Archive for July, 2006

Jump!!!

Wednesday, July 26th, 2006

9 July 2006, St. Petersburg

Img_1958 

Hari minggu, keluarga ini pun pergi ke liturgi di St. Petersburg. Bedanya liturgi di sini dibanding yang di Moskow, adalah ga ada Father John, sehingga yang mimpin adalah seorang pendeta muda bernama Father German.

Sehabis liturgi, Father German bilang bahwa dia berharap saya dan keluarga Father Lavr pergi ke kantor pusat mereka: sebuah flat di bangunan tua coklat di lingkungan yang berdebu, panas, dan sepi.

Perasaan kayak di film The Matrix muncul lagi. Tapi memang itulah tempatnya, ketika saya melihat tulisan di pintu utamanya: Russian Spiritual Centre. Di dalam, orang2 yang senyum2-sendiri itu muncul lagi. Kami langsung dijamu makanan yang sangat meyegarkan seabis jalan di St.Petersburg yang hari ini lebih panas dari Jakarta pun: 38 derajat Selsius.

Father German tiba2 masuk dengan jubah coklatnya. Dari matanya, terasa bahwa orang ini akan memberikan percakapan yang inspiring ke kamu. Father German duduk dan kita mulai ngobrol basa-basi tentang perjalanan, dalam bahasa Inggris, akhirnya. Hingga akhirnya, Father German pun bercerita tentang pertemuan luar biasanya dengan Syeikh Nazim al-Haqqani, pemimpin orde sufisme Naqshbandiyya di Cyprus. Yang sebetulnya, Master Yoda saya juga, hehe..

Suatu hari 2 tahun yang lalu, Father German dan Father Timothy bertualang ke Siprus untuk menemui sang master Sufi. Dengan susah payah: naik feri dari Turki, melewati gurun pasir, mencari2 rumah beliau di sebuah desa di tengah gurun, akhirnya mereka pun sampai di rumah sang Syeikh. Sebuah rumah sederhana di atas bukit yang dikelilingi kebun lemon, di sebuah desa in the middle of nowhere. Tapi ke situlah banyak orang2 berziarah, dari ulama2 setempat hingga para ’pencari’ dari sepenjuru benua.

Mereka berdua pun bertemu sang Syeikh, kata Father German selanjutnya, di teras depan rumah beliau. Sang Syeikh melihat mereka, membaca mereka. Pertama2 pada Father German, dan sekonyong2 berteriak ”Jump!!”

Father German bingung, jump? Lompat adalah hal terakhir yang dapat mereka bayangkan setelah perjalanan sulit sebelumnya. Para ulama bersorban kontan mengelilingi mereka, penasaran dengan yang terjadi. Syeikh Nazim masih melihat dengan matanya yang tajam, dan sekonyong2 berteriak lagi, ”Jump!!” Father German bingung, tapi kemudian, sebuah ilham mendatanginya. Hmm.. dia memaksudkan lompat yang lain..

”Maka lompatlah aku, Marina, di situ, di tengah2 ulama2 tua besar yang penasaran. Gila? Ya, tapi memang begitulah adanya. Kamu harus sedikit gila di hadapan Tuhan. Tidak mungkin tetap sadar dan dingin di hadapan KebesaranNya di atas. Seperti rayap2 yang gila akan sinar lilin dan ingin terbakar di dalamnya.”

Saya melongo terkesima, makanan2 dan mentega meleleh di antara kita, cuaca di luar masih sangat panas, tetapi ruang kayu itu tetap berpendar dalam kekaguman. ”Aku lompat karena ketika itu aku berpikir, apa yang diinginkan Syeikh Nazim bukan hanya lompat biasa, beliau ingin kami lompat menggapai ’surga’! Maka aku pun lompat, tapi Syeikh Nazim terus berteriak, ”Jump!! Higher!!” Aku lompat sekuat tenaga, tetap Syeikh masih belum puas. Spirit saya sudah lompat setinggi2nya, menggapai langit sedemikian rupa, tapi masih tetap belum cukup..”

”Hingga kemudian, aku berpikir lagi, apa yang kurang? Aku sudah lompat setinggi mungkin. Tapi kemudian, tiba2 aku sadar, saya masih bisa lompat lebih tinggi lagi.. Lompat sendiri belum lah cukup, aku harus.. lompat bersama semua orang di sini.. Sehingga kemudian, secara spirit aku pun berusaha membawa ulama2 di situ untuk lompat juga..! Lompat bersama ke surga! ”Jump!! Higher!!! Higher!!” Sang Syeikh masih berteriak. Aku pun hampir kehilangan kesadaran, lompat bersama spirit semua ulama yang ada di situ, berusaha menggapai langit..”

“Ck ck ck..” semua orang di dalam ruang kayu itu geleng2 dalam kekaguman.

