Pembukaan ISFiT 2007
(Report on The International Student Festival in Trondheim, 16-25 February 2007)
Bandara Frankfurt sibuk seperti biasa dalam hawa musim dingin Jerman, ketika tiba-tiba seorang pramugari mendekati dan berkata, ”Saya menemukan orang-orang yang akan pergi ke Trondheim juga, sepertinya untuk keperluan yang sama dengan Anda.”
Dan 5 menit kemudian, mahasiswa/i pun berkumpul bersama. Ada pelajar dari Namibia yang berambut rasta dan bersyal tebal, seorang pelajar bertampang India bersorban Sikh dari Singapura, seorang pelajar bermata sipit berjaket bulu dari Vietnam, serta pelajar dari Sudan yang terlihat rapi. ”Saya baru saja mengumpulkan seluruh dunia,” canda sang pramugari.
Kami semua akan terbang ke Norwegia, tempat terselanggaranya festival pelajar tematis terbesar di dunia: The International Student Festival in Trondheim (ISFiT) 2007.
Perasaan multikulturalisme tidak berakhir di situ. Setelah mencapai Trondheim yang bersalju, student centre telah didekorasi dengan hebohnya bendera2. Dan ada orang2 dari kebangsaan yang terdengar asing bagi penulis: Uganda, Georgia, Azerbaijan, Serbia, dan sebagainya. Sekitar 400 orang pelajar dari 100 kebangsaan lebih di dunia berkumpul hari itu.
Dalam suatu kesempatan bernama Global Fiesta, para pelajar ini mengenakan pakaian tradisional mereka dan menyumbang acara budaya berupa pertunjukan tari atau musik. Semuanya antusias mengenal budaya satu sama lain. Kontingen dari Indonesia kebetulan ikut menyumbang juga, tari poco-poco, dan beberapa pelajar Norwegia dan kebangsaan lain naik ke atas panggung untuk menari bersama.
Di hall lain, para pelajar memilih menari dan menyanyi bersama sebuah band yang menyanyikan lagu2 khas dari seluruh dunia, dari lagu Bollywood hingga latin Amerika. Beberapa guru salsa pun turun tangan ke arena hall untuk mengajar para pelajar.
Mungkin di upacara pembukaan olimpiade di televisi dapat terlihat beragamnya bangsa seperti ini, tapi bahkan dalam kesempatan itu pun para atlet tidak dimaksudkan untuk berteman. Di sini, para pelajar saling berkenalan dan bercanda seolah hendak membentuk satu keluarga besar.
Workshop
Pada hari kedatangan, setiap pelajar sudah diarahkan untuk berkumpul dengan grup workshopnya masing2. Workshop di-set secara informal, sehingga para pelajar dapat bertukar pendapat dengan santai dan leluasa.
Untuk workshop ’Religion in a Changing World’, terdapat 25 orang partisipan, yang berasal dari latar belakang berbeda-beda. Bukan hanya beda agama, tapi yang agnostik dan ateis pun ada.
Kami semua ditanyai workshop leader - pelajar Norwegia yang akan mengarahkan jalannya diskusi - tentang ekspektasi ketika kami memutuskan untuk ikut serta. Kebanyakan dari jawaban terdengar sama: untuk bertemu dan berkenalan dengan teman-teman dari banyak bangsa. Yang lain, untuk belajar memahami, atau mengetahui bagaimana orang lain berpikir. Sang workshop leader juga menambahkan bahwa ia berpartisipasi di situ untuk mencari semacam common ground, yang kemudian disertai anggukan banyak peserta. ”Di antara perbedaan, bagaimana caranya kita dapat menemukan jalan tengah yang dapat mempersatukan kita semua?”
Setelah acara perkenalan, kami diminta untuk menyarankan beberapa values yang ingin kami jadikan guideline dalam menjalankan diskusi dan debat. Kami dibagi menjadi 4 kelompok, dan values dari keempat keompok ini kemudian disatukan untuk dicari titik temunya.
Beberapa pertidaksetujuan terjadi. Contohnya saja kata toleransi akhirnya dibuang dari values karena kata tersebut menyiratkan bahwa ”kita membiarkan sesuatu yang sebetulnya tidak kita setujui”. Sedangkan ada kemungkinan workshop leader harus mengintervensi jika diskusi berjalan tidak sehat.
Values yang pada akhirnya disetujui oleh para peserta dari berbagai benua itu terdiri dari nilai-nilai umum seperti saling menghormati dan saling memahami; serta persetujuan untuk ”berusaha untuk belajar daripada menang”. ”Ada sebuah kecenderungan dalam dialog, bahwa ketika topik telah memanas dan kedua pihak telah memasuki area emosional, maka bukan topik yang bersangkutan lagi yang dibicarakan, melainkan ’siapa yang menang’? Untuk mengalah dan menyatakan pihak lain benar pun menjadi sulit,” ucap salah seorang partisipan. Dan karena diskusi yang terjadi kemungkinan akan mendalam dan ’panas’, kami ditantang untuk mulai belajar ”menggunakan hati daripada kepala”.
