Musisi2 jalanan
Saya, Sara, Alice, dan Aleka sampai di sebuah taman bernama Marienplatz (Berlin) untuk nonton sebuah festival. “Apakah ini terjadi setiap minggu?” tanya saya ke Sara. “Ya.. sekitar 3 mingguan..”
Kami sampai di sebuah kebun berpanggung. Anak2 muda ‘warna-warni’ duduk2 nonton seorang musisi cewek manggung di depan. Panggung dan sound system ala kadarnya, tapi setelah duduk cuma 5 menit, saya enjoy banget aja gitu duduk di situ. Musiknya enak banget, original; dalam setiap bagian lagu kayaknya ada sesuatu yang spesial.
Makin lama, lagu2nya makin asik. Semua penonton di sekeliling saya makin senyum2 ngikutin beat musik yang makin lama makin cepet. Kayak campuran antar.. Tori Amos, n penyanyi2 cewek Perancis yang simple tapi poetic..
“Namanya Kleingeldprinzessin: putri para pengamen,” kata Sara.
“Oh..” julukan yang tepat. Soalnya musiknya bakal enak banget juga tuk dinyanyiin cuma pake gitar akustik.
“Kamu punya CDnya?” tanya saya.
“Ya, dari internet,” jawab Sara, “Dia tidak punya CD beredar di toko2 musik. Tapi gimana pun dia tetap populer di Berlin.”
“Maksudmu, dia tidak major label?”
Sara mengangguk. “Aneh sekali, padahal musiknya bagus. Dengan peralatan minim saja terasa enak.”
“Banyak yang menawarkan sebetulnya, dianya aja yang ngga mau. Alasannya indie banget..”
Konser berakhir, tapi sekitar 80 orang di park itu memintanya untuk kembali lagi ke panggung. Permintaan pun dikabulkan oleh sang putri yang datang kembali sambil ketawa-ketiwi, “Danke..”
Konser pun berlanjut. Dan anehnya, ternyata dia belum kehabisan stok lagu asyik satu pun. “Itukah juga alasannya banyak toko2 home-made di sini? Karena alasan ‘indie’ yang sama?”
“Hmm, kamu bisa menemukan banyak McDonald dan Starbucks di pusat kota sih. Tapi di sekitar sini, ya, penduduk lebih memilih untuk pergi ke tempat2 seperti itu. Memang sedikit lebih mahal dari toko2 mass product. Tapi manfaatnya lebih baik bagi masyarakat keseluruhan di daerah ini, karenanya kami rela saja mengeluarkan uang lebih..”
Konser berlanjut dan semua orang sudah mengangguk2an kepala mengikuti beat. Sang putri tersenyum2 seperti sedang dalam keadaan trance. Musisi2 semacam ini sebetulnya selalu membuat saya kagum. Coba tanyakan pada diri sendiri, dalam semua hal yang kita lakukan, berapa banyak yang kita lakukan tanpa ingin mendapatkan recognition? Berapa banyak hal yang kita lakukan yang: orang lain pun tidak perlu tahu karena kita udah cukup senang hanya dengan melakukannya? Sekolah? Traveling? Bahkan pacaran pun seringkali diikuti embel2 recognition: “Hey.. look, I got the lady/guy!”
Saya teringat masa2 kecil saya dulu ketika saya masih senang menari balet. Satu dari sedikit hal murni yang saya lakukan hanya karena saya suka; orang2 tidak tahu pun tidak apa2. Menari karena tarian itu sendiri, period. Begitulah di pandangan saya musisi2 semacam ini. Terus bermusik bukan karena fame, atau uang, tetapi karena musiknya itu sendiri.
Musik mereka jauh lebih besar daripada diri mereka sendiri.
They are not stars… they are the black sky itself.
However, saya hanya berharap akan ada yayasan yang menopang hidup rare pearls ini.
June 25th, 2006 at 11:04 pm
coba kalo di indonesia ada yang kayak ginian ya….
June 27th, 2006 at 8:59 am
“Iya deh! Ibu guru…?!”