“Akhirnya, sang Syeikh pun berhenti berteriak, dan beliau mengamatiku sambil mengangguk2, ”Hmm..” Beliau tiba2 berteriak kepada beberapa ulama yang ada di situ, ”You! You! Take their luggage!!” Bisakah kau bayangkan? Ulama2 besar2 yang terhormat itu tiba2 disuruh bawa koper?“

“Syeikh Nazim sering melakukan itu pada murid2nya, untuk mengetes ego mereka..“

”Ya, dan karena mereka ragu untuk melakukannya, Syeikh Nazim mulai menendang pantat beberapa dari mereka. Hahaha! ”Take their luggage! They are my grandsons!!” Benar2 seseorang yang ‘kuat’, seperti singa.”

”Ck ck ck,” hatiku kagum luar biasa.

“Kami pun tinggal di sana sekitar 1 minggu, hingga akhirnya kami pun membawa sebuah kabar kepada beliau. Bahwa pemimpin kami, Archbishop John, akan datang juga untuk mengunjungi beliau. Dan, di luar dugaan kami, semenjak kabar itu, Syeikh Nazim tidak henti2nya merasa gembira. Beliau berteriak2 sambil lompat2 kecil, ”Holy John! Holy John is coming to me!!”

Really..?” saya geleng2 kepala tidak dapat membayangkan indahnya kisah ini.

“Ya. Karena ternyata, sekitar 20 tahun yang lalu, Syeikh Nazim pernah mendapat sebuah penglihatan, bahwa seorang Kristen akan datang kepadanya. Beliau berkata sudah banyak orang Kristen yang datang, tapi mereka bukanlah orangnya. Ini adalah hal yang sangat ditunggu2nya, karena well.. ini akan menjadi bagian dari..”

“Second coming of Christ.”

“Exactly. In the end of the days, Christ will come again into this world.”

Muslim memang percaya itu.”

“ Ya. Di hari2 akhir, potensi yang ada di setiap manusia: kemurnian, enlightenment, Holy Grail, apapun kau memanggilnya, yang merupakan esensi dari Kristus sendiri, akan terbangkitkan lagi pada diri banyak orang. Kemurnian yang.. Father John sendiri, atau orde spiritualitas lain, usahakan untuk lahir dalam setiap muridnya.”

”Ck ck ck.. Lalu, ketika Father John akhirnya datang pada Syeikh Nazim, apa yang terjadi? Apa yang mereka bicarakan?” cerocos saya antusias.

”Oh.. they hardly speak at all..It was a.. Zen meeting..”

Ceritakan pada saya, Father..”

“Itu adalah.. pertemuan dua garis besar. Dua sekolah mistik besar. Father John datang ke rumah Syeikh beberapa bulan selanjutnya, dan Syeikh Nazim sekonyong2 diam.. memperhatikan Father John.”

“Father John bertanya, ‘Kenapa Anda ngeliatin saya terus?’ dan sang Syeikh menjawab dengan galak, “I am reading you!!” Syeikh Nazim selalu memberikan tes ini kepada orang2 yang datang kepadanya, untuk mengetahui apakah orang itu adalah orang yang ditunggu2nya. Dan sepertinya, beliau telah menemukannya… Father John menjawab, “Bacalah saya, banyak orang melakukan itu tapi mereka tidak berhasil. Tidak ada apa2 dalam diri saya. I am empty.”

Dan Syeikh Nazim pun sedikit terkejut dengan jawaban itu, beliau menjawab, “No, I am empty..!””

“I am empty too.. I am nothing..” jawab Father John lembut.

I am nothing too! I am empty!!” Syeikh Nazim masih menggebu2.

I am empty too.. I am.. crazy..” Father John sudah merasa sangat dekat dengan sang Syeikh.

I am crazy too! Hahaha.. We are both crazy!!” sang Syeikh kontan terkekeh2 pada orang2 di situ: ulama2 dan pendeta yang memenuhi ruangan itu, yang beberapa mengharapkan sebuah pembicaraan ’penting’ dan berbobot, tapi alas.. hanya dua orang ’gila’ di depan mereka.

”Dan begitulah sejak saat itu, mereka berdua duduk tidak terpisahkan, berpegangan tangan setiap saat. Seperti dua anak kecil bertemu sahabat yang sangat dicintainya. Father John suatu saat mempraktekkan doa praktikal kami di situ, dan Syeikh Nazim hanya dapat menyaksikan dengan mata berkaca2, “Oh..” Melihat entah apa mungkin turun dari langit..”

I want to eat you! “ suatu saat sang Syeikh berkata. “Berarti kamu akan jadi Father John lain, hehehe..“ jawab Father John. “Berapa banyak pengikutmu yang dapat menelan dan mengapresiasimu sepenuhnya?? Berapa banyak pengikutmu yang tidak hanya mencintaimu tapi juga menjadi??

(Seperti sebuah perkataan Zen: Instead of quoting the Buddha, be the Buddha! Even if you meet him in the street, kill him! (Dibandingkan menjadi keterikatan lain..))

Dan Father John pun kemudian akan menatap lekat2 dan memeluk Syeikh Nazim dengan erat, hampir menangis, ”Oh… God..God loves you so much ..!”

