Archive for September, 2006

Tapi Ku Baik2 Saja..

Monday, September 4th, 2006

Img_1005

1 August 2006, Oslo

Aku duduk menghirup udara segar jam 9 pagi di sebuah kursi kayu tua. Kursi kayu yang ada di penghujung benteng tua kota Oslo. Di depan, pelabuhan Oslo dan segala aktivitas paginya mulai bergerak. Segar.
Baik2 saja..

Saya pun membuka roti yang saya beli di supermarket tadi. Mengoleskan selai coklat ke roti itu dengan bahagianya, ohohoho..
Saya makan seadanya sambil ngeliatin ibu kota Norwegia di depan yang adem ayem itu - kota yang kalah spektakuler kalo dibandingkan bagian2 Norwegia lainnya yang edan. Sebuah jam raksasa berdenting keras di kejauhan, pukul 9.15.

Udara pagi sangat bersahabat dan angin sepoi2 berhembus. Keadaan setenang debur ombak di pelabuhan di bawah. I feel calm n happy..

Dan kemudian, sebuah kebenaran sederhana pun hinggap di kepala, ‘Why shouldn’t we?’

Why worry..?

Di luar duit yang minim, dan ‘perjuangan2’ tuk hidup di Eropa dengan kondisi yang minim. Di luar kesendirian bepergian dengan keamanan yang ga pernah terjamin seratus persen.. Why worry..?

Karena ombak di pelabuhan di bawah baik2 saja. Gedung2 perkantoran di seberang sana baik2 saja. Nobel Peace Centre di tepi pantai juga. Jam besar di kejauhan juga. Udara di antara kita juga baik2 saja..
Kalo saat ini harus ada sesuatu yang dinamakan ‘masalah’, maka tidak bisa tidak dia hanya akan ada di dalam kepala manusia..

Kata ‘masalah’ tercipta ketika ada seseorang bernama ‘saya’, yang tentunya tidak selamanya keinginannya terpenuhi?
Tapi kalau tidak ada ‘saya’, atau katakanlah kalau ia tidak terlalu ‘dipikirin’, why worry..?

Karena Hidup.. baik2 saja..
Alam semesta terus2an mengalir untuk tetap seimbang .. apa2 harus digantikan..
Itu semua baik2 saja..
Menjadi ‘masalah’ ketika ada ‘saya’ yang harus ’suatu saat tergantikan’ itu..

The biggest problem in the universe is yourself..

(N btw, kalo ada yang harus diselesaikan, selesaikan aja. Bukan ’masalah’, selesaikan aja..:D)

A Tale of Svartlamon

Monday, September 4th, 2006

Img_0987

31 Juli 2006, Svartlamon

Skandinavia oh Skandinavia.. (lagi)
Saking adil n aktivisnya negara2 ini, beberapa orang pun bahkan mempertanyakan sistem sosial mereka sendiri yang udah bagus banget itu..
Gila ya kalian?

Di stand Boikott Israel waktu itu, aku ketemu seorang lain bernama Bjorn, mantan jurnalis yang dulu ‘ada di Palestina tuk ngeliput The Last Intifada’. Ngobrol2 dikit, akhirnya Bjorn ngundang saya buat ngeliat proyek barunya di Trondheim: sebuah ghetto bernama Svartlamon.

Walhasil sampailah saya, Lisa, dan Sanna ke area itu setelah kita balik dari Storas Festival. Beda sendiri dari area Trondheim lain yang cantik dan berbunga2, kerasa langsung kalo area ini masih dalam pembangunan. Bangunan2nya berarsitektur seadanya dan kebun2nya berantakan pula. Bjorn ngundang kita masuk ke dalam kantornya, dan langsung ngecap menjelaskan sejarah Svartlamon.

Jadi area ini bermula sejak jaman setelah Perang Dunia Kedua, ketika pabrik2 senjata di deket situ udah ga berfungsi lagi, dan area ini jadi terabaikan. Orang2 yang ‘kurang beruntung’ pun jadinya mulai membangun pemukiman di situ dan menetap. Kemudian, tentunya ekonomi Norwegia membaik, dan pemerintah pun ingin menggusur tempat itu. Penduduk di situ, yang waktu itu kebanyakan seniman2, protes. Karena mereka berpenghasilan ga terlalu besar dan ga akan sanggup ngebayar flat yang mahal di bagian kota lainnya.

