Archive for June, 2006

Kehangatan khas Bavaria

Wednesday, June 14th, 2006

Nathalie_187_8

6 June 2006, Munich

Ninit - hostku selanjutnya - sudah menunggu di toko bunga main gate Munchen Hauptbahnhof. Doi itu sobat karibku sejak 8 tahun ke belakang, dan sedang magang di firma arsitek di Munich. Kita langsung jalan ke seputaran pusat kota - menuju sebuah area bernama Marienplatz. Sebuah gedung mahkamah agung dengan arsitektur yang sangat indah sudah langsung menarik hati.

Dalam Marienplatz, kita terus jalan ke dalam town square yang digerbangi sebuah benteng besar dengan air mancur . Di dalamnya, ternyata memang toko-toko lagi, tapi semuanya berada dalam bangunan-bangunan kuno yang indah. “Jika toko-toko itu tidak ada, bangunan2 ini pasti sudah tergusur,” kata Ninit menanggapi protesku kenapa bangunan2 kuno itu sudah ‘tercemar’. Hmm, simbiosis mutualisme yang indah..

Ketika kami jalan, dua orang cowok bule tiba-tiba menghampiri dan mengajak ngobrol. Jadilah sore itu kami berjalan-jalan berempat. Nama mereka Axel, dan Dennis. Axel nampak tahu banyak tentang bangunan2 di situ. Kami melewati sebuah gereja bermenara dua yang terlihat sangat tua, dan masuk ke dalamnya. Di dalamnya, terlihat pemandangan gereja yang lumrah, lorong memanjang dengan altar di ujung. Ketinggian bangunan itu, dan nyala-nyala lilin yang ada di sekeliling, menambah syahdu suasana. Kami jalan terus menuju altar, beberapa orang sedang berkerumun di sana. Saya mengharapkan akan melihat sebuah altar indah dengan lilin-lilin di atasnya. Tapi salah total, karena saya hanya melihat sebuah bola sepak besar, yang ditempeli negara-negara dunia! Sebuah globe dari bola sepak. Setelah tanya2 ke orang2 di situ, bola itu ternyata untuk doa bersama menjelang Piala Dunia 3 hari kemudian. Saya melongo heran!

“Dan apa yang akan didoakan? Agar Jerman menang Piala Dunia?” Axel tertawa,

“Ya, agar Piala Dunia berlangsung lancar dan aman2 saja. Dan ya sih, agar Jerman menang Piala Dunia, hehehe..”

Kami berjalan keluar gereja itu. “Kamu orang Kristen?” tanya saya pada Axel dan Dennis. “Dulu,” kata Dennis, "Tapi sejak usia 20 saya kehilangan kepercayaan pada Gereja.”

“Oh ya? Apa yang terjadi?” “Hmm.. saya merasa agama Kristen seolah telah menjadi sekadar ritual. Spiritnya - intinya - sudah hilang sama sekali."

Kami berjalan terus hingga mencapai sebuah daerah bernama Karlsplatz. Di depan sebuah bar, Axel dan Dennis mengundang kami untuk masuk dan minum a couple of beers. “Kami tidak minum alkohol,” tolak kami sambil nyengir2 polos. Dan beruntungnya kami bertemu oran g2 yang pengertian. “Kalau begitu kami juga tidak akan minum alkohol di dalam.”

Bar itu adalah satu dari banyak bar ‘khas-Bavaria’ di Munich. Suasana yang sangat hangat oleh nyala-nyala lilin, dengan para kerabat berbincang-bincang akrab sambil minum bir. Saya agak heran, bir memang ternyata hanya seperti minuman sosial di Eropa ini. Orang2 ‘bertampang baik’, seperti kakek-nenek, atau bahkan Dennis/Axel ini, semua minum bir. Seperti kita minum.. Coca Cola lah! Tidak seperti image yang sering saya rasa di Indonesia.

Tapi bagaimanapun, kita tidak meminumnya. Jadi saya dan Ninit memesan semacam lemonade dan apple juice. Suasana kekeluargaan yang ada di dalamnya membuat saya merasa lebih nyaman daripada ketika saya masuk Irish Bar O’Reilley’s di Frankfurt. Saya kira orang2 Bavaria adalah orang2 sangar di Jerman. Ternyata, di sini saya lebih merasa seperti di rumah: akrab, hangat. Sangat berbeda dibandingkan Bankfurt.

“Kami baru saja mengikuti sebuah kursus. Kursus.. vitamins for the soul..” kata Axel.

“He?" saya rada heran, tapi segera mengerti.. "Maksudmu.. spiritualitas?”

“Ah ya, itu istilah yang tepat!”

“Hm! Apa saja kegiatannya?”

“Hari ini kami membahas tentang kekuatan dongeng. Seperti Lord of The Rings, yang sebetulnya hanya dongeng, tapi sebetulnya memiliki makna lebih tinggi, bahkan berkekuatan untuk purifying souls.” Saya dan Ninit mendengar pengalaman mereka dengan seksama.

“Saya pernah mendengar tentang itu," kata saya ingat sebuah buku berjudul Zen n the Art of Motorcycle Maintenance, "tentang kekuatan dongeng untuk memurnikan jiwa2. Saya kira itulah yang terjadi dulu di Yunani, dan bahkan Socrates sendiri pernah ‘mengarang’ sebuah kisah sebagai analogi pencapaian jiwa kepada Tuhan. Bahkan kitab-kitab sucipun konon adalah analogi untuk membimbing jiwa2 manusia. Dan bahkan interpretasi semacam ini begitu pentingnya karena jika semua itu ditafsirkan secara literal, hasilnya hanya terorisme.”

Sepertinya dibutuhkan penjelasan lebih lanjut.

“Seperti contohnya, Al Qur’an memiliki banyak kisah peperangan. Jika itu ditafsirkan secara literal, tentunya yang kita tangkap adalah: "wahai manusia, berperanglah selalu!" Tapi ada tafsiran lain yang lebih dalam, yang mengatakan bahwa peperangan di Quran harus lebih dianggap sebagai peperangan dalam diri sendiri, antar baik dan buruk.”

“Jika kita menafsirkan sebuah kisah sebagai analogi, ia akan menuju langsung ke hati kita. Jika kita menafsirkan sebuah sebagai kebenaran saklek, ia akan berputar-putar di kepala kita -dan ngaco jadinya,” kata Axel.

“Ya, tepat sekali..” kata saya sambil senyum2.