Masya Allah..” saya cuma bisa geleng2 sepanjang cerita Father German. Keindahan tak terkatakan, ketika perbedaan pun bahkan tidak ada lagi. (Bagaimana bisa dikatakan berbeda, toh mereka hanya kekosongan..)

Saya ingat sebuah kisah lain, suatu hari di Jakarta ketika Syeikh Nazim datang ke sana pada tahun 2000, seorang murid dari Naqshbandiyya bertanya pada beliau di sebuah acara ceramah, ”Syeikh, bagaimana kita tahu di tingkatan mana kita berada? Kalau kita shalat ini dan itu, akan ada di mana kita? Jika kita melakukan ini atau itu, berapa tingkatan kita akan turun?Dan dia terus berbicara dan bertanya tentang segala derajat dan posisi ini.. Hingga akhirnya, di akhir pertanyaan, jawaban Syeikh Nazim cuma satu, ”Kamu ini hamba tingkatan, atau hamba Tuhan?”

…..

”Kalau benar2 cinta, sembah aja Dia, peduli amat kamu siapa dan ada di mana kamu sekarang..”

Angels

Wednesday, July 26th, 2006

Img_0491

8 July 2006, Vyborg

Hal terbaik tinggal di Vyborg, bagaimanapun, adalah tinggal bersama keluarga Father Lavr, yang baru punya bayi 1 tahun: Anya. Tinggal di rumah yang sederhana, dan pergi ke mana-mana dengan jalan kaki (karena Vyborg kecil banget juga sih), tapi tidak mengurangi keceriaan yang mereka pancarkan sehari-harinya. Walaupun saya cuma tidur di sofa, dan sehari2 cuma main ama Anya (bayi mereka), makan 3 hari sekali makanan sederhana (yang sepertinya dimasak dengan penuh cinta), i just feel so happy there. Bahkan ketika tidak ada dari kita yang bisa bahasa masing2 (cuma Maryam yang bisa bahasa Inggris basic banget), hari2 saya di Vyborg bersama mereka adalah hari2 sederhana yang dipenuhi senyuman.

Dan mereka punya cara2 tersendiri tuk bersenang2 –  yang tentunya harus gratisan. Bukan, bukan pergi ke dance party di benteng2 di kejauhan. Maryam dengan matanya yang antusias bilang kalo kita bakal pergi ke sebuah park dengan danau di sekitar situ, tuk berenang!

Kami pun jalan melewati hutan pinus hijau muda yang kering, suara dentuman disko masih terasa jelas di kejauhan sana. Semakin jauh kita jalan, dentuman semakin menghilang. Dan akhirnya tampaklah danau itu..

Huahuahuahuahua..!

Sesuai impianku selama ini tentang danau2 Eropa. Diem, bersih, luas, dengan hutan pinus mengelilinginya. I am so happy!!!“ Maryam pun senyum2 senang ngeliat saya hepi berat. Terus, sepi orang lagih! Kayaknya anak2 muda yang kemarin saya liat di setiap sisi danau sekarang lagi sibuk disko di istana2 tua di kejauhan itu.

Saya pun duduk di batu besar di sana, menikmati sejuknya udara dan perasaan tenang yang dibawa danau itu. Maryam udah siap2 berenang ama bayinya. Dan entah kepikiran dari mana, saya pun memutuskan untuk.. nyemplung juga ke danau!:D Dengan pakaian komplit! Hehehe..

Airnya dingin banget..! “Huahuahuahua..!!” heboh sendiri..

Tapi bener2 relief dari cuaca Rusia yang kayak Jakarta belakangan ini. Saya jalan di dalam air yang beralas tanah lumut itu, dan kemudian merebahkan diri, ngapung gitu aja di atas danau. Langit biru jernih dengan siluet sinar matahari yang hampir terbenam. Saya memejamkan mata, danau diem total..

.. the joy of being nothing and just give up yourself..

Seperti keluarga ini. Di samping kehidupan mereka yang serba pas2an, mereka sempet2nya ngasih banyak hadiah! Ingat barang2 yang saya liat di Ismailovskaya Fair di Moskow, yang ga bisa saya beli karena duit ga cukup?  Percaya ato ngga itu semua saya dapetin pada akhirnya. Dua boneka Matryoshka, selendang, kartu pos, kipas, aksesoris, gantungan kunci, tempelan kulkas, dsb. “Presents for you!” kata Maryam dengan matanya yang berbinar2 lagi.

Ketika seseorang memberi kamu sesuatu, padahal mereka juga pas2an, dan kamu gak bisa bales apa2 sama mereka, cuma perasaan overwhelmed itu yang kamu rasakan. Perasaan yang cuma ngebuat kamu berpikir bahwa… kamu cinta manusia.. Dan masih banyak manusia baik di dunia ini (and just please turn off the TV). Dan untuk balesannya, kamu cuma bisa berjanji ingin memberikan sesuatu yang terbaik buat orang lain, di hari2 ke depan kelak.

