalah dualitas. Gelas juice di tangan saya ini, dapat saya namakan gelas karena ada benda2 di sekelilingnya yang bukan-gelas. Sehingga saya setuju denganmu, the Believed, eksis karena adanya believer. Masing2 ada karena yang lainnya.”

“Tapi pada akhirnya,” lanjut saya, “hanya ada Satu. Dan apakah akan kita namakan dunia, seperti yang kamu bilang, atau Tuhan, seperti yang saya bilang, tidak masalah. Yang ada hanya One itu..dan karena yang ada hanya Satu, penamaan juga tidak masalah lagi..”

Daniel masih menopang dagu, dan entah dari mana, kita berdua meledak dalam tawa euphoria. Magical atmosphere seperti tiba2 turun..

Malam harinya, jam 12 malam, habis menonton pembukaan World Cup, saya jalan bersama Ninit yang tadi nunggu di stasiun kereta. “Eh Mar, tadi ada yang bales pengumuman elo di internet. Ada dua cewek Brazil yang mau sharing tiket kereta ke Berlin ama kamu besok.”

(Di Jerman ini, ada diskon kereta setiap weekend: Schones-Wochenende Ticket. Ke tujuan manapun di Jerman, cuma 30 euro, n bisa disharing ama maksimal 5 orang. Kalo tiga orang, berarti masing2 cuma 10 euro, ampe Berlin lagi..)

“Cihuuuy… thanks Nit..!”

Sampai rumah Daniel, suasana ternyata udah penuh orang. Dan.. yup.. dua orang cewek Brazil telah datang, dan mereka adalah.. dua cewek Brazil yang tadi Ninit bilang…! :D

Oh my God.. Can you believe that??” kata Lea, seorang dari mereka, ke Daniel. “Hahaha…” Daniel ketawa ga kalah amazed.“Well..maybe now I’m starting to believe in God..” katanya pelan sambil senyum2 penuh makna.

Dan di belakang kehebohan dua cewek Brazil dan Ninit di ruang itu, Daniel ngehampirin saya sambil ngasih sebuah gift: kompas (karena sebelumnya saya shalat harus nyari2 matahari segala). “Is it coincidence… or destiny..?”

“…Either one.. it’s just a name..”

be te we

Monday, June 19th, 2006

saya rada2 kesulitan ngeupload foto langsung ke artikel. jadi, foto2nya kusimpen di photo album friendsterku, liat ke sana aja yaa..:)

Funny way to watch Football

Monday, June 19th, 2006

Nathalie_065

9 Juni 2006, Munich

Sebuah keajaiban terjadi. Cuaca dingin dan mendung selama 10 hari ini di Jerman tiba2 hilang! Tepat ama hari pembukaan World Cup. Sampe di CNN reporternya ga henti2nya nyinggung keindahan cuaca saat itu.

            Kayaknya doa bersama di gereja di Marienplatz yang konon dihadiri presiden itu berhasil juga..

Saya janjian ama Ninit tuk nonton pertandingan pertama World Cup bareng. Abis ngobrol2 di flat doi (gratis 3 hari, buehehe) kita sepakat tuk nonton di Olympia Stadium aja, bukan stadium Allianz. Di kebunnya ada big screen. Kenapa? Soalnya kalo masuk stadium Allianz konon 2000 euro bo!:D

            (Lagian, aku juga bukan fans sepak bola fanatik. Cuma ingin dapet suasana football fever ajah)

            Jadilah sore itu saya jalan menuju stadium. Sempet jalan bareng seorang cewek Italia yang jalannya cepet banget.

            Nyampe deket2 stadium, ternyata udah banyak orang banget! Sekitar 200 orangan lagi ngantri di depan gerbang masuk yang dijaga ketat security. Semua orang dicek satu2. Ga boleh bawa botol bir, soalnya kalo ada kerusuhan bisa dijadiin alat pukul2an. Jadinya tu gerbang masuk di bawahnya botol bir semua :D Kelentang-kelentong bunyi gelas di bawah.

            Akhirnya, tepat 10 menit sebelum gerbang bakal ditutup (soalnya dah kepenuhan), saya berhasil masuk juga. Dadah2 ama si cewek Italia, saya nyari stasiun kereta api tempat saya janjian ama Ninit setengah jam lagi.

            Ternyata stasiunnya ada di luar stadium, n pintu keluar-masuk stasium udah ditutup..

Itu juga berarti, saya bakal nonton bola sendirian, huu.. :,(

            

Mana suasana sebelum pertandingan juga ga enak banget lagi. Di dalem park stadium itu, ada sekitar seratus ribuan orang! N mereka duduk2 ngegank gitu. Setiap pas2an ama orang aja ga enak, apalagi kalo lewat orang2 ngegank itu.

            Rasa2nya, semua orang ngasi pandangan hey-kamu-ga-akan-bom-bunuh-diri-di-sini-kan? gitu..

            Oy.. moslem! Oy…!Hahahahaa..!”

            Grrrrrrr…. mana hooligan2 Inggris yang pada mabok itu manggil2 segala lagih. Ugh.. gotta find a friend!

