Keluarga Besar

Trondheim, 25 Februari 2007

            Help!!”

            Adalah teriakan yang sering terdengar dari orang-orang yang berani meluncur dari sebuah bukit kecil arena ski bernama Granasen. Wajar saja, para pelakunya adalah orang-orang yang belum pernah memegang salju sebelumnya, dan berasal dari daerah yang rata-rata 35 derajat lebih panas dari tempat itu.

            Tawa memenuhi arena ski ketika warna hitam kulit orang-orang Afrika atau coklat orang-orang Asia bergumul dengan salju yang putih menyilaukan. Hanya beberapa yang berani memasang kaki dalam papan-papan ski dan melaju semakin lama semakin cepat tanpa rem di bukit itu. Beberapa dengan senang hati menjatuhkan diri daripada melaju di atas papan yang sulit dikendalikan itu. Itu pun bahkan setelah mendapat pelajaran singkat dari orang-orang Eropa di sekitar yang tampak mahir.

            Kehebohan Ski Day pada tanggal 20 Februari 2007 tersebut semakin meningkat ketika beberapa ‘pelajar tropis’ itu berinisiatif melakukan aksi yang lebih mudah, tapi tidak kalah seru. Duduk di atas baskom atau kantong plastik besar dan begitu saja meluncur ke bawah bukit, berputar-putar. Mendekati akhir acara, aksi tersebut telah mengalami improvisasi dengan diadakannya kompetisi mencapai garis finish duluan di bawah lembah. Temperatur yang menggigit jari-jari kaki dan tangan saat itu, -12° Celsius, tampak tidak dapat mengalahkan antusias kami bereksperimen dengan salju.

            Dan begitulah ketika hari ini, 25 Februari 2007, tiba saatnya bagi kami berpisah dengan salju dan temperatur Skandinavia yang sangat dingin itu. Berakhirlah sudah masa-masa ‘siksaan’ ketika kami harus pulang di malam hari, menunggu bus di halte yang lebih dingin dari kulkas, dan berjalan pulang buru-buru dengan hidung yang meleleh oleh angin. Berjalan di sekitar perumahan dan hutan yang begitu sepi (Trondheim hanya berpenduduk 150.000 orang) berharap cepat mencapai rumah host keluarga Norwegia kami yang ber-heater.

            Bukan hanya hangatnya ruangan, tapi kehangatan keluarga Norwegia itu pun membuat rindu. Selain membekali para pelajar dengan baju-baju musim dingin yang berlapis-lapis (beberapa pelajar Afrika bahkan ada yang berjalan-jalan dengan selimut), mereka pun dengan bangganya selalu menyuguhkan makanan-makanan sedap khas Norwegia yang sangat pas untuk musim dingin: pie bakar, cokelat panas, atau brown cheese yang memang hanya ada di Norwegia.

            Apresiasi makanan pun berlanjut setiap malam di kantin universitas NTNU di mana semua pelajar menyerbu dengan lapar. Kami duduk berjejer di meja yang panjang mengomentari makanan yang kadang aneh, kadang enak. Dan setelah seharian berdiskusi hal-hal yang ‘berat’ dalam workshop, akhirnya kami dapat duduk dengan santai dan berbicara hal-hal semacam, “Bagaimana kabarmu?”

Percobaan Apel

            Dan hari itu pula workshop kami harus diakhiri. Tidak ada yang harus didiskusikan hari itu, hanya sebuah game. Para workshop leader meletakkan dua buah apel di tengah-tengah kami. Kami pun dibagi menjadi dua kelompok, yang satu terdiri dari 9 orang, dan yang lainnya 4 orang.

            Aturan permainannya, “Ada 2 buah apel di sini. Tugas kalian adalah memutuskan dalam kelompok kalian bagaimana 2 buah apel tersebut akan dibagi-bagi.”

            Penulis masuk dalam kelompok mayoritas. Sejak awal diskusi, tanpa pikir panjang kami sudah memutuskan bahwa apel tersebut akan dibagi menjadi 13 bagian. Kami dapat 9 potong, kelompok lain mendapat 4 potong. Kami malah lebih sibuk mendiskusikan bagaimana apelnya akan dibagi, dipotong dengan pisau atau diblender jadi juice, mencari pembagian yang paling akurat. Workshop leader mengawasi kami dan berkata, “Ingat, kalian adalah kelompok mayoritas, jadi apapun keputusannya, kalian tetap menang.”

            Kedua kelompok pun disatukan kembali dan kelompok mayoritas dipersilakan mengumumkan keputusan, “Kami akhirnya memutuskan untuk memblender apel tersebut menjadi juice, dan membaginya ke dalam 13 gelas. Sembilan gelas untuk kami, empat gelas untuk kalian,” kata wakil kami bangga akan keputusan yang sangat adil itu.

            Di luar dugaan, kelompok minoritas malah tampak keberatan. Mereka sibuk berdebat sendiri. “Jangan dijus, itu akan menghilangkan vitamin-vitaminnya. “Silakan ambil saja semua apelnya oleh kelompok mayoritas.” “Apa maksudmu? Kita sedang kelaparan.”

Pada akhirnya, mereka menolak empat bagian apel yang diberikan kepada mereka, kecuali mereka diizinkan untuk memblendernya.