“Itulah apa yang kami lakukan dalam kursus ini, kami semua percaya bahwa dongeng, atau bahkan naskah2 kuno itu sebetulnya memiliki makna akhir yang sama. In bold words, sesungguhnya semua agama itu memiliki inti yang sama. Inti itu, tidak lain adalah hati. Karenanya kami percaya bahwa kapanpun kita mengkuti sebuah ritual, selalu tanyakan pada dirimu jika ritual itu sesuai dengan hati nuranimu. Jalan boleh berbeda2, tapi karena pusatnya sama, maka kita akan sampai di tempat yang sama pada akhirnya,” lanjut Axel lagi.

“Karena itukah kamu kehilangan kepercayaan kepada Gereja?” tanya saya pada Dennis.

“Ya, karena sepertinya semuanya hanya set-set peraturan dan ritual, permukaan2. Tidak ada pusatnya. Tidak ada jiwanya.”

Ngga’ nancleb lah istilahnya..

“Ini semua mengingatkanku pada seorang Sufi. Dia bilang, ada dua jalan ibadah manusia. Yang pertama, adalah bergelut di ritual2 eksternal, hingga akhirnya, sampai kepada intinya. Tapi ini jalan yang beresiko, karena selama perjalanan ke dalam inti tersebut, dapat terjadi banyak hal2 ngaco di dalamnya. Killing each other, etc, etc. Jalan yang lainnya, adalah menemukan dulu inti tersebut, sehingga kemudian, semua perilaku dan kelakuan kita pun secara otomatis akan selaras dengannya - otomatis kita melakukan ritual2 itu sendiri!" "Contohnya, akan berbeda antar, ’saya harus shalat lima waktu karena itu adalah kewajiban’, dengan, saya selalu melihat keajaibanNya di sekeliling, sehingga semua yang dapat saya lakukan adalah bowing down..”

Percakapan berlanjut terus dengan perbincangan mengenai Rumi. Dan Holer-Schorle yang saya minum enak sekali. Seperti fanta tapi rasa Nutri Jell benin g…

First ‘hitchhiking’ experience!

Tuesday, June 13th, 2006

Htch

6 June 2006, Franfkurt – Munich

Saya dan Okan menunggu di Nordausgang
Hauptbahnohof, kedatangan sebuah mobil berplat LDK OX 830, yang akan menjadi transpor saya kemudian ke Munich. Saya menemukan
sang pengendara dari site
www.mitfahrgelegenheit.de, yang memberikan harga termurah untuk
pergi ke
Munich: 17 euro.

 Mobil
yang ditunggu-tunggu pun datang. Seorang bapak tua, yang di website
bernama Stefan
muncul. Di belakang saya, dua
orang pemuda muncul. Ternyata bukan hanya saya penumpang yang akan
pergi ke
Munich.

 Saya
berpamitan pada
Okan, dan mobil pun pergi. Stefan sejak awal pun sepertinya tidak
mengira penumpangnya akan berpenampilan pake kerudung segala. Tetapi ketika
mobil sudah jalan, suasana mencair. Semua
orang sudah saling
bertanya, dan semuanya baik2 saja.

 Lucu
juga tentang karakter
orang-orang Jerman ini. Di awal, mukanya cemberut dan sangat tertutup.
Tapi jika sudah tahu ‘celah’nya,
percakapan pun akan mengalir dengan akrabnya. Jadi, aku memutuskan selama
perjalananku ke Jerman ini, aku tidak akan melihat
saja ke mereka, tapi aku akan menghampiri dan mengajak
ngobrol,
sebelum kata ‘judes’ mulai terpatri dalam pikiran.

 Begitulah
selama perjalanan ke luar
Frankfurt, suasana bak sedang berada dalam mobil keluarga sendiri. Aku suka hitchhiking..

Benar juga kata
seorang traveler dalam sebuah website, dalam hitchhiking kita dapat mengenal
orang lokal lebih
banyak. Sebuah bus Eurolines melintas cepat di samping kami, dan dalam jendelanya aku melihat
orang-orang bengong
saja melihat keluar. Seperti ini terasa lebih
menyenangkan! Uugh.. makin bingung jadinya!

Di belakangku,
duduk dua
orang pemuda tadi. Keduanya pelajar. Satu bernama Jan, mahasiswa sosiologi, berambut gimbal. Dan satunya lagi
Luka, mahasiswa turisme,
agak gaul dan `bersih`. Kita berbincang-bincang terus, mulai dari latar
belakang, lingkungan, hingga cuaca. “Tahukah kamu bahwa bahkan Maret kemarin di
Munich turun
salju,” kata Stefan membuatku tidak percaya.

Hingga kemudian,
mobil mendekati sebuah desa dengan sebuah bangunan yang
nampak seperti
masjid. “Itu masjid?” tanyaku heran.

“Bukan, gereja Katolik,” kata Stefan. Dan
pembicaraan mengenai agama, yang paling ‘seru’ untuk diperbicangkan,
pun dimulai.

You are.. Mussulman, aren’t you?” tanya
Luka di belakang. Yep, obviously.
“Tapi bukannya di Indonesia mayoritas itu Kristen ya?

“Bukan, sekitar 70% orang Islam. Kita
bahkan negara orang Islam terbanyak di seluruh dunia.” Luka terkejut
sedikit, “Kalau begitu.. apa banyak aksi terorisme di
sana?”

Aku agak
kesulitan menjawabnya, “Ya, tapi hanya oleh segelintir kecil
orang saja. Kebanyakan orang Indonesia Islamnya moderat. Kita bukan fundamentalis atau fanatik seperti yang sering
dilihat di media. Tapi.. ya.. akhir-akhir ini gelombang fanatisme pun menjalar ke negara saya.”

“Mereka bahkan
saling membunuh bukan, antar Syiah dan Sunninya sendiri?”
tanya Stefan
yang sophisticated dan tahu banyak.
“Ya, begitulah.”

“Kenapa mereka… crazy.. you know?” tanya Luka polos
dengan bahasa Inggris yang masih berlogat Italia. “Entahlah,” jawabku sambil
nyengir juga, “mereka semua ingin surga, singkatnya. With some sacrifices: people..

Fast track to heaven,” tambah Stefan.
“Padahal, hal itu sendiri tidak tercantum di dalam kitab suci Al-Qur’an,” kata
Stefan. Luka juga mengangguk-angguk. Aku sedikit terkejut bahwa aku tidak harus
‘mati-matian’ menjelaskan Islam di sini. Mereka sudah tahu bahwa yang buruk
bukanlah agamanya, melainkan para fanatik di dalamnya, yang juga ada di semua
agama.