Bukan ide besar atau apa, kebaikan sederhana seperti ini pun bisa ngubah hidup seseorang. Perbuatan baik ga pernah sia2 sekalipun juga. Kalaupun orang lain ga bisa ngebalesnya, kamu gak tau aja gimana hal itu telah ngubah hidup mereka. Seperti keluarga sederhana ini, yang ga tau aja gimana mereka telah ngubah hidup saya sejak saat itu..

Kota dadakan

Wednesday, July 26th, 2006

Img_0469 7 July 2006, Vyborg

Jadi, karena ternyata Father Lavr tidak tinggal di St. Petersburg, pergilah kami hari itu juga ke sebuah kota bernama Vyborg (udah deket perbatasan Finlandia). Butuh 2 jam di dalam kereta yang panas banget (kayak di Jakarta deh gue, suer!). Kondisi kesehatan udah mengkhawatirkan aja sebelum saya akhirnya ketiduran di dalem kereta. Orang2 Rusia dengan tampang betenya duduk dengan tenang..

Kereta pun akhirnya berhenti. Oh tidak.. harus berdiri lagi.. Dan bukan berdiri aja, karena Father Lavr pun ga ada mobil, kami harus jalan lagi. Dengan matahari di depan muka banget, kami jalan di pinggir2 rel kereta yang panas dan berdebu.

Tapi kemudian, perubahan terjadi. Bunga2 Lavender tiba2 muncul di mana2, dan saya melihat air di depan! Rel kereta sekarang melintasi sebuah danau. Air biru tua jernih mengalir di bawah kaki kami, terlihat dari bolong2 kayu yang menopang rel kereta itu. Di pinggir2 danau itu, anak2 muda siap2 terjun berenang di bawahnya, teriak2 kegirangan ama air yang sepertinya dingin.

Ternyata kota yang indah..

Besoknya, Father Lavr dan istrinya Maryam ngajak saya keliling2 kota Vyborg yang kecil dan tua. Keren banget: bangunan2 tua dengan cobblestone streets.  Father Lavr dan istrinya pun banyak kenal orang, jadi bener2 kerasa hospitalitynya. Seolah di desa (aih..). Dan ada sesuatu yang aneh, pertama kalinya saya di Eropa, banyak banget anak muda daripada orang2 tua. ”Mereka bukan dari sini, tapi dari kota lain: St. Petersburg ato Helsinki, yang dateng ke sini tuk weekend,” jelas Maryam.

Dan aku mengerti kenapa kota ini begitu populer buat anak2 muda itu. Dari mulai istana Mercu Suar (yang bisa ngeliat jauh banget ke laut, karena dulunya ini kota Viking), hingga benteng2 tua yang dinding2nya berbenjol2, beberapa anak muda lagi sibuk bikin panggung. Akan ada dance-party-all-night-long di sini ternyata saudara2..sepanjang musim panas..

Travail

Wednesday, July 26th, 2006

Img_0529

7 July 2006, St. Petersburg

Mau tahu asal kata travel? Konon kata ini berasal dari bahasa Perancis: travail, yang artinya: adalah siksaan :D

Kok bisa?

Contohnya kayak sekarang aja: pergi dari Moscow ke St. Petersburg. Kereta pergi jam 2 pagi, dan dibanding ketiduran, jadinya malam itu aku memutuskan ngga tidur. Masalahnya, yang lebih menyedihkan, adalah 4 jam-an sebelumnya saya terserang diare! (Gara2 makan Kiwi digabung ama mentega?) Sehingga nambah lemes aja.

Jam 1 pun tiba, dan saya pamitan ke Fr. Timothy dengan berat hati (tambahan travail lainnya: perpisahan). Udah gitu, bawa backpack yang lebarnya lebih dari badan sendiri. Jalan pula dari rumah Fr. Timothy ke stasiun karena jam segituan udah ga ada transpor publik.

Untungnya keretanya enak, tidur nyaman2 aja (disamping beberapa suara berkelanjutan yang lalu lalang di lorong kereta). Tapi.. saya orang yang selalu mabok perjalanan. Jadi semulus apapun kereta tetep mabok..

8 jam di kereta, sampailah kita di stasiun kereta St. Petersburg. Father Lavr, seorang anggota orde yang telah dihubungi Fr. Timothy sebelumnya buat ngurusin saya, udah siap di platform. Tapi.. (banyak tapinya ya?:D) Fr. Lavr ini ternyata bukan tinggal di St. Petersburg, melainkan di sebuah kota deket2 bernama Vyborg.

Jadi gimana donk jalan2 di St. Petersburgnya? “Kita jalan2 sekarang, sebelum pulang jam5,” kata Father Lavr pake bahasa Rusia. Yang berarti juga, ga bisa istirahat dulu ato setidaknya naro backpack di suatu tempat lain.

Jadi, dengan berat hati saya memanggul tas berat itu tuk jalan2 di St. Petersburg seharian. Lebih2 lagi, saya baru nyadar kalo ternyata sepatu boot berat yang saya pake juga nyebabin kaki lecet. Begitulah jadi keadaannya: cape, mabok, lecet, berat, diare.

