Land of Ideas

Nathalie_139

12 Juni 2006, Berlin

Waktu aku sampai di Altes Museum pas tur keliling Berlin pake sepeda itu, matahari lagi bersinar terik2nya. Haus n laper, rehat lah aku di tangga2 di museum itu. (Bikin Energen, hehe..)

            Taman Lustgarden terbentang hijau di depanku. Anak2 muda Berlin nongkrong2 sun bathing. Banyak yang baca buku, ada yang ngegosip, ada yang ngelamun, dan seorang cowok lagi latihan ngelempar2 semacam bola merah untuk pertunjukan sirkus.

            Di sebelah kiriku, sebuah monumen yang unik berdiri. Tulisan E=MC2. Di sinilah Einstein menemukan teori paling tersohor itu. Seperti yang tertulis dalam keterangan dekat monumen itu, Jerman ini memang land of ideas. Seperti yang sedang terjadi di kepala2 anak muda di depanku ini yang sedang serius baca buku.

            E=MC2  

            Aku pun ikutan larut dalam land of ideas, ngelamun menghayati rumus itu. Suasana tiba2 menjadi begitu sepi..

            Yang kutahu, ia adalah rumus yang benar2 menjungkirbalikkan pandangan akan dunia. Dunia bukan lagi balok2 solid yang terpisah seperti sudut pandang Newton. Sebaliknya, segalanya seperti tarian energi, serba cair dan mengalir. Materi tidak lain adalah energi yang terpadatkan. Energi, E, adalah materi, M (yang dilajukan dalam kecepatan cahaya, C2). Materi, pada hakikatnya, adalah energi. Semuanya adalah aliran.

            Yang ada hanyalah aliran..

            Dan energi ini hanya berubah2 saja wujudnya. Tidak pernah terciptakan, tidak pernah hilang. Energi gesekan berubah jadi energi panas, kemudian jadi energi … terus jadi energi … kata guru Fisika SMP dulu. Tapi energi sendiri ga pernah musnah. Karena totalitas energi harus tetap sama, maka energi2 kecil harus terus patuh terhadap keseluruhan energi.

            Karenanya, energi2 kecil itu harus membentuk satu kesatuan. Segala sesuatunya harus kompak, harus Satu..Related.

            And to say everything is related is to say everything is relative..

            Karenanyalah, kata Einstein, dunia ini sebetulnya relatif.

            Lamunanku kini jatuh pada si cowok yang sedang sirkus dengan bola merah di depan. Semuanya relatif. Dari posisi saya, si bola merah lah yang sedang bergerak2. Tapi kalau si bola merah yang dijadikan pivot, seluruh bumi inilah yang lagi bergerak2.

            Dan pada hakikatnya, tidak ada yang tahu siapa yang bergerak dan siapa yang diam..

            Bayangkan.. lamunanku terus bergulir, saya mengapung-apung di kehitaman langit. Bayangkan tidak ada bintang, planet, udara, tidak ada apapun. Hanya saya sendiri mengapung2 dalam kehitaman total. Lalu kemudian, tiba2, seseorang lain muncul di depanku. Dia terlihat mendekat. Tapi, sebetulnya, kita tidak bisa tahu, saya kah yang sedang mendekat ke dia, atau dia kah yang sedang mendekat ke saya. Tidak ada referensi untuk mengatakan itu. Tapi kemudian, muncul orang ketiga di samping kami yang terlihat diam. Relatif terhadap orang itu, ya, dapat dikatakan kini siapa mendekat ke siapa. Tapi, betulkah bahwa pada hakikatnya demikian? Jika si orang ketiga melihat orang kedualah yang bergerak mendekati saya, si orang kedua juga sah untuk mengatakan bahwa saya dan orang ketigalah yang bergerak2 bersamaan. Tidak ada yang tahu sebenarnya siapa yang bergerak, siapa yang diam.

            Begitulah juga keseluruhan alam ini bergerak2 dalam kekosongan hitam, tidak ada kebenaran mutlak. Saya katakan bola merah itu bergerak karena yang mengatakan adalah saya, yang sedang diam. Tapi diamnya saya juga relatif terhadap apa dulu?