“Saya pun pernah
bertemu warga Palestina sekitar 15 tahun yang lalu, semua yang mereka inginkan
hanya perdamaian,” kata Stefan. “Dan begitu pula warga
Israel, all they want is peace.
Jadi semua ini seperti semacam permainan politik para penguasa saja, plus
bisnis. Negara-negara Eropa sendiri menciptakan jutaan dolar dari bisnis senjata.”
Luka mendengarkan dengan antusias, aku juga. Jan diam saja.

“Ya, karena
itulah warga2 Amerika dan Eropa berdemo besar2an ketika perang Irak dimulai.
Rakyat sebetulnya hanya menginginkan perdamaian,” lanjutku. “Kalau melihat jumlah orang yang masih `berhati nurani`, harusnya kita dapat menjadi kekuatan yang sangat besar lho. Lintas ras, kebangsaan, dan agama. Bisa dibayangkan jika rakyat Palestina-Israel yang ingin damai itu, digabung dengan warga Amerika-Eropa, berdemo menentang perang Irak. Bukan atas
nama apa-apa, atas nama humanity dan compassion saja. Sepertinya perang itu udah berakhir sekarang. Tapi sayangnya, sepertinya pengaruh fundamentalisme juga udah banyak memengaruhi orang2, sehingga kini orang2 Islam pun banyak yang menganggap musuh mereka adalah orang2
Barat, semuanya, bukan hanya politikusnya saja. Seperti sebuah kekuatan kafir yang besar..

Dan karena
itulah, kini warga-warga Palestina dan
Israel
mungkin juga sudah saling membenci satu sama lain. Karena terlalu lama
dipropaganda dan terbawa oleh arus fanatisme di masing-masing pihak. Sehingga,
entahlah kapan akhirnya,” kata Stefan.

Padahal kalau kita semua dapat menganggap masing2 sebagai kawan
yang sama2 ingin perdamaian dunia, yang dapat diajak bekerja sama,
tidak terbayang betapa powerfulnya itu..”

Kami diam dalam
waktu yang cukup lama. “Seringkali aku
mendengar bahwa orang-orang ingin perdamaian. Tapi hal itu tidak mungkin selama ada
segelintir
orang yang memang tidak menginginkan perdamaian itu, bukan?” lanjutku.

 “Mungkin perang memang tidak akan pernah hilang dari muka bumi,” kata Stefan senyum2.
“Mungkin memang dunia ini tidak akan pernah sepi dari masalah,” lanjutnya lagi
mengingat pembicaraan cuaca sebelumnya, “Jika perang tidak ada di Timur
Tengah, Eropa akan tetap kedinginan.”

 “Jika
Eropa tidak kedinginan, banjir tetap terjadi di Cina,” lanjut Luka.

 “Jika
banjir dan global warming pun tidak terjadi, gempa tektonik akan tetap terjadi di
Indonesia,”
tambahku. Jadi masalah memang selalu ada, kesimpulannya.

 “Tidak
ada itu surga di dunia,” lanjut Stefan.

 “Tetapi
setidaknya kita terus mencoba. Tidak putus asa dan buru-buru mengejar
surga nun jauh di
sana..”

            Semua orang nyengir di
dalam mobil.
Perjalanan
berlanjut terus hingga melewati sebuah stadium berwarna putih mencolok,
berbentuk seperti ban mobil. Stadium Allianz.
Munich 2006, here we come!

 Tell me, bagaimana bisa orang-orang tetap
dalam lokalitas mereka masing-masing jika zaman telah ‘memaksa’ kita semua
untuk come together.

Keadaan keuangan

Tuesday, June 13th, 2006

5 June 2006, somewhere in Frankfurt

 

Aduuh.. keadaan keuangan sepertinya tampak
mengkhawatirkan! Banyak pengeluaran-pengeluaran  tidak
terkira. Kayak sekarang, baru saya tahu bahwa untuk pergi ke Rusia, feri yang
diceritakan
Lonely Planet ternyata sudah tidak beroperasi lagi!! Plis deh!! (Untuk pertama kalinya, Lonely Planet
mengecewakan aku!!). Jadinya, saya harus naik option lain yang 30 euro lebih
mahal: pesawat dari
Berlin: Germania Express.

 Terus,
selama hampir seminggu tinggal di Jerman, ga pernah saya ngeliat
orang hitchhiking.
Padahal, tadinya saya berencana ngambil option ini, paling murah di
antara option lainnya. Tapi kebayang ga sih, jalan sejauh ini, pake
hitchhiking? Alah.. kebayang dinginnya nunggu di pom bensin, ato di pinggir jalan. Terus.. belum tentu dapet lagih, belum tentu juga dipercaya
orang-orang. Hingga setelah menimbang-nimbang, mungkin enaknya pake Eurail aja? Buat dua bulan
doank. Jadi:
dua bulan Eurail, buat pergi dari Utara ampe Selatan. Terus satu bulan di
Rusia, satu bulan di Ceko, dan sisanya, baru hitchhiking di Jerman n Belanda..(yee, tetep aja ada hitchhikingnya, gimana sih?:D)
 
            Ada satu website
hitchhiking: www.mitfahrgelegenheit.de.
Tapi site ini pun masih harus bayar. Jadi ga ada lagi tuh istilah hitchhiking2
gratisan.

 Gara2 ga ada hitchhiking ini, pengeluaran jadi besar banget buat transport.
Sekarang aja, saya udah ngeluarin 144 euro buat pesawat, 17 euro buat ke
Munich, 30 euro
buat ke berlin, belum lagi transpor2 di dalam kotanya. Aarrggh! Kayaknya mau
ngambil eurail aja ah: 360 euro, buat 10 negara.
Kan oke tuh..!

           Ato, gimana ya..? Bingung.. ^_^


Bankfurt

Tuesday, June 13th, 2006

3 Juni 2006, Frankfurt am-Main

 Saya
berjalan bersama Ludek ke seputaran pusat
kota Frankfurt. Suasana kota benar-benar sama saja. Dingin, sepi, gloomy and grey.. Saya mencak-mencak sendiri melihat Eropa dengan ugly weathernya itu. Kami berjalan
melewati kawasan-kawasan posh
Frankfurt, hotel Steinberger
dengan mobil-mobil Rolls Royce di depannya. Headquarter Deutsche Bank, Dresdner
Bank, Zurich Bank, Citibank, bla bla bla..

 Jadi,
inilah pusat perbankan Eropa. Semua bank besar konon ada di sini. Dan inilah
juga pusat pencakar langit Eropa, yang bagi saya tidak ada apa-apanya
dibandingkan Petronas Kuala Lumpur, atau bahkan gedung-gedung tinggi di
Jakarta sekali pun. Anyhow, pantas
saja mahal Jerman ini, kalau pusatnya bank begini, pastinya pelit!