Demonstrasi berlangsung, dan akhirnya mereka menang dan dibolehin menetap di sana.
“Tapi itu setelah meyakinkan pemerintah, bahwa Svartlamon akan menjadi contoh pemukiman ekologis pertama bagi Norwegia, bahkan semoga untuk dunia.“
Ekologis, karena, rumah2 berarsitektur biasa2 saja yang tadi kita liat itu, semuanya murni terbuat dari kayu. Ampe ga ada genteng karena konon mengandung semacam senyawa yang ‘sulit terurai’. Kemudian mereka juga menganut filosofi kalo belum rusak, kenapa harus dibenerin. Yang intinya buat ngerem aktivitas industri yang terus2an nyiptain produk2 baru yang sebetulnya belum perlu2 amat: TV, radio, kulkas, yang sekarang cuma bisa end-up di lautan.

Hoo.. saya terkesima. Lisa dan Sanna masih agak gatel pingin keluar dari area itu.
“Tapi lebih dari semua itu, sebetulnya inti dari area ini adalah tuk memelihara sepetak area yang terbebas dari cengkeraman perusahaan2. Kalo sewa di bagian kota lainnya mahal karena air diatur ama perusahaan si ini, listrik dimiliki perusahaan si itu, dan berlanjut terus hingga mencapai jaringan perusahaan2 lainnya yang begitu mengakar dan meluas, maka kita berusaha meminimasi hal itu.”

Kita keluar ke kebun yang bener2 ga keurus itu.
“Dan kita ga dapet sokongan dana dari pihak manapun juga yang kita curigai ada deal tertentu ama perusahaan2 tertentu.“ Makanya kebun2 di sini ga seindah kebun lainnya di Trondheim. Dan butuh bertahun2 di sini tuk merenovasi sebuah rumah dibandingkan apartemen yang terlihat di kejauhan yang cuma butuh 5 bulan buat komplit 100%.

Gila.. bukan setuju ato nolak, tapi saya terkesima. Ada sekelompok orang macam ini yang nyoba tuk keluar dari cengkeraman jaringan kapitalisme yang kini udah kayak senyawa oksigen di udara aja kali..(ehm.. berlebihan ya?)
By people, for people. Cuma itu yang kita eksperimenkan di sini, di tengah2 sistem yang sebetulnya cuma peduli ama winning dibandingkan others.”

Anyhow, for a quick visit too, log on to www.svartlamon.org

Boikott Israel!

Monday, September 4th, 2006

Img_0959
29 Juli 2006, Storas

Skandinavia oh Skandinavia..
Bukan aja alam super indah dan ekonomi super kuat, tapi juga orang2nya peduli ama orang lain dan sadar politik. Di antara kepasrahan saya atas perlakukan rasis orang2 Eropa sejak di Jerman, di Norwegia ini bahkan ada klub anti-rasisme. Jalan2 di stand2 di sekitar panggung2 Storas Festivalen, ada sebuah stand dipenuhi anak2 muda pirang dan red-head, berusaha ngejual sebuah pin kuning berbentuk tangan, bertuliskan “Don’t mess up with my friend! S.O.S Rasisme..” Hasil penjualan pin ini tentunya bakal digunain buat ngepromosiin mind-set anti rasisme ini..

Itu stand anti rasisme, yang lebih mengherankan lain, adalah sebuah stand dengan bendera Palestina besar berjudul Boikott Israel! Aneh, karena bukan aja biasanya stand semacam begini cuma saya temuin di depan masjid Salman Bandung, tapi juga karena isinya pun lagi2 cuma bule2 Norwegia asli yang ga ada hubungan apapun ama Palestina, jasmani rohani..