Upacara Pembukaan
Pada malam harinya, seluruh peserta berkumpul di Studentersamfundet, gedung berwarna merah berbentuk lingkaran tempat pusat aktivitas mahasiswa Trondheim. Upacara pembukaan diawali dengan pertunjukan musik dan tari dari para seniman lokal - pemandangan yang akan selalu terlihat dalam 10 hari ke depan.
Di sela-sela pertunjukan seni, beberapa tokoh perdamaian mengutarakan pendapat mereka sehubungan dengan ISFiT. Mr. Raj Shekar Chandola, ketua departemen Education for World Peace and Unity Montessori School Lucknow, menyatakan bahwa globalisasi membuat seluruh manusia menjadi world citizen, karena batasan-batasan telah semakin memudar. Karenanya, sebagaimana sebuah bangsa dalam satu negara bertindak, kini kita harus bertindak seolah bangsa lain di negara lain adalah saudara sendiri. ”Tapi, menyatunya dunia tidak berarti manusia harus seragam. Unity does not mean uniformity. Kita harus mencari titik temu dalam perbedaan-perbedaan itu.”
Kimmy Weeks, aktivis hak asasi manusia di UNICEF dan presiden yayasan Planning for the International Coalition for Children, menyatakan hal yang senada. “Kini dunia global ditandai dengan rakyat kelaparan di negara-negara miskin, sedangkan negara-negara maju menghabiskan milyaran dolar untuk peralatan perang. Jika kita ingin globalisasi berhasil, maka seharusnya semua orang dapat merasakan manfaatnya!”
Untuk itu, globalisasi harus menjadi sebuah arena dimana para pemainnya dapat bermain dengan adil dan berkesempatan sama untuk tumbuh. “Jika perusahaan-perusahaan di Barat itu benar-benar ingin kemakmuran untuk semua, hentikan eksploitasi buruh murah di negara-negara dunia ketiga, dan berikan mereka pekerjaan yang real. Jika kita semua tidak ingin mengancam kehidupan seluruh planet, katakan pada Amerika Serikat untuk turut serta menandatangani perjanjian
Kyoto . Karena kini, setiap orang, dan setiap hal kecil yang kita lakukan, mempengaruhi semua orang yang hidup nun jauh di
sana .” Ia pun menutup pidatonya dengan kata2 bijak dari Gandhi: “We must live simply, so others can simply live.”
Tapi pidato-pidato yang inspiratif tersebut kurang lebih menyulut sesuatu dalam benak kami, “Benarkah kita memang mampu mengubah dunia, atau setidaknya melakukan sebuah perubahan kecil?” Berteman dengan banyak bangsa di sini memang dapat menumbuhkan rasa multikulturalisme dan fondasi untuk bekerja bersama secara sederajat di kemudian hari, tapi, toh kami hanya pelajar.
Martin Svarva, presiden ISFiT tahun ini seolah menjawab itu semua. Menurutnya, kesempurnaan bukanlah tujuannya. Dunia yang ideal bukanlah sesuatu yang harus kita tanamkan di kepala kita ketika hendak melakukan perubahan. ISFiT pun bukan solusi yang ideal. ”Tapi,” katanya sungguh-sungguh, ”ia solusi terbaik yang kita punya hari ini.”
”Saya dan kalian adalah butiran-butiran salju kecil,” katanya menutup pidato, ”dan yang harus kita lakukan di festival ini adalah melempar butiran-butiran salju itu. Ketika kalian melempar salju ke dalam lembah, ia akan menjadi semakin besar, dan suatu saat, guliran bola salju itu pun tidak terhentikan lagi.”
Upacara pembukaan berakhir dan ruangan-ruangan sekitar grand hall kembali hiruk pikuk dengan peserta. Penulis bertemu dengan presiden ISFiT tadi. ”Kerja yang sangat bagus,” apresiasi penulis untuknya.
”Ya,” balasnya, ”saya juga tidak tahu kenapa semuanya terlihat sangat antusias. 350 orang volunteer sini yang bekerja tanpa dibayar selama satu tahun, dan ratusan partisipan yang terbang ke sini dari rumahnya yang beribu-ribu mil jauhnya, pasti ada sesuatu dalam festival ini yang begitu dicari oleh semua orang ini.”
”Mr. Raj tadi bilang,” balas penulis, ”kita memiliki power in number.” Berapa banyak orang di dunia ini yang merindukan sistem dunia yang lebih adil, damai, dan sederajat di dunia sekarang ini?
”Mungkin saatnya memang telah tiba…” Tinggal tunggu guliran bola salju itu membesar dan memperl
ihatkan hasil.