Kami sampai di
sebuah kebun dengan pemandangan semua gedung tinggi itu. Terdapat sebuah
monumen menggelikan berbentuk lambang Euro, berwarna biru terang dengan
bintang-bintang kuning bertaburan di sekelilingnya. Saya membayangkan jika
mungkin para pengusaha di dalam gedung-gedung tinggi itu akan keluar
lima kali sehari
dan mempersembahkan ritual-ritual pemujaan di depannya, hehehe.. Atau mungkin
sudah, secara implisit.. Well everyone always got something to kneel on their knees right?

From banks to a bank of a river..

Saya dan Ludek
berjalan menuju sungai Main di pusat
kota. Saya bertemu
dengannya di ITB sekitar 2 tahun yang lalu. Dan.. well, we happen to be girlfriend and boyfriend gituh..:D

Kami berjalan
lambat-lambat di pinggiran sungai itu. Sungainya coklat, tapi bersih. Segala macam dari kapal hingga bebek dan angsa berlayar di atasnya. Di kejauhan, beberapa
jembatan terlihat, bersama puncak-puncak gereja yang kuno, dan tentu saja,
sebuah ferris wheel, mengikuti trend
London atau Paris..

Beberapa bangku
taman bertengger di samping-samping sungai itu. Suasana begitu tenang, untuk
pertama kalinya ketenangan tidak membuat saya paranoid. Semuanya sinkron dengan
aliran sungai yang tenang dan langkah-langkah yang lamban. 250 m/jam..

Waktu sudah
menunjukkan pukul 6 lewat, tapi matahari masih bersinar terang. Dan semakin
lama waktu berlalu, kami menyadari
orang-orang semakin
banyak. Terus bertambah hingga tiba-tiba, seperti muncul sekonyong-konyong,
manusia membludak di daerah jembatan dan ferris wheel tadi.

Tidak kuketahui penduduk Frankfurt sebanyak ini sebelumnya. Kemana saja
mereka sebelumnya?

Jam demi jam,
manusia semakin banyak, dan
nampak berkumpul di sisi sungai di seberang kami. Ada apa sih?

Itu adalah
pertanyaan yang terus kami ajukan ke diri sendiri selama menerobos kerumunan
orang-orang di
seberang sungai. Hingga beberapa jam kemudian, pertanyaan tersebut terjawab.
Gedung-gedung bank yang tadi kami lewati kini ditimpa proyektor-proyektor
raksasa. Kini mereka berkelap-kelip oleh sebuah tayangan.
Setiap bangunan berbeda, tapi semua bergabung menjadi satu. Sound system dipasang di sepanjang sungai.

Tayangan yang
ditampilkan.. tentunya.. adalah tentang World Cup. Lampu-lampu sorot dinyalakan
sehingga langit hitam dan awan kelabu di atasnya kini penuh dipenuhi
sorotan-sorotan yang spektakuler.

Tapi di luar itu
semua, kami merasa geli. Suara-suara yang sangat dramatis
terus dikeluarkan oleh sound system itu. Ketika ada tayangan pertandingan, soundtrack berubah seolah sebuah perang
kolosal sedang berlanjut. Ketika ada tayangan kekalahan, lagu soundtrack berubah seolah telah terjadi
kematian massal..

Kami berdua
senyum-senyum sendiri menyaksikannya. Seolah sedang terjadi total
paralysis. Mass hallucination
.

Quite silly, though.. Dan di tayangan
terakhir, ada gambar bumi, dan slogan One World.

Dunia dapat
disatukan oleh sepak bola, begitu mungkin maksudnya..

Berjalan
menjauhi sungai menuju stasiun kereta pusat, saya pun berpikir. Jika
budaya-budaya bersatu, toleransi mungkin dapat terjadi. Tetapi hanya
hingga situ saja, untuk masuk sepenuhnya ke budaya lain: nanti dulu.

Tetapi
juga, jika yang dapat terjadi hanyalah toleransi dan kompromi, seringkali yang terjadi
adalah budaya hasil sintesis seperti tayangan sepak bola tadi. Seperti iklan
United Colors of Benetton atau Esprit yang menggembar-gemborkan diversity, tapi sebetulnya merugikan negara-negara tertentu. Seperti jawaban bahwa budaya yang harus dianut seluruh dunia karenanya adalah sepak bola.

Menggelikan.

Kami sampai di
hauptbahnhof (stasiun kereta pusat) sekitar pukul 3 pagi. Dan mengobrol
sepanjang shubuh, menggigil kedinginan. Di sekitar, sisi gelap
Frankfurt bermunculan. Homeless people, yang mabuk-mabuk, yang punk, yang sedang high.

World is not as grandeur as it is told. Sometimes breaking. Separating. But if tolerating is sometimes silly, do we have some other
ways?  How  to unite? 

Img_1497

Viva la Revolution!

Tuesday, June 13th, 2006

3 June 2006, Frankfurt am-Main

Hari ini, saya hendak pergi ke Frankfurt untuk bertemu ‘teman’ yang sudah lama tak jumpa. Tapi apa dikata, Okan tidak mau mengantar,
“nanti mengganggu” katanya, hehehe.. Jadilah saya celingak-celinguk di
stasiun-stasiun kereta berharap tidak salah mengambil jalan.

 Dari
Rodermark ke
Frankfurt, dibutuhkan 3,35 euro. Uang pertama yang kukeluarkan di Eropa, dan
huh… mahal! Memang agak jauh sih, sekitar 9 stasiun. Tapi tetep ga rela!

            Saya harus berganti kereta satu kali. Agar tidak salah
mengambil kereta, saya bertanya pada seorang pria berumur 30-an, a black man, yang ternyata dapat
berbahasa Inggris.

 Kata
demi kata, saya pun akhirnya pergi bareng dia ke
Frankfurt, karena kebetulan tujuannya hanya berbeda satu stasiun dengan saya.

 Di
jalan, tentunya kami bercakap-cakap. “Kamu lahir di Jerman?” tanya saya.
“Tidak, saya baru datang untuk sekolah di Jerman 5 tahun
lalu. Saya dari
Eritrea.” 

            Eritrea? Ehm.. di mana itu gerangan? “Di Afrika,” katanya. Dia juga bertanya2 mengenai Indonesia, tentang Tsunami tahun lalu, dan tentang gempa Jogja yang terjadi baru2
ini. Dia mencak-mencak geleng-geleng kepala oleh banyaknya bencana yang terjadi
di kampung halaman.

“Apakah ada
masalah lain?” lanjutnya.