Gak ada kerjaan lain kali ya Skandinavia ini? (terlalu baik2 saja)

Quite an interesting thing you get here,” tanya saya ama si penjaga stand: Thomas, “apa latar belakang klub kalian ini?”
Thomas jawab bahwa apa yang terjadi di Palestina ga adil karena Israel selalu berperang dengan kekuatan 10 kali lebih besar dari Palestina. “Anak2 muda Palestina ngelemparin tank2 Israel, dan Israel bakal ngebales dengan kekuatan seolah lagi pemusnahan etnis. That is just not.. how to fight..”

“Ehm.. iya sih. Tapi itu yang udah terjadi sekarang. Tapi dari dasarnya sendiri, apa menurutmu kesalahan Israel dari awalnya banget? Ato malah kesalahan awalnya dari kedua belah pihak? Israel emang banyak melakukan ketidakadilan dalam perang, tapi kenapa perang itu sendiri harus terjadi?”

“Karena Israel ngerebut tanah orang. Masyarakat Eropa sebetulnya merasa ’bersalah’ atas apa yang terjadi ama bangsa Yahudi selama Perang Dunia Kedua. Jadinya PBB memutuskan untuk memberikan gitu aja tanah buat Israel..“

“Bangsa itu ga punya tanah, kasian juga sebetulnya.“
What do u mean?“
“Saya hanya mulai berpikir.. perang yang satu ini ga ada habis2nya. Dan belajar dari pengalaman, itu karena ga ada salah satu dari pihak itu yang mau ngalah.. Dan bicara soal keadilan.. mungkin emang Israel harusnya dikasih tanah sedikit aja..“
“Ya tapi itu tetap tanah orang, kamu ga bisa ngasih tanah itu gitu aja ke orang lain.“
I know you speak about justice. But I actually speak about compassion here, to give. Karena kadang an eye for an eye emang bener2 ga ada abisnya. Aku mulai berpikir tentang share.. coexist.. dibandingkan victory..”

Dan selanjutnya perdebatan tentang share vs. victory itu berlanjut terus. Hingga akhirnya Thomas menyadarkan saya, “Kalo ga salah, dulu itu Israel udah dikasih tanah dan semua orang udah setuju. Tapi masalahnya Israel tetap meluaskan invasinya sehingga seolah ingin semua wilayah Palestina.”

“Iya ya.." saya jadi ingat perasaan ada yang pernah cerita gitu juga, "Hmm, kalo emang bener itu yang terjadi.. berarti Israel sebetulnya yang ingin victory dibanding sharing..”
“Begitulah..”
Kita diem2an..

“Apa yang menurutMU harus terjadi di awal itu? Since u were asking me a lot of difficult question before..?“ Thomas nanya.
Dan dia pun nyadarin saya, “Sebelum ada sebuah state bernama Israel, orang2 Yahudi dan Islam hidup damai di Palestina… Di situlah sharing terjadi.. Kenapa harus dijadikan sebuah state lain yang terpisah?”
Thomas senyum2, “Yah.. exactly..”
“Wow.. oddly enough, kamu baru aja nyadarin saya. Biasanya saya suka males ngedukung acara Palestina-Israel gini karena biasanya selalu masalah victory dari sebuah golongan atas golongan lain.”
No, not about victory, all about justice..
And about conscience,” saya senyum2 (dan yang jelas bukan karena ga ada kerjaan lain ya Skandinavia ini), “saya kira kalo udah nyangkut conscience bakal lebih besar kekuatannya, dan lebih efektif.”
“Semoga aja. Yang jelas orang2 yang lewat sini juga ada dua golongan, yang ngelayangin tanda jempol, dan jari tengah, hehe..”

Thomas ngeliatin setumpuk postcards yang dia sebarin ke orang2 di situ, sebuah surat untuk perdana menteri Norwegia: Wake Up Jonas, Palestina is Burning! Berisi lima buah pernyataan:
1. Kembalikan full diplomatic contact bersama Palestina dan kirim wakil ke sana
2. Boikot total produk2 Israel (termasuk di dalamnya stop ngirim suku cadang senjata ke Israel)
3. Kirim investigator Norwegia ke Israel
4. Tempatkan wakil di Gaza
5. Kirim delegasi resmi tuk ngurus pengungsi2 Palestina

Dan untuk website, mungkin tuk melayangkan tanda jempol (great website of conscience too!), visit: www.boikottisrael.no

Interview with NRK Radio (RRInya Norwegia lah..)

