Aarrrgghhh!!

Stay

12 Juni 2006, Berlin

Cara paling enak untuk keliling2 kota di Jerman, adalah dengan sepeda. Kenapa? Karena satu: gratisan booo..

Kedua, di Jerman ini trotoar udah dibangun sedemikian rupa sehingga tidak ada jalanan tanpa trayek tuk sepeda. (Masuk kereta pun sepedanya boleh dibawa) Ketiga, sepeda itu ga terlalu lamban dan nyapein kayak jalan kaki, tapi juga ga terlalu cepet sehingga ga bisa menikmati keadaan sekeliling. Keempat, tentunya menyelaraskan diri dengan kampanye sayang-lingkungan ala Jerman.

            Jadilah hari ini, saya bakal keliling2 Berlin pake sepedanya Sara. Sara nunjukkin di peta rute2 yang sebaiknya saya lalui. Dan off we go!!

            Sepeda Sara yang sangat ergonomis itu melalui trotoar2 Berlin yang riuh. Dan sepuluh menit kemudian, sudah sampai di tembok Berlin – East side gallery – sebelah sungai Spree. Kalau aja Sara ga nandain peta bahwa di situ ada “tembok Berlin”, saya pasti udah lewat aja dengan cueknya. Mesin2 pembangunan sedang menderu di sekitar situ, suasana berdebu, gak kayak tempat bersejarah sama sekali. Dan temboknya juga ga terlalu tinggi, bocel2 ga signifikan, dan dipenuhi grafiti2 ‘biasa’. Seluruh tembok di Berlin juga bergrafiti gituh..

            Tapi, inilah memang tembok yang pernah jadi simbol pemisah dunia kapitalisme dan komunisme di Berlin. Di salah satu temboknya, ada lukisan pemimpin kedua sisi (siapa ya namanya?), akhirnya ciuman setelah tembok Berlin runtuh (hehe.. plis deh!). Saya jalan menyusuri tembok 300 meter itu sambil nyentuhin tangan ke tekstur kasarnya.

            “Sebetulnya, Berlin Barat dan Timur masih bisa kamu rasakan lho perbedaannya,” pernyataan Sara terngiang-ngiang. Saya ngeliat ke kanan saya, Berlin Timur, dan memutuskan untuk bersepeda ke sana. Memang terasa perbedaannya. Dari Berlin Barat yang banyak ornamen dan hiasan, ke Berlin Timur ini yang segalanya seperti serba fungsional. Agak sepi, dan lanskapnya kerasa sangat lega. Saya bersepeda terus hingga mencapai sebuah jalan: Karl Marx Allee. Sebuah jalanan besar dengan mobil2 cepat berada di antara bangunan2 super besar dan megah khas komunisme. Jika lanskap daerah rakyatnya biasa2 saja, lanskap pemerintahan lah yang bagus. (Iya lah.. uang rakyatnya mengalir ke sana semua.)

            Setelah puas mengagumi bangunan2 besar itu, yang sekarang tidak lain jadi toko2 dan cafe2, saya berbalik tuk menuju tempat selanjutnya: pulau museum. Disebut pulau karena merupakan delta dalam sungai Spree. Dan rasa2nya saya masuk lagi ke Berlin Barat, jalanan menyempit, bangunan mengecil, banyak ornamen, riuh.

            Dan sampailah saya ke pulau museum.

Arrgghh…!! adalah kata yang saya ucapkan dalam hati berkali-kali. Bangunan2 berarsitektur indah edan tersebar di mana2. Sungai Spree pun menjadi sangat cantik dibingkai trotoar2 berkafe dengan pagar2 mendetil. Saya terus jalan dan melewati monumen Neptunus, Katedral Berlin, Museum Altes..

Aarrggh..!!

Di antara bangunan2 itu, terdapat sebuah taman yang didekasikan pada “one of the finest German children”: Karl Marx, dan Frederich Engels. Di situ, patung Marx dan Engels berwarna abu2, bertengger di antara patung2 yang dimaksudkan untuk menceritakan ‘betapa makmurnya rakyat dalam naungan komunisme’. Saya ingin berfoto dengan Om Marx dan Engels itu, tapi saat itu tidak ada teman. Setelah celingukan cari2 orang, seorang bule berbaju merah terang datang dan mengerti.

“Terima kasih, kamu tidak ingin difoto juga?” tebak saya akan aksen Amerikanya. “Emmh.. saya gak bawa kamera. Lagipula, I am a venture capitalist, so it will be a bit of irony.” Kita berdua nyengir2.

“Oh ya? Memang apa kerjaanmu?”

“Saya pemilik bisnis mikrochip. Lagi perjalanan bisnis ke Inggris, Perancis, Jerman, lalu saya akan ke Austria, ke Swiss – ke CERN, dan kembali ke California.”

Hoo.. pikir saya kagum.

Setelah ngobrol2 bentar, saya dadah2 dengan sang kapitalis. Dan dari taman Marx, ke Potsdamer Platz. Sentral bisnis pusat kapitalisme Berlin yang dibangga2in banget sebagai daerah paling modern.

