Report on Forum 2000, Second Day (10 October 2006), Prague
Sunday, October 22nd, 2006Rendah Hati Sebagai Kunci Kerukunan
(as seen on Pikiran Rakyat 13 October 2006, edited by Tendi Somantri)
SENIN pagi, 9 Oktober 2006, Praha berkabut. Kota yang selalu berkesan tak berpenghuni ini terasa semakin sunyi. Kabut tebal juga menyelimuti Sungai Vltava yang takjub dibungkam hening. Air seperti berhenti mengalir. Angin seolah tak mau berembus. Pucuk-pucuk pohon tegak kaku menjurus langit. Alam seperti bermeditasi. Diam dan damai.
Suasana pagi itu di Kota Praha seolah gambar keseriusan menjelang Dialog Antarkeyakinan” dalam konferensi tahunan Forum 2000. Kali ini, Istana Zofin di Pulau Slovanski - di Sungai Vltava - mendapat giliran sebagai tempat pelaksanaan konferensi tahunan itu. Beberapa tokoh dunia yang telah berperan dalam membangun perdamaian ikut berperan dalam konferensi selama dua hari ini, 9-10 Oktober 2006. Pada hari kedua konferensi difokuskan pada Dialog Antarkeyakinan (Interfaith Dialogue) dengan tema “Agama; Solusi atau Masalah dalam Globalisasi?”
Seorang tokoh yang duduk di bagian tengah meja, His Holiness Dalai Lama (Pemimpin resmi dan spiritual Tibet), membuka diskusi panel dengan guyon. “Apakah agama menjadi solusi atau masalah? Sepertinya… kedua-duanya!” Hadirin pun tergelak dengan pernyataan pembuka Dalai Lama itu.
Komentar Dalai Lama itu, walaupun terkesan sebagai guyon, mengandung kebenaran sederhana yang kemudian mengarahkan jalannya diskusi. Di satu sisi, agama memang menjadi solusi. Dalai Lama mengutarakan bahwa agama berperan sangat besar dalam membentuk manusia menjadi manusia yang lebih baik. Jika seseorang memiliki emosi sebagai bagian intrinsik dari keberadaannya, maka agama berperan dalam meluruskan emosi-emosinya itu agar tidak terdistorsi dan berakhir dengan menabrakkan pesawat ke gedung WTC. Pelurusan dan pengendalian emosi itu hanya dapat dicapai manusia melalui agama karena membutuhkan latihan dan pengalaman (bukan sesuatu yang dapat dipelajari dari buku-buku).
Tomas Halik (Profesor dari Charles University, Pendeta Utama Gereja St. Salvador di Praha) menambahkan bahwa agama tidak dapat dihilangkan dari kehidupan manusia. Agama memenuhi salah satu dari kebutuhan dasar manusia: kebutuhan akan keteraturan. Menghilangkan agama sama dengan membiarkan manusia menjadi tidak seimbang. Hal itu sama dengan menjatuhkan manusia pada kutub lainnya: kebutuhan akan kebebasan, kemudian muncul relativitas moral dan hedonisme.
Sementara itu, Michel Dubost (Bishop Eveche D’Evry-Corbeil Prancis) mengutarakan bahwa agama berperan sangat penting dalam menciptakan cinta kasih antarmanusia. Jika manusia percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia,bertemu dengan sesama manusia akan menjadi peristiwa yang sakral. Saat itu, manusia sedang bertemu dengan hasil ciptaan-Nya.
Soho Machida (Profesor di Hiroshima University, pernah menjalani kehidupan selama 20 tahun sebagai biksu Buddhis), bahkan menyatakan peran agama sebagai pembentuk perdamaian. Dengan agama, manusia dapat menciptakan kedamaian dalam diri sendiri. Kedamaian ini menurutnya adalah syarat mutlak bagi terwujudnya kedamaian kolektif.
Pernyataan para panelis bahwa agama masih memiliki peran penting dalam globalisasi disetujui oleh semua peserta diskusi. Akan tetapi, seperti diutarakan sebelumnya, agama juga sering dianggap menjadi masalah. Masalah seperti apa yang sering terjadi?
Dalai Lama mengutarakan, masalah yang timbul dari agama adalah perang, terorisme, dan lainnya. Namun, hal itu sebenarnya muncul akibat manusia gagal untuk mengenali kebenaran lain di samping kebenaran yang dipegangnya. Dalam lingkup individu, sebuah agama dapat menjadi cara yang akan membimbing menuju kebenaran. Namun, apa yang terjadi jika individu tersebut harus bersentuhan dengan individu lain yang memiliki cara berbeda?