Monday, September 4th, 2006

Img_0919

29 Juli 2006, Storas

Storas Festivalen.. bla bla.. 3 days rock music festival.. bla bla.. Indonesia.. bla bla..

“So, you are traveling from Indonesia. How do you know about this festival, come here and even work as a volunteer?”

“I go to Norway coz my friend here, Lisa, invited me. And she said that she is going to a music festival around the times I come, so I just join her. And when she knows that the ticket is 100 euros! Me and Lisa tried to find a way to get a free ticket, which is.. volunteering.”

“And how is the job?”

“Oh, just perfect. Becoming one of the Cleaning Service, picking up some garbage around the stage. Twice a day. Not too many, plus you still could see what happens on the stage..:)”

“What do you think of the whole festival so far?”

“Well.. quite a new experience though. Never in my hometown there is this kind of festival, you know, where 7000 people gather around mountains to camp for 3 days, seeing three stages of music. And the bands are great too, I like The Cardigans yesterday.”

“Is that what you are looking for in this festival?”

“Not really. Perhaps I might say that the nicest thing was just to hang around with the people, talk with them, you know..”

“You are a Moslem, aren’t you? How do you find about the people here? Or just the whole festival?”

“Hmm well.. it IS.. really different..:D I mean.. not everyday in my life I find thousands of people all drinking in one place, singing and shouting the whole night. Plus all the.. crazy things.. hehe (termasuk.. cowok2 yang bungee jumping telanjang bulat dan cewek/cowok yang berendam air panas di satu ember gede, also naked, gituh yah!). I don’t say I like it. First days it feels awkward to be in the middle of all these, while you are completely from a different culture..”
“But then.. something happens. I might say that it is from the Norwegian people itself. They are seeing you weird in the first place, but.. they come to you, and say it out loud what they are thinking in their mind!”

“Hahaha..”

“Yeah, for example, I was in this big camp trying to get some lunch. I sat in one table, when there are these young people with big glasses in their hands. First they look weird at me, but seriously, one girl just stated what´s in their mind, “Why don’t you drink?” I answered, it is not only forbidden for me, but I also don’t like the taste, and I don’t like the effect (mengingat Snooze Experience..). After that, we just.. big friends! And it happens all the time here! People come to you, asking why don’t you do this and that, and even they also state, ‘You must think we are crazy?’, and I will say, ‘Yes’. But then we just laugh. No hard feeling at all.”

“Hahaha..” 

“Yeah.. I think that is what is different here. Usually I am with different people, people stare at you, and it stops there! There’s still distance between us. But here, everybody must not have any distance! Even though you are different, watch out, we will talk to you! Therefore there is acceptance, no misperception. I still think they are crazy of course, hehe.. But at least we are communicating. We are friends! And who knows what will come from there..”

“Hmm.. ok..
thanks Marina.. bla bla bla.. live interview..Storas festivalen.. bla bla..The Cardigans.. Lovefool..”

Never a Happy Camper

Monday, September 4th, 2006

Img_0929

27 Juli 2006, Storas

Pernah bertanya2 kenapa orang suka camping?
Karena saya sih ga ngerti..

Ninggalin flat Lisa, yang walaupun sepi melongpong, selalu kerasa kayak balik ke rumah sendiri. Kerjaan sehari2 nongkrong di depan TV, nonton MTV, ato muter CD2 di raknya yang seleranya juga  sama ama anak2 muda Indo: Radiohead, The Strokes, ColdPlay. Beda sendiri ama anak2 muda Eropa lainnya yang seleranya jazz dan yang sulit2, Norwegia ini pop banget!
Pantes aja jadi juara World Idol (naon deui..)

Beda lain dari orang2 Eropa lainnya, adalah mereka juga suka ngoleksi DVD. Walaupun ga semurah DVD2 di Kota Kembang, mereka tetap ngoleksi ber-rak2 DVD yang seleranya juga kebanyakan sama ama kita2..