Kelompok mayoritas pun bingung. Kami sudah ‘sebegitu baik dan adilnya’ membagi apel itu, ternyata ditolak begitu saja. Kami menolak membuat mereka kerja seperti itu, karena kami ingin melakukannya bersama-sama. Tetapi kelompok minoritas pun bersikeras, jikalau ada perubahan maka kelompok mayoritas boleh mengirimkan supervisor mereka untuk mengawasi kinerja minoritas dalam memblender.

Akhirnya workshop leader pun mengambil inisiatif untuk voting. Resolusi pertama, kelompok minoritas yang kerja dengan supervisor dari kelompok mayoritas. Resolusi kedua, kami semua bekerja bersama-sama.

Resolusi kedua pasti menang karena bagaimanapun kami adalah mayoritas. Tapi ternyata beberapa dari kelompok mayoritas sudah sedikit berang dengan kelompok minoritas yang seolah tidak menghargai mereka, sehingga mulai berpikir pada resolusi pertama.

Penulis memiliki resolusi lain. “Biarkan para expert yang memblender apel itu, tidak masalah dari kelompok mayoritas atau minoritas.” Lagi pula, apa pula sebetulnya standar identitas yang telah mengumpulkan mayoritas dan minoritas? Bukankah itu hanya identitas dalam kepala kita saja yang membuat kita merasa terpisah dari golongan lain? Yang penting adalah apel itu harus dikerjakan oleh tangan-tangan terbaik, siapapun mereka.

Hasil voting menunjukkan resolusi pertama mendapat 6 suara, resolusi kedua nol suara, dan resolusi ketiga 6 suara. Satu orang pelajar Romania abstain. Kelompok minoritas pun berusaha mempengaruhi dia, “Ayolah, kan kalian yang mayoritas. Seharusnya kalian bisa mengambil seluruh bagian apel itu. Biarkan kami yang bekerja untuk membayar semua itu.”

Penulis pun menyadari sesuatu dari dialog ini. Menerima, ternyata lebih sulit daripada memberi karena itu menyangkut harga diri. Mungkin kita sudah terkondisikan sedemikian rupa sehingga kita tidak dapat menerima sesuatu begitu saja tanpa membayar, apalagi jika yang memberinya sebetulnya dapat mendapatkan semuanya.

Dan bahkan ada yang jauh lebih fundamental: set of mind. Kita cenderung melabeli sesuatu, apapun itu, dengan “milik siapa? Dan pengalaman telah membentuk kita bahwa sesuatu itu otomatis dimiliki golongan yang berkuasa: salah satunya mayoritas.

“Apel-apel itu, bukan milik kami,” jelas penulis memotong argumen para minoritas, “Mereka tumbuh di planet ini dan kebetulan kita punya 13 orang untuk dibagi. Memang yang ‘normal’ adalah mayoritas dapat mengambil keuntungan terbaik dari keadaan ini. Tapi mengapa pula harus seperti itu? Pada hakikatnya, dua buah apel itu bukan milik siapa-siapa.”

Kelompok minoritas pun akhirnya mengangguk-angguk. ‘Kehormatan’ mereka seperti kembali karena mereka tidak merasa sedang menerima, tetapi mendapatkan jatah yang merupakan suatu keadilan.

Sang pelajar Romania pun akhirnya memutuskan, “Oke, resolusi ketiga! Suka atau tidak.”

Closing Ceremony

            Layar infocus dalam Grand Hall Studentersamfundet kembali berkelap-kelip. Kali ini, flashback kegiatan ISFiT 2007 sejak kedatangan kami dengan bus hingga saat itu.

            Di luar dugaan penulis, ternyata begitu banyak yang telah kami lakukan dalam sepuluh hari itu. Bukan hanya workshop-workshop, melainkan juga kegiatan-kegiatan lain yang membuat kami semua telah menjalin ikatan yang sangat kuat. Ikatan persahabatan atau bahkan ikatan persaudaraan.

            Seluruh isi Grand Hall seperti larut dalam keterharuan, beberapa ada yang mulai menangis. Penulis merasakan sebaliknya: euphoria. Seluruh isi Grand Hall itu seperti telah menjadi satu keluarga besar sekarang. Tidak ada lagi perasaan terpisah karena kebangsaan, yang ada hanya perasaan sebagai satu umat manusia.

            Harus kami akui bahwa sepuluh hari tersebut telah mengubah set of mind kami. Pertama adalah perasaan persaudaraan tadi. Dan yang kedua, adalah bayangan akan apa yang dapat terjadi dari perasaan persaudaraan semacam itu.

Mimpi akan seluruh sumber daya di dunia ini yang menjadi milik semua orang, contohnya, sehingga semua orang memiliki opportunity yang sama untuk mendapatkannya, tampak sebagai salah satu mimpi yang tidak lagi mustahil. Karena mengapa pula berlaku tidak adil pada sesama saudara?

            Spirit tersebut telah lahir di sini. Dan penulis yakin, bahwa ‘bola salju’ itu akan bergulir semakin besar. Sementara itu, sebagaimana persembahan lagu Green Day dari presiden ISFiT kepada para tamunya, “I hope you’d get the time of your life”.

Dscf0293

One Response to “Keluarga Besar”

  1. mitra Says:

    mmm, mba…
    ga berniat beralih blog ke WP, Blogspot, atau malah dot.com?
    ^_^, soalnya kalo di Fs, yg comment ya cuman pengguna FS.

Leave a Reply