Kehangatan khas Bavaria
Wednesday, June 14th, 20066 June 2006, Munich
Ninit - hostku selanjutnya - sudah menunggu di toko bunga main gate Munchen Hauptbahnhof. Doi itu sobat karibku sejak 8 tahun ke belakang, dan sedang magang di firma arsitek di Munich. Kita langsung jalan ke seputaran pusat kota - menuju sebuah area bernama Marienplatz. Sebuah gedung mahkamah agung dengan arsitektur yang sangat indah sudah langsung menarik hati.
Dalam Marienplatz, kita terus jalan ke dalam town square yang digerbangi sebuah benteng besar dengan air mancur . Di dalamnya, ternyata memang toko-toko lagi, tapi semuanya berada dalam bangunan-bangunan kuno yang indah. “Jika toko-toko itu tidak ada, bangunan2 ini pasti sudah tergusur,” kata Ninit menanggapi protesku kenapa bangunan2 kuno itu sudah ‘tercemar’. Hmm, simbiosis mutualisme yang indah..
Ketika kami jalan, dua orang cowok bule tiba-tiba menghampiri dan mengajak ngobrol. Jadilah sore itu kami berjalan-jalan berempat. Nama mereka Axel, dan Dennis. Axel nampak tahu banyak tentang bangunan2 di situ. Kami melewati sebuah gereja bermenara dua yang terlihat sangat tua, dan masuk ke dalamnya. Di dalamnya, terlihat pemandangan gereja yang lumrah, lorong memanjang dengan altar di ujung. Ketinggian bangunan itu, dan nyala-nyala lilin yang ada di sekeliling, menambah syahdu suasana. Kami jalan terus menuju altar, beberapa orang sedang berkerumun di sana. Saya mengharapkan akan melihat sebuah altar indah dengan lilin-lilin di atasnya. Tapi salah total, karena saya hanya melihat sebuah bola sepak besar, yang ditempeli negara-negara dunia! Sebuah globe dari bola sepak. Setelah tanya2 ke orang2 di situ, bola itu ternyata untuk doa bersama menjelang Piala Dunia 3 hari kemudian. Saya melongo heran!
“Dan apa yang akan didoakan? Agar Jerman menang Piala Dunia?” Axel tertawa,
“Ya, agar Piala Dunia berlangsung lancar dan aman2 saja. Dan ya sih, agar Jerman menang Piala Dunia, hehehe..”
Kami berjalan keluar gereja itu. “Kamu orang Kristen?” tanya saya pada Axel dan Dennis. “Dulu,” kata Dennis, "Tapi sejak usia 20 saya kehilangan kepercayaan pada Gereja.”
“Oh ya? Apa yang terjadi?” “Hmm.. saya merasa agama Kristen seolah telah menjadi sekadar ritual. Spiritnya - intinya - sudah hilang sama sekali."
Kami berjalan terus hingga mencapai sebuah daerah bernama Karlsplatz. Di depan sebuah bar, Axel dan Dennis mengundang kami untuk masuk dan minum a couple of beers. “Kami tidak minum alkohol,” tolak kami sambil nyengir2 polos. Dan beruntungnya kami bertemu oran g2 yang pengertian. “Kalau begitu kami juga tidak akan minum alkohol di dalam.”
Bar itu adalah satu dari banyak bar ‘khas-Bavaria’ di Munich. Suasana yang sangat hangat oleh nyala-nyala lilin, dengan para kerabat berbincang-bincang akrab sambil minum bir. Saya agak heran, bir memang ternyata hanya seperti minuman sosial di Eropa ini. Orang2 ‘bertampang baik’, seperti kakek-nenek, atau bahkan Dennis/Axel ini, semua minum bir. Seperti kita minum.. Coca Cola lah! Tidak seperti image yang sering saya rasa di Indonesia.
Tapi bagaimanapun, kita tidak meminumnya. Jadi saya dan Ninit memesan semacam lemonade dan apple juice. Suasana kekeluargaan yang ada di dalamnya membuat saya merasa lebih nyaman daripada ketika saya masuk Irish Bar O’Reilley’s di Frankfurt. Saya kira orang2 Bavaria adalah orang2 sangar di Jerman. Ternyata, di sini saya lebih merasa seperti di rumah: akrab, hangat. Sangat berbeda dibandingkan Bankfurt.