Belum lagi, cuaca St. Petersburg yang hari2 itu panas banget! Kayak di Bandung dengan panasnya yang `nampar`. Terus, ngerasa rada2 laper lagi! Terus, baru beberapa meter jalan, perut tiba2 kerasa mules! Saya kira diare kembali menyerang, tapi ternyata ini mules yang lain: PMS! Beserta mood-swingnya itu..

Hore!

Kalo gitu, kenapa donk orang2 masih traveling?

Karena selalu worthed sih semua `siksaan` itu.

Jalan2 di Nevsky Prospekt dari train station ke pusat atraksi, kota seni itu menunjukkan taringnya (Enak banget sebetulnya St. petersburg ini, semua yang harus diliat bener2 dalam satu area. Perhaps you have seen all that has to be seen hanya dengan jalan di Nevsky Prospekt itu).

Bangunan2 yang selalu didekor dengan ukiran2 ala teater (beda ama bangunan kotak2 besar di Moskow), cewek2 modis seliweran sana sini di depan toko2 bejibun, terus ada kanal2 yang indah banget: Fontanka dan Moyka yang semuanya penuh turis2 menyelusuri..

Kami juga lewat katedral Kazan, paling besar di sana, dengan kolom2 ala Romanya yang super besar (plus tentunya, tanda mata segitiga di atasnya). Terus, ngelanjutin perjalanan, ada katedral lain kayak St. Basilika di Moscow: Cathedral of Spilled Blood, yang letaknya di pinggir kanal. Jadi lebih cantik..

Jalan terus, kita pun udah sampai di Royal Palace Square. Tempat keluarga Tsar terakhir diculik dan akhirnya dibunuh ama Komunisme. Lapangan besar dengan sebuah monumen di tengahnya membentang dengan istana hijau-putih yang megah banget. Kita bisa masuk ke dalamnya, termasuk ke salah satu musium seni terbaik di dunia: Hermitage. Gratis!

Di dalem Hermitage, phiuh.. jangan ditanya deh.. Saya yang ga ngerti seni aja ngerasain betapa grandeur dan berkualitasnya barang2 di situ. Lukisan2 yang detil banget, patung2 yang indah banget, plus interior2 istana di Rusia yang newah itu pun udah cukup menghentikan nafas. Kalo soal hal2 klasik, ga ada yang bisa ngalahin Rusia sih kayaknya.

Belum berakhir di situ, kami jalan terus hingga akhirnya nyampe Bolshaya River yang lebar banget itu, lewat pake jembatan lebar di atasnya. Rasanya kayak jalan di langit, kanan-kiri-atas warna biru. Angin berhembus kencang. Ngeliat air seluas ini setelah 3 minggu stuck di daratan Moscow, bener2 sebuah pengecualian.

Pulau itu adalah Peter n Paul Fortress, pulau yang merupakan asal kota St. Petersburg ini (sebelum merembet luas ke luar). N psst..di jalan, akhirnya saya nemu masjid pertama di Rusia!

Nyampe di dalemnya, katedral Peter n Paul dengan kubah setipis jarumnya yang terkenal itu menjulang di atas kami. Di dalamnya berbaring semua Tsar yang pernah merintah Rusia, termasuk yang terakhir yang tahun 1998 dikebumikan oleh Yeltsin: makam keluarga Tsar Nikolas 2. Interiornya gak main2 lagi, langit2 kayaknya dilukis sama tangan2 terbaik dunia.

Begitulah saya kira kenapa orang2 masih tetep rela jalan walo dengan kondisi minim. Perasaan awe dan amazed yang didapet suka ngalahin semua itu sih..

Some Words..

Tuesday, July 25th, 2006

"Men hate each other
because they fear each other;
They fear each other
because they don’t know each other;
They don’t know each other
because they are so often
separated from each other."

- Martin Luther King, Jr.

Manual

Saturday, July 15th, 2006

Hai.. cuma mau ngasi tau aja. Di halaman ini artikel2nya kepotong, jadi kalo mau liat full versionnya mending ngeklik ‘Archives’ di kolom kanan ini, n klik July 2006 (ato malah Juni 2006).

Thanks buat semua apresiasi n dukungannya selama ini, yang ke email, post comment, testimoni, dsb :)

Together we can make a better world..

(apapun artinya better world itu..:D)

Gray and Gloomy

Saturday, July 15th, 2006

4
July 2006, Moscow

Img_0387

 

Hari-hari
di tempat suster ini berjalan lamban. Marina udah pulang kampung ke Ivanovsky.
Kerjaan saya cuma makan dan makan. Nongkrong di jendela. Bangunan2 besar
apartemen menjulang di depan saya. Suasana udah hampir Maghrib, matahari hampir
tenggelam indah. Langit biru ungu dan di kakinya ada sinar kemerahan jingga.

 Kelap-kelip
game station di bawah berlangsung sepanjang hari, begitu pula mobil2 yang
berlalu cuek, orang2 kedinginan keluar dari stasiun metro di bawah dalam 3
hari-mendadak-dingin yang ngga biasa ini.