 “Ya,
terutama masalah ekonomi.”

Kuflu, namanya,
mengangguk-angguk lagi tanda prihatin.

“Bagaimana
denganmu, bagaimana
Eritrea dibandingkan Jerman?”

 “Jerman
tentunya jauh lebih baik keadaannya daripada Afrika. Saya ingin tinggal di sini
selamanya. Terlalu banyak masalah di negara saya. Tidak ada kesempatan atau
harapan hidup yang besar.”

 “Memang
apa masalahnya?”

 “Masalah
kami politik: pemimpin yang diktator, seperti Fidel Castro di Cuba. Saya
akan bertemu dengan teman2 saya di kafe sebelum stasiun Hauptbahnhof ini,
saya mengundang kamu untuk minum teh sebentar, bagaimana?”

 Dalam
traveling, tidak ada orang yang dapat engkau percayai, kecuali naluri dan intuisimu.
Jadi, asahlah intuisimu, yang semua
orang punya, untuk membedakan orang2 yang baik dan
tidak. “Oke,” saya bilang.

 Di
kafe yang dia maksud, 3
orang black people lainnya
sudah berbincang-bincang akrab. Saya dikenalkan kepada mereka, dan dipesankan
teh hangat. Kuflu melanjutkan bincang-bincangnya dengan saya. “Kami akan bertemu dengan
orang-orang Eritrea lainnya di Frankfurt. Kami sedang berusaha menggulingkan pemimpin Eritrea
yang sekarang.”

 Aha..!

 “Dan itu
hanya dapat kami lakukan di sini, di Jerman. Di negara kami, pers begitu
dikekangnya sehingga berita-berita semacam ini tidak dapat beredar. Tidak ada freedom of speech, itulah juga yang akan
kami protes kini.”

 Saya
mengangguk-angguk, “Bagus. Itu memang patut diperjuangkan. Dan, apa rencanamu untuk
ini?”

 “Kami
sudah melakukan banyak demo sebelumnya. Terutama di kedutaan besar
Eritrea.Setiap hasil demo dan pertemuan kami sebarkan kepada teman-teman kami
di
Eritrea via internet. Kami juga kemarin-kemarin ke markas PBB, untuk
meminta bantuan, setidaknya tentang freedom of speech itu. Kami minta bantuan ke Uni Eropa juga.”

 Saya
masih mengangguk-angguk. Entah mengapa semangat perjuangan mereka membuat
suasana hati saya menjadi positif juga saat itu. Dan Jerman ini, kebebasan
berbicara dan demokrasi mereka pun tidak terasa buruk sama sekali.
Dibandingkan dengan negara2 seperti
Eritrea
ini, misalkan.

 Tapi
30 menit telah berlalu, dan saya harus pergi. “Saya benar-benar berharap perjuangan
kalian berhasil,” kata saya kepada
orang-orang Afrika
yang selalu murah senyum itu.


Img_1454

Order!!

Tuesday, June 13th, 2006

1 Juni 2006, Offenbach

Dialog dan perdebatan terus berlanjut
bersama Okan. Kini di dalam mobil dari
Darmstadt ke Offenbach. Kini, tentang Jerman versus Indonesia.
“Tidak seperti di
Indonesia, di Jerman semuanya serba teratur, serba disiplin.”

 “Tetapi saya lebih suka yang chaotic
dikit. Kayak
India, Indonesia, atau mungkin Turki. Lebih terasa… spiritnya. Peraturan terkadang membunuh spirit.” Gurkhan mengangguk-angguk. Okan tampak tidak rela.

 Kami
melewati hutan-hutan yang mendominasi pemandangan di ‘desa-desa’ itu. Tidak
seperti
Indonesia, pohon-pohon di sini berwarna hijau agak muda, kadang diselingi
oleh warna kekuningan di semak-semaknya. Selain itu, semua terlihat kering,
tidak ada kelembaban sama sekali. 

“Kamu lihat, Marina,” kata
Gurkhan, yang tampak tidak terlalu suka berdebat dan lebih halus sedikit, “di sini, hutan-hutan didominasi oleh dua macam
pepohonan: Keifer dan Eische. Di sebelah kiri, Keifer, sebelah kanan,
Eische.”

Tapi aku tidak
kagum sama sekali, malah absurd, “And why
is that?”

“Karena pemerintah
di sini menebang pepohonan yang tidak teratur, dan menyamaratakan pepohonan
agar tidak terlalu lebat dan liar.”

Aku hampir
tertawa mendengarnya. Rules are
even going into the forest!

Tapi Okan tidak merasa aneh sama sekali, malah terkagum-kagum. “Yeah, that’s true! Even forest is in order..”

Dan saya
menghentikan senyum saya karena heran mereka tidak menganggapnya lucu sama sekali.

Kami pergi ke Offenbach karena
Okan dan Gurkhan hendak membeli mobil baru: Mercedes Benz. Dan mencari mobil di
Frankfurt seperti mencari batik di Jogja. Kami pergi ke enam-tujuh
showroom mobil. Setiap saat berjalan di antara mobil-mobil Mercedes yang
indah-indah.
Ada yang untuk keluarga, ada yang klasik, ada yang van, ada yang untuk bachelor - alias sport car.

Dan suatu saat
di hadapan sebuah mobil, Gurkhan memutuskan untuk mencobanya.

Kami menaiki
mobil Mercedes Benz berwarna putih perak, baru setahun dipakai.
Ada jendela yang
dapat dibuka di langit-langit, kaki dapat menjulur dengan luas, dan mesin mulus tak ada dua.

Gurkhan membawa
mobil itu ke highway, menancap gasnya
terus, hingga melebihi 200 km/jam. Tapi tidak terasa guncangan apapun, atau
tanda2 mobil sedang berusaha keras. Semua aman dan nyaman. Mobil-mobil tersusul
di belakang kami.

Agak
mengherankan memang tingkat kesejahteraan di Jerman ini. “Bahkan, yang tidak bekerja
pun mendapat sokongan dari negara,” kata Okan suatu saat.

Yang bekerja dibebani
pajak yang sangat tinggi, yang tidak bekerja mendapat sokongan seperti rumah
dan kebutuhan sehari-hari. Terdengar seperti ‘hukuman terhadap orang kaya’?
Tapi begitulah adanya, semua lapisan masyarakat jadi makmur sejahtera, tingkat kriminalitas
menurun drastis - orang-orang kaya pun senang juga.

“Aku bingung,”
kata Okan suatu saat juga, “ada ratusan juta orang
Indonesia membayar
pajak, jauh lebih banyak dari orang di sini, tapi mengapa orang miskin masih banyak
saja di
sana?”