“Kami baru saja mengikuti sebuah kursus. Kursus.. vitamins for the soul..” kata Axel.
“He?" saya rada heran, tapi segera mengerti.. "Maksudmu.. spiritualitas?”
“Ah ya, itu istilah yang tepat!”
“Hm! Apa saja kegiatannya?”
“Hari ini kami membahas tentang kekuatan dongeng. Seperti Lord of The Rings, yang sebetulnya hanya dongeng, tapi sebetulnya memiliki makna lebih tinggi, bahkan berkekuatan untuk purifying souls.” Saya dan Ninit mendengar pengalaman mereka dengan seksama.
“Saya pernah mendengar tentang itu," kata saya ingat sebuah buku berjudul Zen n the Art of Motorcycle Maintenance, "tentang kekuatan dongeng untuk memurnikan jiwa2. Saya kira itulah yang terjadi dulu di Yunani, dan bahkan Socrates sendiri pernah ‘mengarang’ sebuah kisah sebagai analogi pencapaian jiwa kepada Tuhan. Bahkan kitab-kitab sucipun konon adalah analogi untuk membimbing jiwa2 manusia. Dan bahkan interpretasi semacam ini begitu pentingnya karena jika semua itu ditafsirkan secara literal, hasilnya hanya terorisme.”
Sepertinya dibutuhkan penjelasan lebih lanjut.
“Seperti contohnya, Al Qur’an memiliki banyak kisah peperangan. Jika itu ditafsirkan secara literal, tentunya yang kita tangkap adalah: "wahai manusia, berperanglah selalu!" Tapi ada tafsiran lain yang lebih dalam, yang mengatakan bahwa peperangan di Quran harus lebih dianggap sebagai peperangan dalam diri sendiri, antar baik dan buruk.”
“Jika kita menafsirkan sebuah kisah sebagai analogi, ia akan menuju langsung ke hati kita. Jika kita menafsirkan sebuah sebagai kebenaran saklek, ia akan berputar-putar di kepala kita -dan ngaco jadinya,” kata Axel.
“Ya, tepat sekali..” kata saya sambil senyum2.
“Itulah apa yang kami lakukan dalam kursus ini, kami semua percaya bahwa dongeng, atau bahkan naskah2 kuno itu sebetulnya memiliki makna akhir yang sama. In bold words, sesungguhnya semua agama itu memiliki inti yang sama. Inti itu, tidak lain adalah hati. Karenanya kami percaya bahwa kapanpun kita mengkuti sebuah ritual, selalu tanyakan pada dirimu jika ritual itu sesuai dengan hati nuranimu. Jalan boleh berbeda2, tapi karena pusatnya sama, maka kita akan sampai di tempat yang sama pada akhirnya,” lanjut Axel lagi.
“Karena itukah kamu kehilangan kepercayaan kepada Gereja?” tanya saya pada Dennis.
“Ya, karena sepertinya semuanya hanya set-set peraturan dan ritual, permukaan2. Tidak ada pusatnya. Tidak ada jiwanya.”
Ngga’ nancleb lah istilahnya..
“Ini semua mengingatkanku pada seorang Sufi. Dia bilang, ada dua jalan ibadah manusia. Yang pertama, adalah bergelut di ritual2 eksternal, hingga akhirnya, sampai kepada intinya. Tapi ini jalan yang beresiko, karena selama perjalanan ke dalam inti tersebut, dapat terjadi banyak hal2 ngaco di dalamnya. Killing each other, etc, etc. Jalan yang lainnya, adalah menemukan dulu inti tersebut, sehingga kemudian, semua perilaku dan kelakuan kita pun secara otomatis akan selaras dengannya - otomatis kita melakukan ritual2 itu sendiri!" "Contohnya, akan berbeda antar, ’saya harus shalat lima waktu karena itu adalah kewajiban’, dengan, saya selalu melihat keajaibanNya di sekeliling, sehingga semua yang dapat saya lakukan adalah bowing down..”
Percakapan berlanjut terus dengan perbincangan mengenai Rumi. Dan Holer-Schorle yang saya minum enak sekali. Seperti fanta tapi rasa Nutri Jell benin g…