 Orang2
Rusia..
Tiga minggu di sini, (tentunya di luar komunitas super-hepi yang ngga
kayak orang Eropa itu), terasa benar gimana watak orang2 di sini.
Heavy.. depressed.. suffering..

 Ada
sebuah peribahasa,
Nobody suffer more than Russians..

 Dan agaknya,
kamu bisa bener2 merasakan itu. Dari pandangan penuh ketidaksukaan yang
dilayangkan pada ’orang yang berbeda sedikit aja’ di stasiun2 bawah tanah. (Mungkin
kalo yang ngelakuin cuma sedikit ga akan ngaruh, tapi kalo setiap hari sekitar
70 orang melayangkan pandang gak suka kayak gitu ke kamu, bagaimanapun kamu
akan merasakan perasaan berat itu juga..)

 Dari kecurigaan
seorang satpam yang ngga mengizinkan kamu masuk ke dalam sebuah universitas
(yang jelas2 pintunya terbuka lebar). Dari pandangan seorang cewek
bitchy-bitchy
yang
memandang judes seolah kita pernah melakukan suatu hal tak termaafkan. Dari seorang
cowok yang tiba2 melayangkan tanda ’Fuck’ ke arah kamu ketika keretanya jalan..

 Nobody suffer more than Europeans..

 

 Our
suffering is maybe about food and material things

 People
in Africa starve,

 People
in India beg,

 But
we are still smiling,

 masih ada
sisa kecerahan di muka2 kita.

 masih ada
kepuasan batin di muka2 kita.

 Tapi orang2
ini menderita jauh lebih tersembunyi dan dalam,

 eksistensial,

why daripada how..

 Yang lain
pusing gimana caranya hidup di dunia,

 Mereka pusing kenapa
harus hidup di dunia?

 Harta sempurna jiwa
melarat..

 Orang2 yang
punya segalanya tapi tetap berkata,
where is happiness?

 

Tapi kemudian, under gray and gloomy Europe I always
hate
, I wonder.. Kalo berkah biasanya
suka dateng di tempat2 yang paling menderita, bukankah mungkin dia bakal datang
di sini? Di tengah2 orang2 yang ga tau harus kemana2 lagi ini, akankah lahir
sesuatu yang sangat murni? Bersinar terang seperti matahari?

                        Mungkinkah benar bahwa, in the end of the days, the Sun will really rise from the West?

 

Forrest Gump

Saturday, July 15th, 2006

Img_0057

3
July 2006, Moscow

 

Suatu
hari di flat kunjungan saya selanjutnya (flatnya Marina bersama beberapa orang
suster lainnya), Marina 1 dan 2 nongkrong di meja makan sambil ngemil makan
coklat, nunggu matahari terbenam jam 12. Beda ama suster Nadezhda, seperti yang
kalian tahu, Marina 1 ini masih agak2 ’bandel’, dalam artian belum seratus
persen siap mengkomitkan dirinya pada orde gereja itu. Alasannya sederhana aja,
a sweet one, karena dia pikir jalan menuju Tuhan ada di mana-mana.

 Anyhow, dalam ’kebandelan’ kita
berdua, jadilah kita ngomongin film Hollywood. Dan bicara2 tentang film terbaik
yang pernah kita tonton, saya menobatkan film American Beauty sebagai jawara. Tapi
karena Marina 1 belum pernah nonton, jadinya ga akan seru ngomonginnya. Jadi
saya bilang, film terbaik lainnya mungkin adalah Forrest Gump.

 Dan Marina 1 pun merespon
dengan antusias, ”
Great movie.. classic!”

 ”Yoi..” Dan bicara2
soal kenapa, kita pun setuju lagi, ”that movie.. sebetulnya Zen banget..”

 He??

 ”Karena kalo kita liat di
akhir film,” kata Marina 1, ”keliatan banget kalo Forrest Gump itu cuma… hidup
aja gitu..”

 ”Ya! Dia
bener2 cuma hidup aja..! Inget gak
scene waktu dia motong
rumput, siapa sangka dia itu mantan bilyuner, mantan pemain olimpiade kelas
dunia, dsb, dsb? Gak ada! Dia sendiri juga ngga. Mungkin bagi dia itu terjadi
aja gitu, sehingga kemudian gak terikat juga ama semua keberhasilannya itu..”

 “Ya.. ya..!”
mata Marina 1 melotot, “Dan inget gak waktu
scene paling
terakhirnya itu..?”

 Dan kita
pun teriak2 kayak mau nonton konser band idaman, ”
The best scene in the
movie!
 Satu2nya keterikatan Forrest
Gump, adalah seorang cewek ini yang bernama Jenny. Makanya yang paling edan
adalah, ketika Jenny-nya mati, saya juga bertanya2 ‘Nah lho..nah lho.. Mau
bergantung kemana sekarang dia?’ Dan yah.. begitulah akhir film itu, ketika dia
cuma duduk aja nungguin anaknya pergi sekolah: ngga kemana2! Dia cuma.. hidup
aja..”

 “He just lived…!!” mata Marina 1 melotot kegirangan. Kita teriak2.

