
26 Juli 2006, Trondheim
Kami jalan melewati Trondheim setelah pulang dari dinner di rumah keluarga Lisa: best dinner in Europe! (Dengan makanan2 Norwegianya yang entah kenapa selalu satu tingkat lebih enak dari makanan yang sama di negara lain)
Trondheim, kota terbesar ketiga di Norwegia, mengelilingi dengan sepi. Kota kecil yang hijau, dikelilingin gunung2 tinggi, tapi langsung bersentuhan juga dengan laut. Cuacanya selalu berembun kayak Bandung.
Selama jalan, satu pertanyaan mengusik pikiran, pertanyaan yang practically ditujukan buat semua anak muda di Eropa sebetulnya, “Kenapa kamu ingin tinggal sendiri, padahal kota kalian sama?“ Kenapa kalian selalu ingin pisah melulu dari ortu?
“Pengen.. sendiri aja.. pengen ngerasain hidup sendiri..“ kata Lisa ngambang..
Dan berikutnya hiduplah ia di flatnya yang sepi sesepi2nya. Dalam kota yang sesepi2nya juga.
Sepi demi sepi, ada cerita lain yang keinget di kepala. Cerita tentang hidup Bono (maaf ya, buku itu sih yang saya bawa ke Eropa). Dia bilang, setelah ibunya meninggal, semuanya di keluarganya ngerasa keilangan banget. Bapaknya jadi bertingkah aneh, nyebabin rumahnya jadi sepi abis. Karena kesepian ini - dan bokapnya yang ngga ngebantu mencairkan suasana - dimulailah masa2 bandel Bono tuk keluyuran, bikin band, hingga kita tahu semua apa jadinya..
Bono bilang.. took years to realize.. dan terutama, took years to say thank you.. bahwa sebetulnya Bapaknya yang sulit dan menyebalkan itulah yang paling membentuk dirinya selama ini.
Denger cerita itu, dan ngga bisa ngga setelah berada dalam kehangatan keluarga Lisa, saya cuma inget satu nama: nyokap. Karena mungkin bisa dibilang kejadian yang kurang lebih sama ama Bono terjadi juga antara kami berdua. She was once my biggest enemy in life.. Orang tersulit..
Lisa ngelanjutin, “Tapi enak kok hidup sendiri gitu, soalnya kalo ketemu setelah satu minggu pisah, jadi kerasa kangen banget.”
“Dibanding harus ketemu setiap hari dan berantem melulu..maksudnya..?“
Di situlah mungkin bedanya Asia dan Eropa, kita lebih bisa nerima keadaan menyebalkan dalam keluarga. Kita mungkin masih punya kemampuan untuk nerima orang2 sulit dan meyebalkan dalem hidup kita. Sesulit apapun juga orang, kalo dia keluarga, he/she is still in.
Bukan soal yang mana yang bener ato salah, tapi pribadi, I prefer the zealots kind of Irish, or Asian..
Karena lebih indah.. lebih transformasional..
Di akhir, ketika segalanya udah baik2 saja dan kita melihat ke belakang sejarah hidup kita, kita bisa nemu orang2 sulit itu bagian dari itu juga. Ketika ‘kesulitan’ mereka telah berubah jadi "How to Dismantle an Atomic Bomb". Dan ketika kita sadar kalo orang2 yang paling sulit itulah sumber dorongan yang paling besar.
Mana U2 bakal ada kalo Bapaknya Bono orang yang wise?
Dan keindahan lain, adalah rasa terima kasih kepada orang2 itu yang bakal begitu besar, karena kalo semua orang dalam hidup kita telah membentuk hidup kita, maka orang2 itu adalah orang2 yang paling ‘kasian’ karena kebagian tugas yang paling ga mengenakkan dari yang di Atas. Hadir dalam hidup kita in the un-nicest way possible.
It might just take some times to realize..
And Mum, don’t know how much time left we had, this song will always be for you:
“Tough..
U think u got the stuff
U’re telling me and everyone
U’re hard enough..
U don’t have to put up a fight
U don’t have to always be right
Let me take some of the punches
For u tonight..
Listen to me now,
I need to let you know
U don’t have to go it alone..
And it’s you when I look in the mirror
And it’s you when I don’t pick up a phone
Sometimes you can’t make it on your own..
We fight all the time
You and I..
That’s alright,
We’re the same soul
I don’t need
I don’t need to hear you say,
“If we weren’t so alike, we’d like each other a whole lot more..”
Can you hear me when I sing?
U’re the reason that I sing
U’re the reason why the opera is in me
And still need to let you know,
A house just doesn’t make a home,
So don’t leave me here alone..”