30 minutes with Daniel
9 Juni 2006, Munich
Sebelum pergi ke Olympia Stadium, ada cerita.
Karena di Ninit cuma bisa nginep gratis 3 hari, otomatis saya harus nyari host lain untuk hari keempat. Dan aku pun menemukan seorang Jerman dari site Hospitalityclub.org, bernama Daniel Horst.
Daniel ini nampaknya orang yang sangat baik hati. Kalo orang2 Jerman di site itu kadang2 suka ngeles kalo dimintain inep, dia ‘bela2in’ banget biar aku bisa nginep di tempatnya. Walaupun di hari itu juga dia harus siap2 buat nikahan temennya, n baru pulang dari Birmingham, n udah ada 2 orang cewek Brazil n satu cowok Mexico di tempatnya.
Hari itu, jam 2, saya udah ada di depan flatnya. N dia pun dateng, buru2 dari kantornya, pake mobilnya, “Hi, I’m Daniel. I only have about 30 minutes before I have to go again. So, let’s walk to have a cup of coffee..”
Maka kami pun jalan dengan buru2 di blok2 di sekitar situ. Orang2 Jerman pada naik sepeda dengan segala atribut Jermannya, siap2 tuk nonton pembukaan World Cup di Olympia Stadium deket situ, “Kamu ga akan nonton bola?”
“Ngga, saya bukan fans fanatik bola,” katanya, “Saya bakal main squash aja setelah ini.”
Dia umur 30an, tapi nampak thoughtful, dan wise, terlihat dari garis2 kerut di matanya setiap kali senyum.
Jalan2 dan flat2 di kiri-kanan kami juga sepi, seolah semua orang sudah pergi ke Olympia Stadium saat itu. Cafe pertama yang kami kunjungi juga ga buka. Jadi kita nyari2 cafe lain.
Sebuah cafe yang sepi juga, dengan kursi2 teras dalam bayangan gedung2, terlihat di seberang jalan. Kita memutuskan untuk duduk2 di sana aja.
“Untuk pertama kalinya di Jerman,” kata saya, “matahari bersinar.”
“Hehe.. ya. Mungkin doa presiden dikabulkan hari ini di gereja tuut (lupa ey namanya, pokoknya yang bermenara dua dengan bola sepak besar di altar yang saya kunjungi bareng Ninit sebelumnya)..”
“Hah?? Ada presiden juga di situ?”
“Hehe.. yup..!”
“Pantas saja doanya dikabulkan :D”
Tapi Daniel malah diem. “Maybe.. I dont believe in God actually. Bagi saya mungkin ini hanya kebetulan aja. Hari ini.. cerah..that’s all.” kata dia cuek sambil ngaduk juice yang baru dateng.
Saya senyum2 ngeliat dia. Selama semingguan di Jerman, udah 3-4 orang atheis yang saya temui. Emang bener ternyata kalo atheisme emang lagi happening banget di Eropa ini. So pasti saya jadi penasaran gituh..
“I’m quite curious actually. Apa sih nilai2 yang kamu pegang kalo gitu? Maksudnya, kalo saya, ya udah jelas nilai2 Islam. Saya berusaha ngikutin nilai2 itu dalem hidup saya. Kalo kamu, apa?”
Daniel kelihatan mikir sambil senyum2 sendiri, “Hmm.. apa ya? Mungkin respect aja kali ya? Saling hormat antar manusia.”
Oke.. nampaknya dia udah menunjukkan itu dengan baik banget dengan bela2in ngehost saya hari ini. “Jadinya aku nganggep semua ini kebetulan aja. Ga ada embel2 gaib di belakangnya. Kalo tsunami, itu berarti emang dua lempeng sudah waktunya tabrakan, bukan Tuhan lagi balas dendam. Kalo aku mati, ya aku akan hilang begitu aja, ngga lahir lagi di kehidupan selanjutnya atau apa..”
Dunia adalah rantai berantai sebab-akibat kejadian materi. Semuanya tidak lain adalah materi.
Tapi..“Aku pernah baca sebuah buku,” tanya saya masih tertarik banget, “buku postmodern movement, dari Saussure. Kamu tahu kan kalo posmodernisme itu sebetulnya ‘balas dendam’ terhadap modernitas yang serba.. materialistis?” Daniel ngangguk2 kalem. “Nah.. di situ, dia bilang, dalam dunia materialis, sebuah buku, tidak lain adalah lembaran2 kertas dan tinta. Tapi hanya itu sajakah buku? Tentunya tidak. Buku, adalah makna yang ada di dalamnya. Malah itulah yang paling penting. Dunia interior itu dapat kita rasakan jelas2, walaupun tidak terlihat. Dunia interior itu ada di sekitar kita, bahkan pikiran ada dalam dunia interior, tidak terlihat. Nah.. kalo semuanya materi, what do you think we are? Who are we? Who are you?? Apakah kita tidak lain adalah impuls2 syaraf atau jalinan respon kelenjar2?” kata saya asli penasaran, bukan lagi dalam rangka nge-judge atau menjatuhkan.