Karena itulah ketika tiba waktunya meninggalkan flat dia, apalagi tuk camping, hatiku pun menjerit, Tidaaakk!!

Tibalah kami, setelah melewati pegunungan2 indah pake mobilnya Lisa, di Storas - sebuah pegunungan (ya benar.. bahkan bukan desa) 30 kilometer dari Trondheim. Di sini akan diadakan sebuah festival rock taunan, di mana orang2 bayar buat camping 3 hari, dan tentunya menikmati band2 di situ. 

Saya, Lisa, dan gank ceweknya kini mengelilingi sepetak tanah yang bakal dijadiin tempat bangun tenda.
Bingung!
Karena tendanya gede banget dan taun 70an, plus saya ga pernah bikin tenda.
Terus, cuaca panas banget lagi! Lisa dan temen2nya langsung buka baju aja, tinggal bikini, yang tentunya langsung menambah ketidakenakan suasana karena orang2 di sekitar mulai merhatiin  kekontrasan itu - plus apa2an pula saya pake baju lengkap di cuaca seedan itu.
“Udah biasaaa.. di Indonesia juga selalu sepanas ini kok, ha ha ha..“ kilah saya garink.

Terus, kalo tenda udah jadi pun selalu ga enak tidur di sana! Gerunjul2 ama batu. Terus pagi2 selalu kepanasan ama matahari. Terus makanan ga enak karena kompor ga memadai.
Trus susah mandi. Trus buang air juga ribet banget (plus Eropa yang dry toilet ini)..
Hahh.. sussah!

Tapi kemudian, sesaat demi sesaat rasa2nya terbayar juga semua itu.
Ngobrol2 dan makan2 bareng gank Lisa : Sanna, Karin, Linda, yang sebelumnya di ruang tamu ato teras flat, sekarang digantiin ama gunung2 Norwegia yang berkabut.
Dan TV, CD2, dan DVD.. kalo semuanya digantiin ama live-performances paling prima dari band2 di sana, kalo CD The Cardigans digantiin ama nonton langsung cuma 2 meter dari Nina,
Boleh donk…

Selama ada yang ngecapture perhatian kita sebegitu seriusnya, kesiksa fisik pun ga masalah kali ye.. Dan keluar sesaat dari zona nyaman aja gituh!!

THE Relationship

Monday, September 4th, 2006

Img_0905

26 Juli 2006, Trondheim

Kami jalan melewati Trondheim setelah pulang dari dinner di rumah keluarga Lisa: best dinner in Europe! (Dengan makanan2 Norwegianya yang entah kenapa selalu satu tingkat lebih enak dari makanan yang sama di negara lain)
Trondheim, kota terbesar ketiga di Norwegia, mengelilingi dengan sepi. Kota kecil yang hijau, dikelilingin gunung2 tinggi, tapi langsung bersentuhan juga dengan laut. Cuacanya selalu berembun kayak Bandung.

Selama jalan, satu pertanyaan mengusik pikiran, pertanyaan yang practically ditujukan buat semua anak muda di Eropa sebetulnya, “Kenapa kamu ingin tinggal sendiri, padahal kota kalian sama?“ Kenapa kalian selalu ingin pisah melulu dari ortu?

“Pengen.. sendiri aja.. pengen ngerasain hidup sendiri..“ kata Lisa ngambang..
Dan berikutnya hiduplah ia di flatnya yang sepi sesepi2nya. Dalam kota yang sesepi2nya juga.

Sepi demi sepi, ada cerita lain yang keinget di kepala. Cerita tentang hidup Bono (maaf ya, buku itu sih yang saya bawa ke Eropa). Dia bilang, setelah ibunya meninggal, semuanya di keluarganya ngerasa keilangan banget. Bapaknya jadi bertingkah aneh, nyebabin rumahnya jadi sepi abis. Karena kesepian ini - dan bokapnya yang ngga ngebantu mencairkan suasana - dimulailah masa2 bandel Bono tuk keluyuran, bikin band, hingga kita tahu semua apa jadinya..