“Ehm.. karena
pajaknya mengalir ke kantong sendiri begitu?”

Okan tertawa,
“Dan anehnya, sepertinya kalian diam2 saja menghadapinya.”

“Siapa bilang?
Sudah terlalu banyak demonstrasi terjadi selama ini.”

“Lalu kenapa
tidak ada hasilnya hingga sekarang? Sudah hampir 10 tahun sejak itu dimulai, tidak ada yang berubah. Ekonomi kalian tidak
membaik sama sekali.”

Aku diam. Benar juga sih..kenapa ya?

“Menurutku,”
lanjut Okan, “Jika semua rakyat kalian begitu gigihnya memperjuangkan
anti-korupsi, negara kalian sudah sangat berbeda sekarang. Tapi tidak begitu
yang kulihat, karena kelihatannya di tataran-tataran terendah pun masih suka ada selap-selip sedikit. Sedangkan hal semacam ini harus
dimulai dari sana, dari hal terkecil. Mulai dari disiplin. Mulai dari
tidak membajak, mulai dari tepat waktu, mulai dari membayar karcis jika memang
seharusnya. Hal-hal kecil, yang memang membutuhkan ekstra
usaha, dan terkadang menjengkelkan.”

Mobil kembali ke showroom, dan mereka berdua menandatangani kontrak pembelian.

Well he got some points, though. Mungkin kealergian saya kepada order
selama ini disebabkan terlalu lama berada di tempat dimana aturan bersifat ‘fleksibel’.

Tetapi jika hasilnya adalah orang-orang imigran Turki yang tinggal di flat sederhana di pinggiran kota pun dapat membeli Mercedes, mungkin order itu layak diperjuangkan…

Img_1383

Dan Brown

Tuesday, June 13th, 2006

Img_1398





1 June 2006,

Darmstadt

Ada yang pernah baca novel Angels and Demonsnya Dan Brown? Seperti Da
Vinci Code, novel itu penuh sejarah2 mengagumkan yang ngebuat Eropa seolah
penuh dengan konspirasi. Gereja lawan cewek lah, gereka lawan sains lah..
Sayang aja novel itu akhirnya agak silly,
ngebuat saya ngerti kenapa Da Vinci Code lebih laku daripada novel itu.

 Tapi
kesukaan saya terhadap novel2 Dan Brown seperti menjelma dalam kenyataan waktu
saya pergi ama Okan ke sebuah
kota bernama Darmstadt. Tempat kakak Okan, Gurkhan, ngambil master di universitas sana.

            Kita
jalan2 ke sekeliling
kota, masih dalam debat tanpa akhir, kini tentang Islam versus Yoga.
Okan sebel sama yoga karena udah jadi semacam agama, yang sekarang juga
‘merenggut’  nyawa sepupunya (kesannya..), saya ngebela yoga karena.. kakak saya pun guru yoga
dan nampaknya baik2 aja Islamnya.

            Kita jalan terus melewati town square khas Eropa yang penuh orang,
tanpa mobil, dengan kafe-kafe dan toko2 di samping2. Prototype yang dicoba
ditiru Citos ato Ciwalk. Dengan lebih banyak bangunan2 kuno yang mencengangkan.

 Dan
satu bangunan kuno menangkap perhatian saya begitu aja.

 Dari
bentuknya, saya udah langsung tertarik. Bangunan besar, kuno, berbentuk
bulat kayak Pantheon di Roma. Saya langsung ‘nyeret’ Okan tuk jalan deket ke
situ. Semakin dekat, saya baru sadar kalo di atasnya ada lambing salib. Sebuah
gereja..

 “Oh
yah,” kata Okan sinis, “sekarang kamu mau pindah agama..”

 Saya terus
nyeret dia tuk jalan lebih dekat. Baru kusadari setelah dekat, di depannya
ternyata berdiri sebuah obelisk. Pemandangan itu kayak moment of truth kalo udah pernah baca novel Dan Brown! Kayak..
konspirasi itu ternyata memang ada, tersembunyi, dicuekin ama orang2 di
belakang kami yang sibuk masuk ke toko2.

 Mendekati
obelisk yang tinggi itu, ada patung dewi-dewi di bawahnya. Seolah dunia pagan
pernah eksis di Eropa.

            Ada tulisan di bawahnya, dan aku maksa si Okan buat baca. “Ck.. yah..
obelisk ini jadi didirikan oleh perempuan2 zaman raja …Ludwig .. sebagai tribute untuk.. perempuan juga. If that makes any sense..”

 That makes any sense! Kita jalan terus menuju Gereja, dan masuk ke dalam. Okan nunggu
di luar. Di dalamnya, pilar2 kayak di Roma menjulang di sekeliling dinding.
Pemandangan yang tidak lazim juga buat gereja, yang biasanya memanjang, dengan
altar di ujungnya. Di dalamnya sepi, hanya ada dua orang perempuan.
Langit-langitnya berbentuk kubah, berwarna biru, bulat
setengah bola, dan di puncaknya ada bolongan untuk cahaya..

 Dan
bukan bolongan untuk cahaya aja. Saya ngelihat ke atas, terbengong-bengong ama
simbol yang saya lihat. Sebuah mata biru besar di dalam segitiga, dengan latar
belakang salib yang gak panjang sebelah (kayak lambang Negara Swiss)


 Mata yang serba melihat? Illuminati? Mary
Magdalene?

Dialog

Tuesday, June 13th, 2006

Img_1444




31 Maret 2006, Rodermark

Saya dikasih kamar sendiri di flat dia,
lengkap dengan internet. Saya ngeluarin barang2 di dalem tas ransel saya tuk
ganti baju.

 Ini
daftar barang2 yang kira2 diperluin tuk backpacking:

1. Celana 4 potong, atasan 4
potong (tuk 6 bulan? Cukup kok..
kan bawa deterjen juga buat nyuci. Don’t
kill
ur back lah pokoknya!). Itu
udah 16 kombinasi, n berarti kamu ga akan terlihat berbaju sama selama 16 hari
itu. Dan di satu
kota juga ga akan selama itu kan?

2. Kerudung 3 potong (untuk yang
berkerudung), means much more
combination..
:D  Yang lain bisa centil2an pake topi
(kupluk, baseball, etc) ato syal..