            Jadilah setengah jam sebelum pertandingan dimulai, saya ngesms temen2 Indo di Jerman yang kata Friendster bakal nonton bola juga. Tapi ga ada satu pun muncul..

            Hingga akhirnya 5 menit sebelum pertandingan dimulai, saya ‘nyumput’ di sebuah sudut deket tenda merchandise Italia. Pandangan ke depan cukup bagus. Big screen terlihat jelas. Di situ banyak orang Jerman yang siap2 nonton juga. Yang tentunya.. awalnya agak2 judes ngeliat saya di situ.

            Ini benar2 harus diakhiri!

Gimana caranya? Ya kenalan..!:D

            Jadilah saya sok kenal negur seorang cewek umur 40-an di situ. Dan ah.. hipotesisku sebelumnya terbukti benar! Paras si cewek Jerman yang judes itu akhirnya mencair juga kalo kita udah tau ‘celahnya’.

            Di sekitar kami, ada fans2 berkaos Jerman yang ternyata bareng ama si cewek. Kenal ama satu orang anggota, maka kita kenal ama semua orang di situ. Orang2 yang tadinya mandang dengan curiga sekarang tiba2 jadi teman bincang2 akrab.

Where are you from?” kata yang paling sering terdengar dari mereka. Dan percakapan pun bergulir haha-hihi..

            Aku sudah merasa sangat nyaman sekarang, senangnya..

            World Cup pun dimulai, n kita semua naik ke atas bangku ‘ilegal’ yang dibawa cowok2 gank itu ke situ. Big screen terlihat lebih jelas lagi, plus ribuan orang di depan. N World Cup pun dimulai! Saya n temen2 dadakan itu berdiri n teriak2, ratusan bendera Jerman berkibar di lautan orang di depan.

            “Deutchland..! Deutchland..! Deutchland…!”  Gemuruh nyanyian ratusan ribu orang menggema edan. Bunyi terompet n suit-suit n alat2 perkusi n kibaran bendera campur aduk jadi satu.

Selanjutnya, adalah tayangan yang kita tonton semua di TV… J

            (Some note, saya bukan fans Jerman. N ga dukung apa2 juga sih. I am just with the majority :D)

Setiap gol masuk dari keempat gol itu, semua orang teriak2 girang. Saya juga ketawa2 sama kegilaan orang2 di sekitar saya.

Euphoria.. euphoria…Cuma itu mungkin kata yang bisa jelasin rasa kalo bola masuk gawang.

Gimana euphoria di sana? à Tanya Arga baru aja di message Friendster:D Sama aja sih sama euphoria di sini. Ribuan orang tiba2 berdiri sambil ngacungin tangan n teriak2, terus bendera Jerman langsung berkibar2 lagi di seluruh lapangan, terus2an selama hampiк 5 menit. Cuma bedanya, di sini semua orang pada pegang gelas bir semua:D jadinya euphoria kerasa lebih lepas! N lebih ‘rarusuh’ soalnya mereka kan badannya besar2 semua, jadi kalo mereka pada loncat2, ya .. gitu deh.. :D

Akhir acara, Jerman menang. Orang2 saling peluk2, ada yang nangis segala (bapak2 yang pake kostum tradisional Bavaria: topi tinggi, rok lebar, bawa gelas besar, semua berwarna Jerman sekarang). Gank saya juga ampir bubar. Tapi saya tetap ngobrol ama dua orang anggota gank, Christian dan Wolfgang.

Christian nanya2 soal Indonesia, terutama Bali. N ngasih alamat rumah minta dikirimin postcard Indonesia.

HP tiba2 bunyi. Si Ninit masih nunggu di stasiun kereta tadi. Jadi aku bakal ke sana.

“You are going to leave us? No…” kata Christian ngebodor agak2 memelas.

“Hehehe.. iya nih.”

It was so nice meeting you. And as a phrase in Germany, all guests are friends…”

Hehe.. you hosts have been wonderful friends too..:)

“Thank you,” kata saya nyengir2. “And  congratulations..!”teriak saya sambil ngilang.

Kok sendiri?

Monday, June 19th, 2006

Orang2 kadang bertanya, traveling kok sendiri sih? Mana seru..?

Jawaban atas pertanyaan itu, adalah dua:

Satu, yep.. traveling sendirian itu boring luar biasa.

Dua, ga ada itu istilah traveling sendirian. You are either with friends from ur country, or everybody around you in the visited country will be your friends.

Dan .. option yang kedua itu jauh lebih seru daripada yang pertama. Karena dalam option yang pertama, kamu bakal mengisolasi dirimu bareng temen2mu, ngeliat2 keluar. You become no other than spectators.

Tapi di option yang kedua, tiba-tiba kamu bakal ngerasa sangat dekat dengan orang2 di sekeliling kamu, karena mereka ‘satu2nya’ orang yang bisa nemenin kamu. Kamu bukan lagi penonton, karena kamu harus jadi bagian dari mereka… you are entering the country you are visiting.

So, di akhir kata, sebisa mungkin, jalan2lah sendirian..:)