Daniel diem senyum2. Kali ini tampak menerawang serius, kerut2 wisenya masih tampak dalam matanya yang ‘dalem’. “I dont know..” katanya akhirnya, masih senyum kalem banget.
It was a meaningful 5 seconds pause.. kita berdua kayaknya lagi ngubek2 kedalaman masing2.
“But we will find out..” katanya lagi. “Dan back to God, saya rasa saya telah sampai pada suatu titik dimana ide akan adanya Seseorang di atas sana yang mengatur alam semesta ini nampak tidak masuk akal lagi.”
“Oke..” kata saya ragu juga kalo tiba2 teleskop paling kuat di dunia ini memang akan ‘menangkap’ seseorang serupa Zeus di langit hitam di atas, misalkan.. Btw, juice mangga yang saya minum rasanya enak banget juga lho!
“This is how this god-things occur to me..” lanjutnya, “Manusia, selama hidupnya dari jaman purbakala, selalu ingin mengerti hal2 di sekelilingnya. Karena itulah kita menamai hal2 di sekeliling kita. Nah.. tapi di antara penamaan itu, ada beberapa hal yang tampak misterius yang tidak bisa kita jelaskan, dan saat itulah kita menisbahkan kata ‘Tuhan’ padanya. Contohnya, zaman dulu, ada Tuhan Angin, Tuhan Laut, Tuhan Hujan, dst. Tapi kemudian, kini kita tahu bahwa kekuatan maha dahsyat dari badai, misalkan, tidak lain disebabkan oleh temperatur di sini berbeda sekian derajat dari temperatur di sana, plus tekanan2nya, sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi misterius.”
“Sehingga pada akhirnya…” lanjut Daniel serius “suatu saat.. kita akan sampai di suatu titik di mana tidak ada lagi yang misterius di dunia ini. Tidak ada lagi tempat di mana kata ‘Tuhan’ dapat kita nisbahkan..”
Aku diam. Berusaha merasa-rasa sepenuh jiwa bagaimana rasanya jadi dia, bagaimana jalan pikirannya..
“Sehingga, saya merasa, Tuhan adalah ciptaan pikiran manusia. Ia ada karena manusia membutuhkanNya. Walau pada hakikatnya tidak ada lagi tempat untukNya. Ketika saya berdoa, saya tidak lain sedang berbicara pada diri saya sendiri.”
“Seperti kontemplasi maksudmu?”
“Ya. Dan saya tidak mau itu, saya lebih milih nge-share masalah saya dengan teman2 saya, sambil main squash.”
“Dan mungkin, lebih lagi,” tambah saya agak ngelamun, “atheisme makin marak karena Tuhan yang dipintai solusi itu pun tampak tidak pernah menjawab. Atheisme muncul di antara reruntuhan Auschwitz, kutip Karen Armstrong, dari jeritan hati manusia karena cintaNya memang tidak pernah terlihat di muka bumi ini…”
“Tepat sekali.” Kata Daniel. “You see..” lanjut Daniel “in the end… kita tidak akan punya tempat lagi untuk ide akan Tuhan..dan in the end..we dont really need Him as well.. ”
Long pause again..
Then my heart wants to say something… “Hahaha…, I dont know about you, but to me.. saya lebih meragukan keberadaan diri saya sendiri daripada keberadaan Tuhan. Untukmu, tidak akan ada lagi Tuhan. Tapi untuk saya, hari demi hari saya merasa kalau tidak ada yang lain selain Tuhan, dan dunia inilah yang boongan!”
Daniel nyengir lebar sambil bertopang dagu.
“Seperti penamaan tadi,” lanjut saya, “dapat terjadi karena dunia ini adalah dualitas. Gelas juice di tangan saya ini, dapat saya namakan gelas karena ada benda2 di sekelilingnya yang bukan-gelas. Sehingga saya setuju denganmu, the Believed, eksis karena adanya believer. Masing2 ada karena yang lainnya.”
“Tapi pada akhirnya,” lanjut saya, “hanya ada Satu. Dan apakah akan kita namakan dunia, seperti yang kamu bilang, atau Tuhan, seperti yang saya bilang, tidak masalah. Yang ada hanya One itu..dan karena yang ada hanya Satu, penamaan juga tidak masalah lagi..”
Daniel masih menopang dagu, dan entah dari mana, kita berdua meledak dalam tawa euphoria. Magical atmosphere seperti tiba2 turun..
Malam harinya, jam 12 malam, habis menonton pembukaan World Cup, saya jalan bersama Ninit yang tadi nunggu di stasiun kereta. “Eh Mar, tadi ada yang bales pengumuman elo di internet. Ada dua cewek Brazil yang mau sharing tiket kereta ke Berlin ama kamu besok.”
(Di Jerman ini, ada diskon kereta setiap weekend: Schones-Wochenende Ticket. Ke tujuan manapun di Jerman, cuma 30 euro, n bisa disharing ama maksimal 5 orang. Kalo tiga orang, berarti masing2 cuma 10 euro, ampe Berlin lagi..)
“Cihuuuy… thanks Nit..!”