3. Jaket super tebel.

4. Sepatu dua (satu sepatu boot,
satu sepatu nyantai)

5. Daleman (ini masing2 bisa 4
juga, rajin nyuci aja!). Jangan lupa kaos kaki!

6. Bath kit, n beauty-care (buat cewek so pasti.. apalagi ke negara2 sumber
cowok cakep ini, hehehe.. semua harus yang ekstra melembabkan, soalnya kering
banget di Eropa)

7. Betrak-betruk (termasuk
deterjen, obat2: flu, multivitamin, cermin, kacamata item, balsam, senter, kompas)

8. Sleeping bag

9. Makanan (saya sih bawa energen
80 plastik, buat ngehemat duit biar ga makan di luar)

10. Dokumen-dokumen (paspor, tiket, undangan, simpen di tempat aman dan
bawa terus)

11. Hape (tergantung perjalanan kamu, kalo ke banyak negara, mendingan
aktifin international roaming nomer dalem negeri aja. Kalo ke satu negara, beli
aja sim card
sana)

12. Kamera digital

13. Guide book (Lonely Planet: paling user friendly), n peta2.

14. Buku2 (agenda buat tulis2, n buku bacaan, in my case: buku puisi
Basho “
Narrow Road to the Deep North”, n Bono on Bono kemarin :) ). Cari buku yang inspirasional, karena bakal kamu butuhin banget
buat charge semangat.

15. Sarong (ni benda banyak banget kegunaannya, bisa jadi selimut, alas,
ampe bawahan tuk solat)

Semua harus masuk dalem satu tas gunung. Plus bawa daypack buat
jalan2 sehari2!

 Okan
manggil saya keluar tuk makan. Di
sana ternyata udah ada Ibu n tetangganya. Mereka ini komunitas Turki
yang banyak tinggal di Jerman. Dan yang konon sih, ga terlalu disukain juga ama
orang-orang Jermannya..

 Di
meja, udah banyak makanan yang membahagiakan hati. Dari roti2an n mentega2 ala
Eropa. Ampe kari-kari di dalem panci: masakan Turki.

 Beruntung banget dah saya..! Ga ada yang lebih menyenangkan dari tinggal di
rumah orang lokal di suatu negara. Forget
hotels,
selain kudu bayar, ga bisa kenalan ama culture setempat kayak gini.

 Ibu
n tetangganya Okan ga bisa bahasa Inggris (n aku juga ga bisa bahasa Jerman),
jadinya kita komunikasi pake bahasa Tarzan, n senyum2 penuh keramahan. Dalam masyarakat Turki, setiap
ditawarin sesuatu, kata Okan, itu artinya harus mau. Kayak, “Mau minum teh?”
tanya si Ibu, mau jawabannya ‘ya’ atau ‘tidak’, tetep bakal disuguhin teh,
hehehe..

 Pas
makan siang yang hangat itu selesai, Okan n saya tetep ngobrol di meja makan.
“Orang-orang Turki tuh ga terlalu disukai ama orang2 Jerman asli loh..”

 “Ya,
saya pernah dengar, kenapa sih?”

 “Umm, setauku sih karena konon kita merebut lahan pekerjaan mereka,”
jawabnya, yang baru kemarin2 diterima kerja di Siemens.

 “Selain
itu, karena kita biasanya ribut.. Cuma orang Turki yang suka teriak2 di jalanan,” katanya cuek.
Saya membayangkan orang2 Jerman yang super sunyi itu,
tiba-tiba dihadapkan sama orang2 Asia, kayak
Turki, India,
atau saya, yang senang keramaian itu. Hehe.. pastilah begitulah jadinya..

 “Dan
juga, mungkin karena kita orang Islam.. Kamu tahu
kan orang2 Barat
lagi agak2 anti ama orang Islam? Teman2 saya sendiri suka nyoba ngajak
diskusi tentang Islam, tapi sebetulnya bukan ngajak diskusi, memojokkan aja. Mereka berusaha membuktikan pada saya bahwa ‘Islam itu buruk’!”

 Saya
mendengarkan seksama pengalaman Okan. Tampak pengalaman tipikal diskusi ama orang Barat. Dan memang begitulah mereka: frontal, tapi sebetulnya jujur. Dan dari pengalaman saya, mereka bukan berusaha
membuat Islam jadi terlihat buruk sih, cuma mempertanyakan keburukan2 yang diliatnya
selama ini aja dalam Islam. Dan justru saya setuju
, karena jadinya ada dialog.
Daripada diem2 aja tapi dalem hati gak suka, jadinya ga pernah ada jembatan
satu sama lain, kan mendingan nanya langsung, ya ngga?

    Justru itu kayak semacam kesempatan juga tuk menjelaskan pada
mereka, dan membagi keluhan masing-masing. Tapi Okan nampaknya ga suka sama
sekali sama kegiatan ngobrol itu. I wonder
why..
“Ya, jawab aja setau kamu. Serasional yang kita punya. Orang-orang
pasti punya argumennya masing-masing
kan? Kalo mereka
emang berniat memojokkan, bukan ingin tahu, itu masalah mereka. Kita sih jawab
aja, secara rasional.”

 “Ya..
tapi.. aku tidak suka mereka terus bicara tentang keburukan2 Islam..Itu agama
saya, you know..

Okan tampak agak
paranoid sekarang, seperti saya
paranoid sama suasana Eropa. Tapi.. “Aku tahu bagaimana rasanya orang
menjelek-jelekkan kebanggaan kita. Tapi saya rasa, di situlah diperlukan satu
langkah lebih. Mungkin memang keburukan2 itu ada di dalam kita, jadi, mengapa ngga dijadiin momen introspeksi aja? Baik untuk diri kita juga toh? Emang agak sulit sih, kayak membutuhkan satu langkah lebih jauh lagi. Kita bisa aja langsung marah dan mengobarkan
jihad melawan mereka, tapi instead, dalam
dialog, kita memilih diam dan mendengarkan. Jauh lebih berat daripada langsung reaktif, tapi kini, yah..
sepertinya kita sangat membutuhkan itu… World
is so full of people speaking, and nobody listens..

Hmm, berarti saya pun harus berusaha menghadapi paranoid
saya terhadap cuaca Eropa sekarang.

Selanjutnya saya
dan Okan berdebat tentang tujuan liburan. Okan lebih senang pergi ke tempat2
karena keindahan temp
at itu sendiri, sedangkan saya pergi ke suatu tempat karena orang2
yang ada di tempat itu. Dan saya sejak saat itu pun harus berlatih mendengarkan dalam dialog.. walaupun si teman debat tidak mau mendengarkan..

 It’s their
problem anyway:)

Tiris!!