Di sinilah, menurut Dalai Lama, dibutuhkan peralihan paradigma. Manusia harus mengenali dan mengakui bahwa orang lain memiliki caranya sendiri. Mengakui bahwa “kebenaran” hanya dapat dicapai oleh sebuah cara saja adalah cara pandang yang berbahaya.
Dua wakil dari dunia Islam, Zaid Ibrahim (Chairman ASEAN Inter-Parliamentary Myanmar Caucus) dan Kanan Makiya (Profesor Islamic and Middle Eastern Studies di Brandeis University), memperkaya diskusi dengan pandangan dari dunia Islam.
Menurut Zaid Ibrahim diskusi ini sebetulnya bicara mengenai Islam, yang sekarang ini dianggap sebagai kekuatan paling besar dan mengacaukan stabilitas sistem global. Sebenarnya, stabilitas yang diidam-idamkan itu tidak akan terjadi hingga dunia Barat menerima Islam sebagai bagian dari peradaban. Selama ini dunia Islam telah dikucilkan. Melihat sejarah ketidakadilan yang terlihat di banyak negara Islam, yang harus dilakukan dunia Barat bukanlah terus mengucilkan dan menyalahkan melainkan memberi uluran simpati karena setiap tradisi agama memiliki masa gelapnya sebagai bagian dari proses perkembangannya.
“Ingat bagaimana dunia Kristen di abad pertengahan,” kata Zaid menambahkan. Di lain pihak, orang-orang Islam juga tidak membantu proses perdamaian karena telah mengeksklusifkan diri. Oleh karena itulah, menurutnya, di dunia Islam sendiri harus sering diadakan dialog-dialog semacam ini.
Kanan Makiya, mengambil sudut pandang yang sebaliknya dari Zaid Ibrahim. Dia menyatakan bahwa tema diskusi ini sebetulnya tidak berkaitan dengan dunia Islam (atau lebih tepatnya dunia Arab) sama sekali. Konflik di Timur Tengah beserta pertumbuhan radikal Islam, lebih condong merupakan masalah ekonomi dan politik dibandingkan agama. Beberapa dari negara-negara Arab tersebut telah mengalami kegagalan dalam menghadapi tantangan pertumbuhan, sehingga kemudian banyak dari mereka yang berpaling kepada Islam dalam cara-cara yang naif.
Dari sudut pandang Kanan Makiya, diskusi telah mengarah ke sebuah posisi bahwa agama telah dijadikan sebuah alat untuk mencapai maksud-maksud manusia. Hal itu diutarakan juga oleh Vartan Gregorian (Presiden Carnegie Corporation New York). Manusia adalah makhluk yang selalu mengategorikan hal-hal. Agama, seharusnya menjadi sesuatu yang mentransendensi pengategorian itu; membimbing dan mengarahkan pengategorian dibandingkan menjadi objeknya. Kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, agama kini berada dalam pengategorian itu. “Daripada mentransendensi politik, agama telah menjadi alat bagi politik.”
Bahkan, bukan bagi politik saja. Yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, agama telah menjadi alat bagi ego manusia. Rabi Michael Melchior (mantan pimpinan Rabi Norwegia) menyatakan bahwa agama hampir selalu merupakan jalan yang dipakai manusia untuk memikirkan dirinya sendiri saja; memikirkan keselamatannya sendiri. Sehingga, paparnya, tidak dibutuhkan waktu lama bagi penggunaan agama semacam ini untuk memasukkan faktor “kebencian” ke dalamnya. Pada saat kebencian masuk, manusia lain tidak akan dianggap sebagai ciptaan-Nya lagi. Agama pun dalam risiko kepunahan karena dirasakan destruktif.
James Zogby (Presiden Arab American Institute) memperdalam pandangan ini dengan mengutarakan pertanyaan, “Apa sebetulnya agama itu?” Agama dapat memiliki banyak dimensi; sebagai ilmu teologi, pendorong revolusi, atau bahkan pandangan takjub semata akan kebesaran-Nya. Hal yang sama dari semua dimensi itu adalah bahasa yang dipakai: bahasa kitab suci. Akan tetapi, pertanyaannya adalah bagaimana kita menggunakannya.
