Awas, Barang Pecah Belah!
8 August 2006, Ghent
Aku duduk di samping sungai Leie yang cantik, dengan gedung2 di belakang dan depan yang kayak deretan rumah Barbie (dengan selera lebih klasik yang tahan 1000 taun). Ghent ini membuatku terpesona. Gak terlalu beken di telinga, tapi pas jalan2 di dalamnya terasa menyenangkan. Semuanya diniatin. Di setiap sudut kota ada pot2 bunga segar yang dimaksudkan tuk mendekorasi kota. Banyak toko2 kecil, jual souvenir ato barang2 kerajinan. Barang2 kecil berharga banget, dijaga sepenuh hati.
Seperti juga rumah Charlotte, pikirku. Diwarnain beda tiap ruangan. Ato liat juga cara dia ngebungkus hadiah sabun kecil tuk tetangganya.
Lamunanku terbuyarkan ketika tiba2 ada seorang cowok duduk di sebelah dan ngajak kenalan. Namanya Ben, tinggal di sebuah kota ga jauh dari Ghent.
Pas kubilang namaku Marina, Ben mulai menyenandungkan sebuah lagu dengan banyak kata Marina. “Tau lagu itu?” Dan dia terkejut ketika aku geleng2. “Itu lagu klasik taun 70an, punyanya Roco Granata.”
Karena saya tetep geleng2 kepala, kita pun akhirnya jalan2 di seputaran pusat kota Ghent yang kecil itu tuk nyari2 CD Roco Granata.
“Apa kerjaanmu? Kok weekdays gini bisa liburan?”
Ternyata Ben seorang seniman. Painter tepatnya. “Tapi itu kayak masa lalu. Dulu saya rajin banget pameran. Sekarang udah ngga, cape. Jadinya dorman, nyari2 inspirasi aja terus kayak sekarang.”
Kita rada cape setelah pergi ke 4 toko musik dan gagal mendapatkan CD yang dicari. “Wah, gagal deh.. sori ya,” kata Ben.
“No worry, saya selalu bisa download dari internet.”
Dan kita pun ngelanjutin jalan, menuju sungai tadi tuk ngambil motor dia. “Apa biasanya yang kamu lukis?”
“Women, hahaha..”
“Dassar..” Dan selanjutnya dia menarik sesuatu dari dompetnya. Sebuah postcard, yang ternyata hasil lukisannya. Di luar dugaan, ketimbang lukisan2 bugil kayak di film Titanic, ternyata lukisannya bener2 oke. Cuma segaris2 kuas hitam di atas latar belakang putih, kayak lukisan2 Zen.
“Wow..”
Dan dia ngasi postcard lainnya. Kali ini patung, “Ada di samping sebuah jembatan di Brugge.” Monumen yang gak kalah mencengangkan. Sangat kontemporer (dan tentunya agak menyeramkan) dan kerasa banget kualitas seninya.
“Geezz.. you are very talented. Continue your exhibitions, man..”
“Hahaha.. ngga deh. Saya mau ngerem dulu. Cape.. and afraid of broken-hearts..”
“Paintings.. can break your heart? Ga ngerti.. bukan mahasiswa seni.”
“Jelas. Kamu harus jaga jarak dari dia. Kalo ngga kamu bakal keseret ke dalamnya, dan gets too.. emotional..”
Baiklah.. whatever..!
Kita sampai lagi di samping sungai Leie. Terlihat sebuah motor gaya diparkir di sisi sungai yang kuno. Dia pun pamitan dan naik ke motornya. “Nice to meet you. Thanks for the walk!”
Sesaat sebelum dia pergi, tiba2 ada ilham yang menclok ke kepala. Mungkin juga jawaban atas permasalahan Charlotte.
“Hey.. maybe you should try to break your heart! And just see what comes out of it..”