 “Dia kan cuma bulu terbang
itu, ringan dibawa kemana2 juga!!”

 ”Jenius..!”

 

Setelah riuh rendah tentang Forrest Gump berlalu,
Marina 1 pun berkata, ”Aku ingin lho hidup seperti itu..”

 ”Saya
juga..” Marina 2 menjawab, ”
Just live..”

 Marina dan
Marina pun kemudian bercerita tentang pengalaman hidupnya masing2, tentang depresi,
tentang keluarga yang ortunya cerai. Tentang drama yang dulu sering kita putar
ketika itu terjadi. ”
Oh.. I’m the poor child.
I’m the poorest child in the world, you know.. Drama queen..”

 ”Hehehe..”

 “Padahal,
kalo dipikir2, kondisi kita sekarang jauh lebih baik dari dulu,
just relatively happier, dibanding remaja manja dulu yang bisanya cuma
ngeluh n jadi Drama Queen aja..

 ”Bener2 bukan
masalah ya apa yang terjadi ama kita, tapi apa kita bisa jadiin itu sebagai
pelajaran,” kata salah seorang Marina.

 ”Yup…bener
banget.. Segalanya adalah pelajaran..! Ga ada itu yang secara intrinsik baik
atau buruk, tapi apa kita bisa ngambil pelajaran pada akhirnya?
Hence
menyulap
segala sesuatunya jadi kebaikan,” jawab Marina lain.

 ”Seperti
kata peribahasa,
all’s well in well end.”

 “Hehehe..”

 

Menjelang tidur, lampu udah dimatikan, Marina bertanya kepada Marina,
“Itukah alasanmu berkata bahwa jalan menuju Tuhan ada di mana-mana?”

 “Ya.. karena manusia
selalu bisa ngambil pelajaran dari kejadian apapun juga..”

 ”Hmm.. saya pernah melihat
kalimat itu juga di buku Syeikh Nazim dan Syeikh Hisham..”

 ”Apa katanya?”

 ”Jalan menuju Tuhan
sebanyak nafas umat manusia..”

                            "Wow.."

 

I WANT MORE!

Saturday, July 15th, 2006

2
July 2006, Moscow

 

Saya
pun pergi ke bioskop tua untuk ngeliat liturgi lagi minggu ini. Duduk sendirian
di salah satu kursi di situ, bengong karena ga ngerti apa2 yang diucapin Father
John di depan, saya jadi mikirin yang lain.

Saya inget pertemuan dengan
Daniel di Munich, ketika waktu dari kafe siang2 itu, kita jalan pulang dan saya
ngomong ke dia, ”Pagi ini banget, saya nonton sesuatu yang sangat luar biasa di
CNN.”

”Oya? Soal apa?
Cuaca di pembukaan World Cup?”

“Bukan. Soal
kematian Abu Zarqawi, salah seorang pemimpin Al Qaeda.”

“Hmm, what about it?” kata Daniel mikir2.

“Saya
terkesima dengan pemandangan ketika seorang tentara Amerika mengumumkan
kematiannya di sebuah ruangan, semua orang dalam ruangan itu bertepuk tangan
gembira, termasuk yang Muslim2.”

Daniel diem,
“Aku ga tau kalo kamu, tapi kalo menurut saya, kematian seseorang, siapapun
dia, bukan sesuatu untuk ditepuktangani..”

“Saya
setuju.
Tapi
kita ngga tau, kita bukan mereka. Mungkin kita ngga tau juga penderitaan macam
apa yang udah disebabkan Al Qaeda dalam hidup mereka, termasuk yang Muslim.”

Maybe..”

 ”Tapi itu bukan semua.
Yang paling ngebuat saya terperangah ga bergeming dari depan TV adalah, seorang
wartawan CNN buru2 mendatangi sebuah rumah untuk menemui seorang Bapak, yang
ternyata adalah Bapak seorang sandera Amerika yang dibunuh di depan kamera dan
dikirim tapenya ke Gedung Putih itu. Si wartawan udah antusias dengan ’kabar
gembira’ ini. Di luar dugaan, si Bapak, dengan kaos ’Stop War in Iraq’nya itu tidak
antusias sama sekali. Si wartawan ampe nanya balik, ’Jadi intinya Anda tidak
senang dengan keberhasilan ini?’ Dan kamu tahu apa jawabannya?”

”Apa?”

”Dia bilang, ’Saya
bukannya mendukung semua aktivitas Al Qaeda itu, tapi kebencian bukan untuk
dibalas dengan kebencian lagi. Dendam bukan untuk dibalas dengan dendam lagi.
Musuh saya adalah anger itu sendiri, yang telah merenggut jiwa anak
saya, dan ia tidak akan dapat dikalahkan dengan balas-membalas seperti ini’. Can you
believe that?
..”

Daniel geleng2 kepala..

