Just a Perfect Day
Saya jalan dengan santai ama seorang cowok di samping saya, host saya selanjutnya: Tobias, dari Hospitality Club, tuk sight-seeing. Sebagaimana kebanyakan orang2 Swedia, doi blonde sejati (pirang ampe ke bulu mata), n cerah ceria. Apa2 dijadiin joke! Yang ngebuat tinggalku di Stockholm ini menyenangkan dan bahagia..
Kami jalan di City Centre tuk nuker uang. Dalem hati saya masih ga terlalu impressed sama kota ini. Shopping centrenya dan segalanya lebih besar dari Helsinki, ga ada istilah ’walking distance’2-an. Tapi, ya so what gitu loh..
Tapi itu sebelum saya melihat Stockholm dengan kekuatan penuhnya. Kami jalan dari city centre itu ke pelabuhan dekat situ, karena kita mau naik fery ke pulau terdekat: Fjaderholmana. Dari feri, terlihatlah Stockholm yang sebenarnya! (Kota air yang terdiri dari 14 pulau). Aarghh!! Bangunan2 tua yang indah banget menjajar di sepanjang garis pelabuhan yang bersih, dengan kapal2 fery putih di sekitarnya. Bangunan2 berwarna kuning dengan atap hijau muda, jendela2nya beraturan kotak2, ngebuat kota itu seolah kayak mimpi dari abad pertengahan.
Dan kontrasnya, mereka diem dengan rapi di samping air laut yang naik-turun. Kayak ngeliat… Venice.. tapi dengan laut biru muda bersih.. dan bangunan2nya yang jauh lebih mewah. Tak terkatakan lah pokoknya!! (Dateng aja gih sana!)
Kami pun sampai di pulau yang dimaksud. Dan kesan Swedish perfect life kembali terasa. Keluarga berambut blonde bahagia, ibu-bapak-dua orang anak cewek, liburan dengan kapal fery mereka, mendarat di pulau dengan restoran2 berbunga dan batu2 karang tuk jemuran ini.
Beda sama Helsinki yang ngebiarin alam mendominasi acak, di Stockholm ini semua diatur dengan rapi, cantik, dan terencana. Semua hal dari bangunan, suvenir, pulau, ampe manusia, ’didesain dengan terang’: cerah ceria ala beach life, dan agak minimalis. IKEA banget lah! Perfect, perfect, perfect..
Tobias dengan hepi berenang di laut di sekitar situ.
Setelah menjelajah pulau kecil nan sempurna itu, kami pun memutuskan balik untuk menjelajah jajaran bangunan tua di pinggir laut tadi. Sebuah area yang terkenal dengan nama Gamla Stan (Old Town). Dan tak terkatakan betapa indahnya pulau berisi gedung2 tua dari tahun 1800-an ini! Jalan2 berbatu diimpit bangunan2 kuning tinggi dengan jendela kotak2 rapi. Di sepanjang jalan2 itu toko2 kecil dan kafe2.
Aaaaaaarrrrrgggggghhhhh! Jawara!!
Di ujung sebuah sisi pulau Gamla Stan, kami memutuskan untuk duduk di tepi daratan yang berakhir ke laut lepas. I cant believe my eyes! Matahari udah hampir tenggelam, dan di pulau seberang, beberapa bangunan tua bertengger juga. Air laut yang biru muda beriak2 naik turun tepat di bawah kaki kami. Kapal2 fery putih tertambat di deket situ. Jembatan2 mobil, kereta, dan pejalan kaki melandai dengan cantik. Kafe2 dan restoran penuh turis dengan cerianya bertebaran di mana2..
Tobias nyengir2 aja ngeliat saya histeris. Saya jadi gemes sendiri, ”Kamu pasti biasa aja ya ama pemandangan ini? Kamu harus pergi ke negara lain dulu tuk bisa mengapresiasi keindahan kotamu sendiri..”
”Ngga kok,” Tobias membela diri, ”Hari ini emang kerasa beda…Keren ya ternyata kotaku!” Dia pun senyum2 sendiri menikmati angin sepoi2 berhembus dan bunyi riak air di bawah kita. Burung2 seagull teriak2 menambah keceriaan suasana laut. Ga ada kekhawatiran di muka orang2, hari2 musim panas ini berlalu santai dan enteng..
Tapi ternyata, ini masih Eropa, ketika dia tiba2 nyeletuk, ”Don’t u think, it is a contrast..?Air laut di depan ini terus mengalir dengan abadi, sedangkan semua bangunan itu, dan kita semua yang ada di sini, 100 tahun mendatang mungkin udah ga ada lagi di dunia ini. Gone..”
Saya pun bengong tiba2 ditarik ke ’dunia’ dari surga musim panas yang cantik dan ringan.. Pemandangan spektakuler terus berputar di depan. Sempurna..
Alas, kenapa dia harus menyadarkan itu saat ini? Sesempurna apapun dunia ini, semuanya bakal hancur..?
”Impermanence..” Tobias diem aja dengan senyum2 simpul.
Dalem mottonya bahwa ’hidup itu pendek maka bersenang2lah’, dia nyimpen semacam ironi sekaligus kekaguman akan keagungan hidup.. Di mana kita, ’batu2 kecil’ di hadapan aliran maha deras itu, cuma singgah sebentar, sewaktu2 sempurna..