            Begitulah sifat relativitas ruang. Dan kemudian, lahir juga ide Einstein yang lebih luar biasa lagi (setidaknya menurut saya): waktu adalah dimensi keempat. Ide yang luar biasa, tapi juga ide yang tidak dapat kurasakan hingga sekarang. Secara teori, ya, waktu adalah dimensi keempat dari ruang. Sehingga dapat dikatakan bahwa waktu itu juga tidak mutlak bergulir dari masa lalu hingga masa depan. Waktu dikatakan bergulir seperti itu karena yang dijadikan titik referensi adalah manusia yang ‘bergulir ke depan’ sejak lahir hingga mati. Dalam percobaan2 fisika modern sendiri, seringkali terlihat bahwa partikel2 tertentu baru ‘masuk akal untuk dimengerti’ jika dinyatakan dalam kerangka waktu mundur..

            Unbelievable, isnt it?

            Tapi aku masih tidak dapat memahaminya, lamunku berlanjut. Aku belum merasakannya. Terlalu jauh rasanya untuk berpikir Lustgarten di depan ini dan langit di atasnya berada dalam waktu yang relatif. Ayo… diriku mengharap sambaran ilham yang waktu itu sampai ke kepala Einstein dapat kurasakan juga di sini.

            Alih-alih, teringat sebuah kisah lain. Sebuah kisah dalam komik Zen, tentang master Zen Huineng. Sesaat sebelum penisbahannya sebagai seorang master Zen, Huineng datang ke sebuah lapangan di mana sedang ada khotbah keagamaan. Di antara murid2 yang ada di situ, ada yang nyeletuk, “Hey, lihat! Bendera bergerak!”

            Murid lain di situ menanggapi, “Goblok kamu! Yang bergerak angin, bukan bendera!” Dan kedua murid itu pun kemudian bertengkar, “Bendera!” “Angin!” “Bendera!” Angin!”

            Hingga kemudian, Huineng pun tiba2 bersuara, “Yang bergerak bukan bendera atau angin, melainkan pikiran..”

            Yang bergerak adalah pikiran.. yang bergerak adalah pikiran.. yang bergerak adalah pikiran.. ulang saya terus berharap sambaran pemahaman hinggap di kepala.

            Tapi tidak.. aku tetap tidak dapat merasakannya

            Lamunanku terhenti oleh sebuah suara yang familiar, tepat duduk di sebelahku. Seorang cewek Brazil.

            “Ya Tuhan.. Lea…?”

            Si cewek Brazil yang kutemui di rumah Daniel di Munich.

            Unbelievable. Kenapa kita selalu bertemu secara tidak sengaja? (Atau lebih tepatnya, kenapa saya harus selalu bertemu orang yang agak menyebalkan ini? hehe…)

            How come we always meet?” tanya saya melongo.

            Tapi Lea terlihat biasa2 saja, “Well, there is a saying that people always meet twice in Berlin. It’s a small city, you know?”

            Small city? I dont think so. Ini kota terbesar di Jerman gituh..

            Dan Lea pun berusaha pergi dari situ agak2 cepet. N dia kini udah gak ama Katarina, temennya berantem dulu di kereta. Hmm.. no wonder, pikir saya sebel.

            Coincidence or Destiny...

Apapun namanya, terasa begitu amazing.. Dan aku terus berusaha merasa2, di balik label bahwa ‘waktu itu relatif’, berusaha merasakan sendiri betapa amazingnya itu..

            Aku bangkit ke arah sepedaku setelah tidak berhasil merasakan apa2.

            Maybe next time.. Mungkin ada pelajaran lain yang harus kupelajari..

(Seperti .. blajar tuk ngga dongkol ama snobs kayak Lea n Katerina gitu? hehehe....)

3 Responses to “Land of Ideas”

  1. ' -Taufik R - ' Says:

    duh hobiku bersepeda, ternyata sy cocok jg ya disana :P. bisa jalan2 dgn leluasa.. pingin ksana lah kpn2.. :)
    mm.. renungan semacam ini pernah jg kurasakan..
    panjang dan lama banget sampe sadar udah adhan maghrib..
    alam ini mmg misteri, pdhl ini hanyalah sdikit tanda2 kekuasaan-Nya..

    btw, rame euy tulisannya..rajin..

  2. komunitas Says:

    entar gua commentnya lewat email aja ya Mar! soalnya gw agak agak sussah ngebuka fs gua!(pesen lo juga blum gua baca) dan kayaknya kritikan dan saran gua lumayan banyak….?!!!
    by kumuh

  3. Nur Says:

    Wah bener ni marina petualang dan pemikir, coba klo kesananya ngajak2 mungkin lebisa lebih asik lagi iya nggak pik … :), hayo pik kita nyusul

Leave a Reply