Tuesday, June 13th, 2006

Img_1532
31 Mei 2006,
Frankfurt am-Main

Hari ke-3

Akhirnya saya ketemu Okan setelah tertahan
sebentar di imigrasi (ampe dibawa ke kantor polisi bandara segala:D), gara2
tanggal visa n tiket yang ga sinkron. Visa saya cuma ampe 6 november, padahal
tiket ampe 28 november (my fault, I will
change it later
). Untung ada kartu nama dan
surat keterangan
dari ITB yang sepertinya punya reputasi yang cukup bersih bagi mereka. (Some note, buat elo-elo mahasiswa baru
lulus yang hendak bepergian, pertahankan status mahasiswamu! Bikin
surat keterangan
segera, beberapa hari sebelum wisuda, bahwa kamu masih mahasiswa, hehe..
Banyak banget keuntungan yang didapet dari status pelajar, dari diskon2 di Eropanya, ampe
apply visa yang lebih gampang di jakarta, kalo di rekeningmu ga terlalu
banyak uang, misalkan..)

Bandara
Frankfurt, yang konon adalah bandara terbesar di Eropa, menjulang biasa-biasa
saja. Mungkin karena baru dari Singapura dan KL, yang kuat oleh karakter Asia yang
senang menghias segala sesuatu, ke bandara Eropa yang serba fungsional, dengan
desain berbesi-besi tanpa basa-basi. Jadi agak jomplang gitu.

Okan,
adalah temenku yang kutemui di ITB. Dia orang Jerman, pernah student exchange
di Teknik Elektro ITB. Waktu saya proyekan SBM, saya hampir ngerekrut seorang
anak Elektro yang jago bahasa Inggris, yang di labnya ternyata ada dia, jadilah
kita kenal:D

Kita
berdua jalan di bandara hendak ke tempat parkir. Bandara ber-AC lebih dingin
dari pesawat. Oo..gini toh dinginnya
Eropa.
Hingga kemudian, saya melangkah keluar dari pintu utama dan bengong
luar biasa..

What’s the matter?” tanya Okan.

Rasanya
kayak baru aja masuk ke dalam kulkas. “7 Derajat Celsius,” kata Okan sambil
ngeliat jamnya.

“7 derajat
Celsius?? Bukannya harusnya udah summer sekarang?”

Kita pun masuk
ke dalam VW Golf Okan dan pergi ke rumahnya, di ‘desa’ dekat
Frankfurt bernama Rodermark.
Jalanan Jerman luas, sepi, mulus, dan … tanpa mobil butut satu pun. Semua mobil
mengkilap, dan didominasi BMW, Mercedes, Peugeot. Sebutut-bututnya Smart Car atau
Volvo jaman ladu.

Dan hutan-hutan
hijau di kiri kanan berganti jadi rumah-rumah tua mungil yang klasik ketika
kita mendekati ‘desa’ yang dimaksud. Jalanan di semua ‘desa` yang kami lalui bersih dan teratur.

Tapi sepi banget…

Kita sampe di
flat keluarganya Okan. Waktu keluar mobil, suasana itu pun masih ada. Sepi…sunyi…

Sing…

Telinga saya
bener2 ga familiar ama kesepian semacam itu. Cuma ada suara angin dingin berhembus, dan bunyi mobil-mobil mulus di kejauhan.

Aku baru nyadar, suasana semacam itu pernah kutemui sebelumnya. Di Inggris, yang
ngebuatku langsung nyoret Eropa dari daftar tempat-tempat yang ingin kukunjungi
selama hidupku. Suasana dingin, sepi, dan depresi Inggris yang ngebuat ga betah
banget. Semoga tidak begitu di sini!

Tapi kayaknya sih,
bakal begitu juga..:,D

I love flying..

Tuesday, June 13th, 2006

Img_1381

31 Mei 2006, pesawat..

Hari ke-3

Saya bangun setelah 8 jam tidur nyenyak di
pesawat. Jendela di samping berpendar samar, tanda matahari udah benar-benar
terbit. Kenapa ‘benar-benar’? karena sebelumnya saya bangun dan ngeliat
matahari agak terbit di luar, tapi 5 menit kemudian udah ilang
lagi. Gitu terus, matahari ngejar pesawat tuk nunjukkin taringnya. N kini akhirnya
dia berhasil juga..

Aku
ngebuka jendela dan melihat matahari di kejauhan bersinar kuning hangat.
Sinarnya jatuh di gumpalan kapas awan yang mengambang di kejauhan. Di dekat
saya, langit jernih tanpa awan. Dan hey..lihat itu! Di bawah, gugus pegunungan
bersalju berderet dari kanan ke kiri.

Pegunungan
itu sepi, dingin, diam.. Salju putih di puncak-puncaknya meninggalkan kabut
seiring angin yang meniup pegunungan lamat-lamat..

Saya
melihat ke punggung kursi di depanku, ke layar monitor. Fasilitas GPS
menunjukkan di mana pesawat kami berada sekarang. Pesawat sedang berada di atas
ilustrasi dataran berwarna putih: Pegunungan Kaukasus.

Leaving Asia now, entering Europe..

 Saya
melihat terus ke luar dan melihat pegunungan lambat laun hilang dan digantikan
oleh laut:
Black Sea. Saya melihat ke kejauhan berusaha menjatuhkan pandang ke daratan
Rusia yang juga akan berusaha kukunjungi.

Rencana
perjalanan saya menjadi, mendarat di Jerman, lalu ke Rusia (karena visa Rusia
hanya berlaku tiga bulan, sehingga saya harus mendahulukan pergi ke sana), kembali ke Skandinavia (Finlandia, Swedia, Norwegia), turun ke Denmark, Ceko, Austria, Italia, kembali ke Barat: ke Perancis,
Luxembourg, Belgia, Belanda, dan kembali ke Jerman buat pulang.

Selama
6 bulan. Eh, tapi ngga 6 bulan(=180 hari) amat. 160 hari.. tepatnya..

Semoga semua
berjalan sesuai harapan..

Saya
mengalihkan pandang dari jendela dan menuju ke hiburan lain, monitor di
depanku. Saya memilih-milih channel, ada film KingKong, Walk The Line,
BrokebackMountain.
Ganti, ganti.
Hingga akhirnya, sesuatu yang sangat familiar, konser U2.. di
Chicago. Aha..!

Waktu
makan pun telah tiba, tepat ketika saya sedang dalam mood makan (lapar,
maksudnya). Makanan-makanan pesawat yang enak banget bagi saya pun disajikan di
meja di depan saya. Lengkap sudah, I
always love flying!
Makanan enak, daratan indah di bawah, konser U2 di
depan, dan wow.. baru kusadari, seorang pramugara yang seliweran di daerah saya
pun ternyata ganteng banget..!:D