Bono bilang.. took years to realize.. dan terutama, took years to say thank you.. bahwa sebetulnya Bapaknya yang sulit dan menyebalkan itulah yang paling membentuk dirinya selama ini.

Denger cerita itu, dan ngga bisa ngga setelah berada dalam kehangatan keluarga Lisa, saya cuma inget satu nama: nyokap. Karena mungkin bisa dibilang kejadian yang kurang lebih sama ama Bono terjadi juga antara kami berdua. She was once my biggest enemy in life.. Orang tersulit..

Lisa ngelanjutin, “Tapi enak kok hidup sendiri gitu, soalnya kalo ketemu setelah satu minggu pisah, jadi kerasa kangen banget.”
“Dibanding harus ketemu setiap hari dan berantem melulu..maksudnya..?“

Di situlah mungkin bedanya Asia dan Eropa, kita lebih bisa nerima keadaan menyebalkan dalam keluarga. Kita mungkin masih punya kemampuan untuk nerima orang2 sulit dan meyebalkan dalem hidup kita. Sesulit apapun juga orang, kalo dia keluarga, he/she is still in.

Bukan soal yang mana yang bener ato salah, tapi pribadi, I prefer the zealots kind of Irish, or Asian..
Karena lebih indah.. lebih transformasional..
Di akhir, ketika segalanya udah baik2 saja dan kita melihat ke belakang sejarah hidup kita,  kita bisa nemu orang2 sulit itu bagian dari itu juga. Ketika ‘kesulitan’ mereka telah berubah jadi "How to Dismantle an Atomic Bomb". Dan ketika kita sadar kalo orang2 yang paling sulit itulah sumber dorongan yang paling besar.
Mana U2 bakal ada kalo Bapaknya Bono orang yang wise?

Dan keindahan lain, adalah rasa terima kasih kepada orang2 itu yang bakal begitu besar, karena kalo semua orang dalam hidup kita telah membentuk hidup kita, maka orang2 itu adalah orang2 yang paling ‘kasian’ karena kebagian tugas yang paling ga mengenakkan dari yang di Atas. Hadir dalam hidup kita in the un-nicest way possible.

It might just take some times to realize..

And Mum, don’t know how much time left we had, this song will always be for you:

“Tough..
U think u got the stuff
U’re telling me and everyone
U’re hard enough..

U don’t have to put up a fight
U don’t have to always be right
Let me take some of the punches
For u tonight..

Listen to me now,
I need to let you know
U don’t have to go it alone..

And it’s you when I look in the mirror
And it’s you when I don’t pick up a phone

Sometimes you can’t make it on your own..

We fight all the time
You and I..
That’s alright,
We’re the same soul

I don’t need
I don’t need to hear you say,
“If we weren’t so alike, we’d like each other a whole lot more..”

Can you hear me when I sing?
U’re the reason that I sing
U’re the reason why the opera is in me

And still need to let you know,
A house just doesn’t make a home,
So don’t leave me here alone..”

Unbearable Lightness of Being

Monday, September 4th, 2006

Img_0908

24 Juli 2006, Trondheim

Beginilah kehidupan seorang Lisa Hoven - seorang cewek Norwegia berambut brunette, mata coklat besar lucu, dan kulit tanned abis balik backpacking Afrika - bangun pagi jam 10an dan langsung pergi ke dapur nyiapin roti dan kawan2, dan ngebawa itu semua ke meja depan TV.

Aku ketemu dia waktu backpacking dua tahun yang lalu, dalem kereta dari Malaysia ke Thailand. Sejak itu kita selalu kontak2 via email, terutama ketika terjadi hal2 "tidak diinginkan" di Indonesia, seperti tsunami.

TV pun menayangkan acara rutin Lisa tiap hari: acara  musik yang nayangin video2 klip hasil vote-sms anak2 muda seluruh Norwegia yang punya kehidupan pagi kurang lebih seperti Lisa. Ngga semua hasil vote-annya menyenangkan. Contohnya ketika video2 klip seperti Stars are Blindnya Paris Hilton muncul, Lisa pun sibuk memaki2 dengan pedes.