Sampai rumah Daniel, suasana ternyata udah penuh orang. Dan.. yup.. dua orang cewek Brazil telah datang, dan mereka adalah.. dua cewek Brazil yang tadi Ninit bilang…!
“Oh my God.. Can you believe that??” kata Lea, seorang dari mereka, ke Daniel. “Hahaha…” Daniel ketawa ga kalah amazed.“Well..maybe now I’m starting to believe in God..” katanya pelan sambil senyum2 penuh makna.
Dan di belakang kehebohan dua cewek Brazil dan Ninit di ruang itu, Daniel ngehampirin saya sambil ngasih sebuah gift: kompas (karena sebelumnya saya shalat harus nyari2 matahari segala). “Is it coincidence… or destiny..?”
“…Either one.. it’s just a name..”

June 19th, 2006 at 9:39 pm
Hiks3, terharu gw ama percakapan kalian… entah mengapa…
June 19th, 2006 at 10:44 pm
deep..
saking deepnya mpe aku tenggelam.. menyatu dan melebur dgn yg laen.. :p
June 20th, 2006 at 1:05 am
marina, GAWD, post-an kamu ini mengingatkan gua tentang betapa cerdasnya temanku ini. recalling post-an kamu yang sebelumnya, yeah it is much more interesting travelling alone and being not merely a spectator.
June 20th, 2006 at 1:07 am
gila ya…..kenap kamu gak coba nulis sebuah novel…terus lu kasih ke penerbit….pasti ngedatengin duit yang bejibun…secara kamu juga pinter nulis….pengalaman2 loe tu menarik banget mar…jaga diri baek2 ya mar…
June 20th, 2006 at 2:32 am
Keren keren, sumpah terhanyu banget deh gw …..
June 20th, 2006 at 9:38 am
setiap tulisan ada pertanggung jawbannya…?!
ada sedikit konsep pemikiran liberal, untuk level awam agak berat!(khawatir salah tafsir)
pendapat gua “Allah ada karena kita Ada!”
herumetic harus di batasi “Al-Quran dan hadist”
June 21st, 2006 at 12:26 am
selain kekhawatiran yang disampaikan Gatot diatas, i feel postingan ini yang paling berbobot. ngerasa nyatu sama kamu…dan aku ngebayangin lo Mar, waktu kamu nyumput di satu tempat di park stadium itu.
tapi emang bener….mesti ada pengantar yang nunjukkin bahwa “tulisan ini untuk dibaca oleh seorang adventure”
Sok lah….
kayaknya kalo dibikin diary tentang perjalanan kamu dalam sebuah novel….
urang siap bantu. dan siap bantu cari sponsor…
(eiger? , djarum?, energen?, garuda indonesia/(pake pesawat apa lu ke jerman?, dll.)
kayaknya bakal jadi inspirasi untuk kita orang indo untuk bisa
“membelalakkan mata untuk menerawangi cakrawala keberagaman manusia dan mentafakuri ke-Akbaran-Nya”
kumaha hadirin…?
June 21st, 2006 at 2:02 am
Mantep….
Bikin buku tentang perjalanan lo , bagus juga tuh !!
June 21st, 2006 at 8:23 pm
mar, harusnya kamu baca pengumuman ini sebelum mutusin “berbangkrut ria” di eropa sana hehehhehe….
Global Xchange is a-18-25-year-old-volunteers exchange programme, which gives young people from different countries a unique opportunity to work together, to develop and share valuable skills and to make a practical contribution where it is needed in local communities. For 6 months the volunteers will be paired up with counterparts from UK. They will live and work for 3 months in a community in the UK and for 3 months in a community in Indonesia.
We are currently looking for volunteers as the Global Xchange Programme will be started in September 2006 until March 2007. The complete information on how to apply is available on our corporate website: http://www.britishcouncil.org/indonesia-connecting-futures-global-exchange-volunteer.htm
Closing date for receipt of applications is Monday, 3 July 2006, 17.00 at British Council - Jakarta Stock Exchange, Tower II, Lantai 16, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52 -53, Jakarta 12190, Indonesia or email us to GX@britishcouncil.or.id
It is important that candidates use the application form which can be downloaded from the website.
Only short listed candidates will be given an official notification from the British Council. Those who are selected will be invited to attend the Assessment Days which will be held between 17–24 July 2006 in Makassar.
British Council is committed to a policy of equal opportunity and welcomes applicants from all sections of the community. We guarantee an interview to disabled candidates who meet the essential criteria.
Many thanks,
GX Team
This message is for the use of the intended recipient(s) only.
If you have received this message in error, please notify the sender and delete it.The British Council accepts no liability for loss or damage caused by software viruses and you are advised to carry out a virus check on any attachments contained in this message. Our purpose is to build mutually beneficial relationships between people in the UK and other countries and to increase appreciation of the UK’s creative ideas and achievements. The British Council is registered in England as a charity.
June 21st, 2006 at 8:54 pm
…Bagi saya mungkin ini hanya kebetulan aja. Hari ini.. cerah..that’s all..
haha…I don’t believe in coincidence either..I like this story more =)