Persepsi

Digeq0232preview_1

Trondheim

, 21 Februari 2007

Saya teringat pidato yang disampaikan Mr. Abdel Bari Atwan, seorang jurnalis berpengalaman dari sebuah kantor berita Arab, dalam pertemuan tematis tadi malam di Grand Hall Studentersamfundet: Is Media Defining the Truth? Sebuah istilah dikeluarkannya untuk dunia jurnalisme Barat yang kini mendominasi televisi di seluruh dunia: entertainment to death.

Etika menjadi hal yang tidak lagi menjadi prioritas para media (Barat) itu, karena yang lebih penting kini adalah bagaimana menghibur pemirsa. Berita-berita yang ditayangkan sebisa mungkin menyulut kontroversi, dan sebaiknya memperkuat penilaian hitam-putih pemirsa, karena kebanyakan pemirsa kini sebetulnya lebih ingin judgmentnya dibenarkan daripada berusaha untuk memahami dari kedua sisi.

Daripada berusaha memahami latar belakang ekonomi rakyat Palestina, misalkan, para pemirsa lebih senang melihat anak-anak itu melempar tank-tank Amerika dengan batu, sambil meyakinkan diri, “Tuh kan, orang-orang Palestina itu memang bar-bar.” Media kemudian melihat kebutuhan ini sebagai sumber uang, sehingga terus mencekokkan berita-berita serupa. Dan lingkarang yang sama pun berputar kembali.

Kecenderungan ini diperparah lagi oleh kepentingan-kepentingan politis yang memasukinya. Mengapa entertainment to death, karena memang beberapa orang jurnalis yang berani memperjuangkan kebenaran yang bertentangan dengan partai politik tertentu, yang tentunya memiliki hubungan sponsorship tertentu juga dengan media yang bersangkutan, harus berakhir hidupnya di tangan orang-orang yang ‘mencurigakan’.

Seperti itulah keadaan dunia jurnalisme saat ini, tegasnya berapi-api ketika mengemukakan semua itu.

Ingatan terbuyar ketika seorang workshop leader, salah satu pelajar NTNU yang bertugas membimbing diskusi dalam workshop, datang pagi itu dan berkomentar bahwa ia menyayangkan tidak adanya pihak dari media Barat: CNN, BBC, ABC, dsb, yang dapat menunjukkan ‘sisi lain’ bagi pidato tersebut. “Bagaimanapun kita harus mulai menilai sesuatu dari kedua sisi, bukankah itu yang juga ia inginkan?” komentarnya.

Dan untuk memulai workshop hari itu, ia mengangkat sebuah artikel yang dibawanya dari rumah. “Ini baru saya temukan di internet, dari sebuah website media terhormat Inggris. Fled with Burqa. Menceritakan penemuan terbaru keamanan Inggris sehubungan dengan bom Kings Cross”

Ia pun menyerahkan artikel tersebut kepada para peserta, “Apakah berita tersebut bias?”

Setelah melihatnya sejenak, penulis berpikir, “Apanya yang bias?” Tampak seperti pemberitaan biasa mengenai penemuan jejak teroris. Dan jika teroris yang bersangkutan memang mengenakan burqa saat melarikan diri, ya begitulah adanya.

Tetapi ia melanjutkan, “Pikirkan bagaimana dampaknya terhadap benak masyarakat. Ketika masyarakat terus-terusan dibombardir oleh berita-berita semacam itu, bagaimana hasilnya?”

“Islamophobia,” jawab pelajar dari Turki.

“Tetapi memang itu kenyataan. Bagaimanapun memang kelompok Islam yang melakukan aksi-aksi itu, dan mereka bahkan ingin diketahui bahwa mereka melakukannya atas nama Islam. Apakah kita harus menutupi kenyataan dengan mengatakan mereka teroris non-agama?” tanya pelajar dari Belgia.

“Ya, tetapi benarkah wajah Islam di dunia ini sekarang memang seperti itu?” tanya sang workshop leader, “Jutaan umat Islam di dunia, mungkin hanya 3% dari mereka yang berpikir untuk melakukan perbuatan semacam itu. Setujukah kalian bahwa dengan pemberitaan semacam ini, kebanyakan orang di dunia kini menganggap bahwa kebanyakan Muslim itu memang dekat dengan ekstremisme?”