Dan ini berlangsung selama beberapa jam..
Jadinya aku cari usaha lain dibanding cuma nonton TV, ngobrol misalnya. Tapi nampaknya usaha ngobrol ini juga tidak membuahkan hasil. Tidak ada obrolan2 yang bisa jadi makanan mind-and-soul.
"Sekolah? Yaa.. gitu2 aja. Sekarang lagi liburan jadi males2an gini aja.!"
"Gereja St. Olav di seberang (yang jadi tujuan ziarah orang2 Kristen se-Norwegia)? Yaa.. ga tau terlalu banyak sih, soalnya emang ga pernah ke gereja juga. I’m not religious, nor believe in God."
(Dan ketidakpercayaan kepada Tuhan di sini pun tidak ada kaitannya apa2 dengan kesakralan hidup ala Piia di Finlandia, misalkan. Semuanya benar2 cuma rantai kebetulan, yang satu waktu entar juga bakal hilang dan musnah.)

“What do you think will happen when you die?”
“Nothing, just gone.”
“Are you afraid of it then?”
“No.”

Sing…

(Maunya apaaa?)

Jadinya saya punya ide tuk nonton sebuah DVD yang udah lama gak saya tonton: Amelie Poulain dari Montmartre.

SOundtrack film Amelie yang indah itu memenuhi ruangan, plus nyala2 kedap-kedipnya dari layar TV.
Dan Amelie Poulain suka ngelempar batu2 kecil di sungai.
Amelie Poulain suka merhatiin hal2 detil yang gak diperhatiin orang2.
Amelie Poulain suka ngeliat ke belakang merhatiin orang2 di bioskop.
Amelie Poulain suka masukin jari2 ke dalam biji2an di pasar..

Dan pada suatu saat, akhirnya, Lisa bercerita,
Bahwa dia dan teman2 ceweknya suka pergi ke salah satu gunung Norwegia yang indah itu.
Di puncak gunung di malam hari, satu gank cewek itu tiduran di dalem tenda sambil nyalain senter ke langit tenda.
Kedinginan.
Dan mereka bakal main sebuah permainan, “Apa yang bakal kamu lakukan seandainya kamu di daratan di bawah sekarang?”
Semua orang dapet gilirannya masing2, muter terus ampe ketiduran.
Lisa bilang bakal nongkrong ngelamun di depan tungku kayu bareng cowoknya.
Terus dia bakal makan strawberry yang dicelup ke dalam coklat cair.
Beli marshmallow dan ngemil semalaman di kamar.
Pake kaos kaki tebel ketika ujan di luar dan gesek2 kaki dalem selimut.
Nelepon ortunya setelah satu minggu ngga ketemu..

Bukan apa2, ga ada kenapa2..
Just look around us,
Colours scream in its vitality..

Kesalahan yang Menyenangkan

Monday, September 4th, 2006

Img_0881
23 Juli 2006, Stockholm – Trondheim

Aku garuk2 kepala ngeliat timetable di stasiun kereta Stockholm, menyadari kereta yang baru aja pergi. Mungkin karena kepagian, jadi masih ngantuk, aku telah salah baca timetable! Puah..! Di timetable jelas2 dibilang kalo keretanya bakal transit di satu kota, berarti kalo kamu ke stasiun kereta, kota transit itulah yang dicari, bukan kota selanjutnya.
Eror..

Tapi setelah berkonsultasi kilat ama petugas informasi, doi bilang ada jalan lain tuk menuju Trondheim. Jalan ini ngga lewat Oresund tapi Lillestrom. Yang berarti juga: kalo jalan sebelumnya bakal ngabisin banyak waktu di Swedia, jalan kedua ini bakal ngabisin banyak waktu di Norwegia.
Saya sih.. asik2 aja, asal bisa nyampe Trondheim hari itu juga..

