Guest House
Balik2 dari pusat kota Ghent, siap2 packing tuk pergi, keadaan malah memburuk. Awalnya, Charlotte cuma nanya besok mau pergi jam berapa. Saya bilang keretanya bakal pergi jam 9, jadi saya bakal pergi jam 8.30an dari rumahnya. Dia menyetujui, jadi semuanya ok2 aja. Tapi entah kenapa, sejam-an kemudian, doi berubah pikiran..
Dia bilang saya seharusnya keluar dari rumahnya jam 7an, bareng ama dia pergi ke kantor.
Saya jadi BT juga akhirnya setelah numpuk2. Pertama karena dia berubah2 pikiran mlulu. Yang kedua, saya mau belanja di supermarket dulu yang baru buka jam segituan, jadi bawa tas gede ke supermarket, gimanaa gitu? Lagian plis donk, saya mau pergi juga dari rumah dia. What is the problem sih actually?
“Gimana ya.. Selain saya ga nyaman ada orang lain di rumah ketika saya ga ada, rumah itu bagi saya ‘little temple’. Kita harus menjaganya dari ‘energi2 aneh di luar sana’.
Eergh.. pikir saya bete, gimanapun juga harus nurut. There you go, spiritual freak! Orang2 yang ‘spiritual’, jadi musuhin dunia material. Meninggalkan dunia material ‘dengan segala keburukannya’. Ga ma tau. Saya sih lebih menghargai orang2 yang ‘ngorbanin diri’ nyemplung ke dunia material dan berkotor2 nyoba ngebantu sesuatu di dalamnya. Bukan para pertapa di gunung ini.
Kayak host2 HC lainnya yang membuka diri ama dunia material di luar, baik ato buruk. Karena mereka percaya kebaikan pun bisa ngubah yang buruk2. Bukan spiritual freak yang nyoba mengisolasi rumahnya dari ‘energi2 buruk dari luar’ gini.
Huh.. masih bersungut-sungut.
I could have chosen to hate her.. actually..
Ketika tiba2, saya pun menyadari sesuatu.. Kalo.. saya bener2 memaksudkan apa yang saya katakan, maka sebetulnya saya pun harus membuka hati saya buat dia..
Jadinya malem itu, di kamar ala hippies itu pun saya merenung lagi.
Malah bukan merenung.. Tidak ada lagi teori di sini, tidak ada yang harus dipikirin. Pikiran dan ide selalu menerima sebagian dan menolak sebagian yang lain. Tapi di sini semuanya harus diterima . Undang juga yang buruk2. Semua tamu harus diterima dengan tangan terbuka..
Alkemi yang sesungguhnya pun terjadi - yang bisa ngubah batu biasa jadi emas..
Ketika kita nerima yang jahat2 juga..
Ohohoho.. nyeri..
Kamu pun kebingungan kenapa kamu baik2 aja walaupun nyeri. Biasanya kita ga nerima yang jelek2 karena takut ama perasaan nyeri itu, tapi ternyata kalo kita bersedia menerima rasa sakit itu - sabar - di balik kita ada yang sayang juga ama kita, Sesuatu yang ngemong perasaan nyeri itu. Something Else..
Subhanallah..
Paginya, patuh tuk berniat pergi bareng Charlotte, tapi beda setengah jam karena dia buru2, saya pun nyempetin bikin surat.
“Dear Charlotte..
Sorry if I dont come in the right time in your house (plus semua alasan kenapa dulu sempet berencana 5 hari.)
I really hope everything will go well in your life.
And really thank you for everything. I really mean it, coz u also made it!
(You keep on inspiring, directly or indirectly, since the day we met in India!:) )
P.S: I dont really understand when you say that your house is a temple. To me, a temple is never bricks and wall. It is in human heart.
So you might consider your house rather as a guest house - just like Rumi poetry that you used to quote - where you can invite also some unwanted guests (like me, hehe..)
Coz a heart must break, Charlotte..
A heart must break..
To let Something Else pours out of it..

September 10th, 2006 at 7:26 pm
breaking ur heart means breaking ur ego.. hehhehhe