Kanan-Kiri
Terlihat sebuah gedung di kejauhan dengan atapnya yang aneh. Tiga ekor buaya, atau monster, dengan ekor super panjang meliuk2 ke atas membentuk kerucut kayak es krim.
Es krim warna abu2 menyeramkan.
Apaan tuh? Saya pun jalan ke kiri dari jalanan shopping centre Stroget mendekat ke arahnya. Jalan2 beberapa langkah, saya udah dekat dengan gedung parlemen yang ga kalah indahnya. Dan ternyata ada hal lain lebih menarik perhatianku, sebuah stand berisi orang2 bertampang Arab dengan bendera Iran di mana2. Apaan (lagi) tuh? Saya pun batal pergi ke gedung aneh tadi dan malah nongkrong bareng mereka, hehe..
Segerombolan orang kumpul2 untuk merayakan sesuatu yang rupanya adalah keberhasilan mereka ga makan apa2 selama 45 hari, sebagai sebuah protes ke parlemen Denmark.
“Kami para pengungsi yang dapet asylum dari pemerintah Denmark. Ato tepatnya.. harusnya dapet asylum dari pemeritnah Denmark,” kata Kumar salah seorang dari mereka.
“Emang apa yang terjadi di Iran?”
“Pemerintah kita kejam pada yang ‘beda’, singkatnya.”
“Seberapa beda kalian?” kata saya bingung. Bukannya Iran itu sumber banyak pergerakan kontemporer ya? Dari film2 sosial, agama Baha’i yang kini mendunia, ampe cewek2 feminis pemenang penghargaan buku.
“Contohnya saya aja, pengikut Sufisme. Hal2 yang dianggap bid’ah kayak gini dilarang ama pemerintah Iran."
Sufi.. aha.. terdengar sebagai konflik yang familiar sejak zaman Syeh Siti Jenar, mungkin..
Tanya demi tanya, Kumar melanjutkan praktek Sufinya di Kopenhagen ini.
"Wah, ngapain aja kerjaannya? Pengajian? Ikutan donk.."
“Kita ga terlalu sering baca Quran, yang penting adalah hati.”
Wah.. nekad itu namanya, “Bukannya baca Quran itu syariah? Pantes aja pemerintah Iran ngamuk, hehe..”
“Ya tapi kalo sesuai hati mau gimana?”
Kayak ngerasain Pizza itu enak tapi kemudian ada orang lain yang bilang kalo Pizza itu ga boleh enak, hehe.. “Kalo itu bermanfaat buat kita secara pribadi, mau gimana? Apa bisa semua orang diseragamkan cara menjalani hidupnya?”
Kumar ngobrol2 sama beberapa bule yang dateng. Beberapa ternyata anggota parlemen sendiri yang telah mendukung perjuangan mereka ‘dari dalam’.
“Yah.. Ngomong2, selamat donk ya kalo gitu! Permintaan kalian dikabulkan dan akhirnya dapet izin tinggal.”
“Satu tingkat telah terlalui, tinggal kini survive di Denmark yang rasis ini aja, hehehe..”
Ternyata bukan berarti Denmark ok2 aja, karena menurut Kumar, kekuatan partai liberal makin lama makin besar. Partai sayap kanan yang ternyata punya kaitan erat ama Jurgen Posten sebagai media mereka.
“Dan partai ini sebetulnya menggambarkan psikis orang2 Denmark kebanyakan. Lucu mereka itu, di lain hal mereka butuh kita untuk ngerjain hal2 yang ga ingin mereka kerjakan: kerjaan2 kelas dua. Tapi di lain pihak, mereka juga ga terlalu seneng kita di sini.”
“Saya kira kasus Jurgen Posten itu karena mereka ga setuju ama terorisme2 yang terjadi di seluruh dunia.”
“Ngga juga. Mereka manfaatin image Islam yang lagi buruk aja untuk jadi motor penggerak kemenangan partai mereka. Untuk membebaskan diri dari para imigran Muslim, singkatnya.”
Begitulah nasib imigran2 Iran itu, terjepit antar yang kejam di negara asal, dan yang rasis di negara baru.