Tapi ternyata kata ‘asik2 aja’ tidak cukup, saudara2!
Karena di luar dugaan saya, Norwegia itu indaaaaaaaaaahh banget!
Lanskap padang rumput hijau muda Swedia yang datar2 seiring waktu jadi bergejolak. Semakin tinggi dan tinggi. Hingga akhirnya di tempat2 yang paling ngebuat terperangah, nyentuh batas ketinggian yang nyebabin gunung2 itu tersentuh salju abadi.

Terus, danau2 Swedia yang tadinya cuma danau hijau tua yang luas, sekarang berubah warna jadi biru toska, dan di beberapa tempat masih ada deru sungai glasier.
Beberapa penduduk yang punya rumah2 kayu warna merah tua sekitar danau itu – lucky bastards! – pergi ke danau bareng anak2 cowok kecilnya tuk mancing.

Pohon2 Swedia yang tadinya agak2 meruncing sekarang membulat. Semuanya terasa bersahabat, termasuk anak2 kecil red-head di dalem kereta yang kerjaannya seliweran sambil senyum2 ke semua orang.

Welcome to Norway..
Kereta Norwegian State Board tau keinginan semua orang pula, selalu menyelusuri pinggir2 danau dibanding ngegali terowongan nembus gunung.
Ngerti deh kenapa majalah National Geographic menobatkan perjalanan kereta di Norwegia sebagai yang terindah di dunia.

Dalam traveling, bersiap2lah selalu untuk kesalahan2.
Dan mungkin masalah waktu aja, tuk terbiasa untuk itu dan mensyukurinya di akhir acara.
Terima aja dulu istilahnya apa2 juga, toh akhirnya menyenangkan juga..
Ehe..

Cinta Lokasi

Monday, September 4th, 2006

Img_0844

22 Juli 2006, Stockholm

 

Aku duduk di harbour Stockholm tempat dulu nongkrong bareng Tobias. Cuaca Stockholm sempurna seperti biasa.
Langit biru. Matahari kuning hangat.
Kota tua di seberang laut di depan. Ngebuat suasana jadi enak buat ngelamun..

 

Ngelamunin masa2 tinggal di Stockholm yang hepi berat
dan hura2 abis..

Kayaknya tiap hari kerjaannya cuma ke klub
jazz, sightseeing santai, n pesta2.
Dan tentunya menyenangkan karena ditemenin host yang ceria abis itu.

Tapi Tobias pun
baru aja pergi naik bis.

Semuanya pergi!

Menyebalkan..

 
Dan kalo masa2 di
antara datang dan pergi itu sangat2 menyenangkan, justru itu yang paling
gondok.

Stockholm kota
yang paling ngebuat gondok karena paling menyenangkan, dan kita ´pulang ke
rumah´ setelah liburan abis.

 
Karena itulah duduk2 di situ, I feel sort of.. wrecked…

Soalnya langit biru sempurna dan matahari
kuning ini come and go juga.

Fragile kayak lagu Sting di telinga.

 

Tiba2 aku nyadar
kalo aku ga duduk sendiri di situ. Ngeliat ke samping, orang2 pada duduk2 juga
bareng kerabat. Ada gank cewek yang ketawa-ketiwi, pasangan yang ngobrol bisik2
sambil ngorek2 debu di bawah, turis2 yang biasa aja ngeliatin suasana sekitar..

 
Dan saya ngerasa
hal lain setelahnya. Tiba2 ingin meluk dan ‘ngeraih’ mereka semua..

Simply coz
we share the same fragility, perhaps.

The
same impermanence and mortality.

Mereka dan
cerita2 mereka yang singkat.


And
inside this really short time..

Adalah satu2nya
tempat di mana kita bisa ngeraih satu sama lain juga.

Kalo semuanya
udah satu, mana ada jarak ?

Mana ada
kesempatan buat usaha menempuh jarak itu, untuk menemui kalian semua?

 
Di sini lah
tempatnya..! Ya Tuhan..

 
Pelabuhan kayu
berlanjut naik - turun.

Seorang imigran
Arab mulai membunyikan akordion dalam sesi ngamennya.

 

And
if you say,

Everything
here will be destroyed in 100 years by the flow,

May I
just say,

So
let us also be the flow instead..