Dan suasana yang lebih familiar pun beredar dimana2. Mall2, Sony Centre, Starbucks, McDonald, Dunkin Donuts.. dengan bangunan2 yang berarsitektur kontemporer banget, bergelas-gelas kaca dengan detil2 mengagumkan.

Aargghh!

(Di dalem Sony Centre, keramaian sedang terjadi. Tentunya, nonton bareng bola.)

Dari Potsdamer Platz, peta Sara membimbingku ke sebuah monumen beken di Berlin: Brandenburger Tor. Saya bersepeda ke sana dalam terik matahari (untungnya ada cowok2 Kroasia yang cakep2, siap2 mendukung pertandingan besoknya, jadi ngga terlalu watir lah..:D) Monumen Brandenburger Tor itu sempet jadi monumen pemisah antar Berlin Barat dan Timur, tapi setelah tembok Berlin runtuh, malah jadi monumen persatuan Berlin :D Di atas gerbang itu, ada patung Quadriga, Dewi Kemenangan, naik kereta yang ditarik empat kuda.

Kenapa empat kuda? Aku juga ingin tau tentang simbologi itu. Ada yang bisa bantu?

Kenapa Quadriga? Kayaknya sih, emang pas banget ama mentalitas Jerman yang selalu ingat win.. win.. win…

Tapi ada yang berbeda dari Brandenburger Tor kali ini. Secara, ada big screen di belakangnya. Ribuan penonton lagi seru2nya juga nonton bola. Ck ck ck..

Deket dari situ, aku pergi ke Reichstag, gedung parlemen yang indah banget. (Aarrggghh!!) Tanggal 2 October 1990, persatuan Berlin Barat dan Timur disahkan di sini. Dan betapa bahagianya, turis bisa masuk gratis di sini. Di atas gedung itu, ada kubah kaca yang dibangun Sir Norman Foster tahun 1999. Kita bisa ngeliat Berlin 360 derajat dari sana. Maka naiklah aku pake lift, sampai di dalam dome tadi. Di tengahnya, ada monumen serupa kerucut yang ‘menusuk’ ke dalam Reichstag.

Di sepanjang sisi dome, ada jalan naik. Aku jalan di situ sambil ngeliat2 keluar. Semakin naik, Berlin semakin kelihatan. Setengah dome, Berlin Timur, gedung2 besar didominasi warna coklat dan putih. Setengah dome lain, Berlin Barat, lebih renyek, penuh pepohonan, dan kecil2 bangunannya.

Pilih mana, kanan, kiri? Kiri, kanan?

Saya sampai di puncak dome. Kerucut besar di tengah dome berpangkal di situ, pangkalnya menghadap ke atas puncak dome yang ternyata bolong! Langit biru jernih terbuka di atas saya. Turis2 tiduran di sekeliling pangkal kerucut itu sambil ngeliatin langit di atas. Ikutan juga ah! Ide2 ‘kanan-kiri’ seperti larut dalam kejernihan langit di atas. Dan kemudian.. (seperti tiba2 membaca pikiran Norman Foster) mungkin kejernihan itu lah yang ingin dimasukkan ke dalam parlemen. Saya memandang menyusuri kerucut besar di belakang saya; langit jernih ‘terhisap’ masuk ke dalam Reichstag..

Kebahagiaan tidak berakhir di situ. Sehabis Reichstag, saya menghampiri tempat terakhir yang Sara suratkan tuk saya: monumen Siegessaule. Saya mengayuh sepeda menyusuri Str des 17 Juni, dan sampailah saya.

Matahari sudah hampir terbenam, monumen keemasan itu bersinar dengan indahnya. Tapi.. tunggu.. kok familiar ya? Monumen di depan saya dengan jalanan di sekitarnya ini… Saya pernah melihat pemandangan ini sebelumnya.. Sering malah! Di mana ya?

Dan aku pun nyadar, ini kan monumen yang ada di video klip Stay?? Lagu Stay pun otomatis berputar dalam kepalaku – lagu dramatis itu. Suasana sore yang hening dengan kelap-kelip samar mobil mengalir terus di sekitar. Aku seperti terlempar ke dunia lain..

Aarggghhh!!!

3 Responses to “Aarrrgghhh!!”

  1. shafiq Says:

    Hi… keren banget tuh cerita di blognya… ayo terus… heheheh… gw senang banget ngeliat elo berhasil merealisasikan mimpi elo…
    hm3x… harusnya gw ikut ke sana ya… bertualang bareng elo…
    hahahah :))

    ok deh… bakalan gw pantau terus deh perkembangannya ya…

    cerio kiddo :)

  2. Gatot Says:

    “seberapa besar pun ujian dan masalah yang lo hadapi, Jangan pernah berhenti Berkarya!”

  3. Fery Says:

    loh…
    marina.. koq kamu ke Jerman? ngapain backpacking? biaya sendiri? wah mau dong diajak… :D hehehe.. ke Bremen ga? bawa oleh2 ya.. ;) ato klo di berlin foto’in foto di stadion sepak bolanya ya… :D

Leave a Reply