Seseorang yang sedang marah dapat mengumpat, “Jesus Christ!” dan sama sekali tidak memiliki dimensi religius di dalamnya. Kita harus mencoba melihat yang ada di balik bahasa yang dipakai, untuk melihat secara jernih apa sebetulnya dimensi itu. Di balik semua bahasa yang dipakai, yang paling murni dari semua dimensi agama itu adalah sense of wonder, perasaan takjub dan rendah hati di hadapan Yang Maha Besar.
RENDAH HATI
Dalam sesi kedua, moderator Joyce Davis (Associate Director of Radio Free Europe) bertanya, “Buddhisme Tibet berhasil membangun citra sebagai agama perdamaian, bagaimana cara Anda mengendalikan hal-hal negatif dari agama seperti konflik dan kekerasan?”
Dalai Lama menjawab bahwa intinya adalah mengakui kebenaran tertentu hanya berlaku bagi orang-orang tertentu, bergantung pada kondisi mentalnya dan seluruh sejarah latar belakangnya. Dia selalu mengusahakan tidak ada pemaksaan dalam menjalani agama, karena hal itu hanya akan mengakibatkan ketidaktulusan dalam pelaksanaannya.
“Saya yang berada di tengah-tengah ini dapat mengatakan bahwa saya non-believer, karena dalam Buddhisme tidak ada konsep Pencipta. Akan tetapi, jika saya lihat, konsep Pencipta juga telah menjadi sumber harapan dan kekuatan yang sangat besar bagi manusia sehingga saya menghormati sepenuh hati konsep itu.”
Dalai Lama menambahkan bahwa hal ini harus dipelajari: belajar untuk hidup bersama, karena globalisasi tidak lain berarti bertemunya perbedaan-perbedaan. “Know the great values that exist in other traditions,” tuturnya. Hal itu hanya dapat terjadi dalam sikap penuh kerendahhatian, penuh sense of wonder.
Sikap rendah hati tampaknya merupakan satu persetujuan utama yang memenuhi diskusi. Semua panelis kurang lebih mengutarakan pernyataan yang beresonansi dengan konsep itu. “Intinya adalah jangan berlaku seolah kita ini Tuhan, Sang Pemegang Kebenaran,” ungkap Rabi Michael Melchior
Persetujuan mengenai pentingnya rasa rendah hati ini pun mengambil langkah selanjutnya. Manusia tidak dapat sombong karena telah menjadi orang yang rendah hati. Seperti yang diutarakan James Zogby, “Daripada mengutuk fundamentalisme di Timur Tengah, lebih baik bertanya mengapa masalah muncul ke permukaan. Ketahui alasan-alasan dan coba penuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang belum terpenuhi, yang sebagian besar adalah masalah sosial dan ekonomi.”
KEHENINGAN
Diskusi panel berakhir. Acara dilanjutkan di sebuah gereja bernama St. Salvador yang berlokasi tepat di sebelah Charles Bridge. Di sana, Dalai Lama dan Tomas Halik memimpin sebuah sesi meditasi interfaith.
Bermacam-macam orang datang memasuki gereja yang tidak terlalu besar itu hingga beberapa duduk di lantai. Tampak orang-orang yang membawa bendera Free Tibet, orang-orang berdasi, suster dan pendeta, hingga pengikut Hare Krishna Society.
Tomas Halik memberikan ceramah singkat. Dikatakannya bahwa koeksistensi dalam globalisasi adalah memungkinkan. Bahkan, agama - dalam bentuknya yang juga mengakui nilai-nilai kebenaran agama lain - adalah aset yang sangat berharga untuk itu. Hal itu memungkinkan karena agama berperan dalam menciptakan keheningan dalam diri manusia - ruang yang dapat menerima sesama. Lagi pula, bukankah peran agama adalah untuk membuat pengikutnya mencintai tetangga sebagaimana mencintai diri sendiri?
Dalai Lama melanjutkan, “Meditasi ini jangan hanya dianggap sebagai momen memejamkan mata sambil duduk di lantai, tetapi jadikan momen untuk mengingat Tuhan, mengagumi kebesaran-Nya.”
Dalai Lama membunyikan lonceng meditasi. Semua orang memejamkan mata mengingat-Nya, merendahkan hati serendah-rendahnya. Kini, yang ada hanya keheningan - ruang untuk semua. Dalam gereja yang sunyi, di Praha yang selalu sunyi dan berkabut.