”Rasanya seperti.. nonton film Gandhi yang
mengajarkan hal yang sama. ’Kita bukanlah akan menyerah kepada dominasi
Inggris, tapi pukulan di pipi kanan tidak bisa disembuhkan dengan membalas
menampar, melainkan menyodorkan pipi kiri. Kita akan menerima dengan lapang
dada semua ketidakadilan ini. Karena kemarahan cuma bisa dihancurkan oleh
kesabaran..’”

Saya dan
Daniel pun jalan cepet2 pulang dalam diam, terkesima edan.
 ”Kok bisa ya
ada orang2 seperti itu?” Daniel pun ga bisa njawab..

Nadezhda datang
ke sisi saya untuk menerjemahkan. Father John ternyata sedang berbicara tentang
surga dan neraka. ”Neraka, ngga jauh-jauh, ada di dunia ini juga.” Hidup ini
penderitaan, kayak kata Buddha. Karena semuanya tunduk dalam hukum
sebab-akibat. Kita selalu berbenturan ama banyak banget kepentingan dan kita
tidak selalu menang. Terus gitu,
survival of the fittest. Dan di
akhirnya, orang yang paling jahat pun akan bertanya2 kenapa dia harus menjadi
jahat seperti itu akibat seluruh sejarah hidupnya? Semuanya bergulir dalam
sebab-akibat. Balas membalas.

But I want more! We need
more!
Saya butuh orang2 jarang yang mampu memutus mata rantai itu.   

Seperti,
Dalai Lama yang diwawancara orang yang membuat bukunya, ”Apa pandangan Anda terhadap
bangsa Cina yang menjajah tanah Anda?”

”Mereka tamu di tanah kami,” kata beliau sambil
nyengir sumringah.

Memperjuangkan kemerdekaan? Tentu saja, atas
nama keadilan dan keharusan. Tapi kemarahan? Tidak setetes pun terlihat dari
jawaban dan ekspresi beliau.

Orang2 yang udah memenangkan
jihad paling penting, jihad dalam diri kita sendiri. Melawan musuh utama kita
sendiri:
rage. Orang2 yang telah mengguncang dunia
sebab-akibat, dan membiarkan sesuatu yang lain masuk ke dalam dunia ini,
kualitas Tuhan sendiri: Cinta.

 Nadezhda menerjemahkan,
”Tuhan itu Maha Penyayang, tapi masalahnya, apa jiwa kita siap untuk menghadapi
ke-Maha Penyayang-an semacam itu? Pernahkah jiwa kita membiarkan rantai neraka
itu putus, sehingga menyiapkan jiwa kita melihat Keagungan semacam itu?”

………………..

Img_0113

 

Bahagia Sejati..!

Saturday, July 15th, 2006

1 July 2006, Moscow

Img_0376

Hari ini Nadezhda mengantar saya ke tempat yang keren abis!
Ismailovskaya Fair. Ada di pinggir kanal, terus banyak bangunan tradisional
Rusia dari yang kayak istana ampe yang dari kayu-tanpa-paku
tea..

 Terus terus,
waktu masuk ke dalamnya, suasananya kayak pasar seni abis. Di setiap kios ada barang2
suvenir dari seantero Rusia. Ada boneka Matryoshka yang ‘bertelur’ terus ampe
ke dalam itu. Ada baju tradisional Rusia cewek dari bahan sulaman keren banget
itu. Ada Santa Klaus ala Rusia (Baju merahnya dihias2 ama ornamen bunga). Topi-topi
bulu yang beken itu. Karpet2 yang dijajakan ama orang2 Uzbekistan….

 Bahagia
sejati..

 Terus terus,
belum lagi, ada penjual yang mainin gitar khas Rusia! Bentuknya kayak kecapi,
tapi jauh lebih pendek dan kecil. Suara senarnya itu bo, bikin merinding! Kayak
tiba2 ada di daratan nun luas Rusia yang gak berujung.

 Such a beauty! Kebudayaan Rusia keren banget!! Lengkap
antar warna-warni ceria ama sedikit sense melankolis.

 Kita lewat
lagi penjual yang lain, kali ini kakek2 tua berpakaian Indian yang ngejual
suling bambu buatan sendiri, dan di luar dugaan, dia nyapa ‘Halo, apa kabar! Selamat
pagi!’ Ngobrol sebentar, ternyata dia itu profesor antropologi di Universitas
Moskow!:-O Jadi jualan suling bambu di pasar sini, dengan pakaian nyentrik dan
gaya aneh kayak orang Indian lagi ekstasi itu, cuma hobi aja..

 Nadezhda pun
membeli sulingnya dengan harga yang sangat murah untuk alat musik: 100 rubel.

 Tapi emang ga
heran juga. Tempat ini emang indah banget buat jalan2 dan menikmati warna,
pantas si dosen suka. Cuma satu aja kekurangannya waktu itu: Andai punya uang
ey, huuu…:,D

 Di tempat super-indah
kayak gini, kayaknya cuma satu yang bisa saya lakukan: membaginya ama orang
lain.
Jadi
udah kepikiran gitu, selendang itu buat nyokap, boneka Matryoshka itu buat Teh
Tanti, baju itu buat ponakan. Huehuehue.. andai punya duit…!