Argumennya pun menjadi masuk akal. Selain masalah how: bagaimana merepresentasikan berita, ternyata masalah what: berita apa yang direpresentasikan, pun tidak kalah pentingnya. “Jadi, bagaimana menurut kalian seharusnya berita itu ditulis? Hapus kata Burqa? Atau bahkan hapus saja kata Islam?”

Peran Media

Pertanyaannya terhenti oleh datangnya seorang dosen Swedia yang akan mengisi kuliah hari itu.

            Dr. Inggrid segera membuka kuliahnya, “Media, memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membentuk persepsi masyarakat.” Ia bukan sekadar jendela yang memperlihatkan realitas yang terjadi, ia juga ikut menciptakan realitas tersebut dalam benak orang-orang.

            Ia kemudian memberikan contoh kasus, berhubungan dengan kehidupan orang-orang Norwegia. Beberapa tahun ini arus imigran dari Afrika mulai masuk ke Norwegia, dan kebanyakan dari mereka Muslim. “Sejak masuk Norwegia 4 tahunan yang lalu hingga sekarang, selalu saya dengar kesalahpahaman antar mereka dan masyarakat setempat. Para imigran merasa diri terisolasi, sehingga saya pun bertanya-tanya, mengapa perlakuan semacam itu dapat terjadi? Teman-teman saya sendiri bahkan berkata mereka agak risih jika punya tetangga imigran Muslim, padahal kalau ditilik lebih jauh, tidak ada yang berubah sama sekali setelah para imigran itu datang!”

            Ia kemudian menemukan bahwa sumber semua ketidaknyamanan itu adalah persepsi masyarakat Norwegia. Dan jika kita ingin memperbaiki keadaan, maka hal pertama yang harus dibenahi adalah persepsi kita. Media memiliki peranan yang sangat besar untuk memperbaiki atau membentuk persepsi ini.

            Dr. Inggrid pun menyarankan lima buah solusi, yang kebetulan merupakan hasil penelitian tesisnya baru-baru ini, berkaitan dengan masalah ini. Pertama, discourse theory. Dialog adalah hal mutlak yang harus dilakukan antar kedua belah pihak. Saling pemahaman yang tercipta di dalamnya kemudian harus diberitakan kepada publik melalui tulisan-tulisan atau medium lainnya.

            Kedua, national identity. Para imigran yang datang ke Norwegia cepat atau lambat harus memiliki rasa kepemilikan terhadap Norwegia. Jadi bukan orang-orang Norwegia saja yang harus menyambut mereka, melainkan mereka pun harus berusaha untuk merasa satu golongan. Dalam hal ini, terdapat sebuah tantangan. Hingga kini aturan-aturan sosial Norwegia masih berdasar pada agama Kristen, yang kemungkinan akan membuat para imigran Muslim merasa tidak mudah untuk mengadopsi. Untungnya, lanjutnya, sebagai hasil dari enlightenment Eropa abad pertengahan, Norwegia juga memiliki ruang sekuler yang cukup besar, seperti dalam bidang politik atau ekonomi yang sepenuhnya bebas dari doktrin agama. Dalam ruang-ruang ini para pemeluk agama lain dapat masuk dengan leluasa dan pada akhirnya merasakan penerimaan. Lagi-lagi kisah semacam ini harus menjadi highlight media. Berita-berita seperti seorang Muslim imigran yang bekerja di pemerintahan, mengurus kepentingan bersama rakyat Norwegia, menjadi contoh yang baik yang sebaiknya dipublikasikan.

            Ketiga, values. Publik Norwegia harus disadarkan, bahwa sebetulnya nilai-nilai yang dianut para imigran dan mereka tidak terlalu berbeda signifikan. Memang ada perbedaan-perbedaan, seperti dalam isu gender, demokrasi, atau individualitas, tapi sebetulnya hal-hal ini tidak seharusnya mempengaruhi kehidupan normal sehari-hari mereka. Jika dua keluarga, yang satu menganut individualitas sedangkan yang lainnya berorientasi keluarga, tinggal berdampingan, maka seharusnya mereka dapat menjalani kehidupan sehari-hari mereka seperti biasanya. “Jangankan dengan para imigran,” kata Dr. Inggrid, “Antar keluarga Norwegia saja berbeda nilai-nilainya satu sama lain.”

            Keempat, multiculturalism. Kedua golongan harus memahami, bahwa perbedaan memang eksis. Jadi masyarakat sebaiknya memelihara perbedaan ini, bukan memaksakan nilai-nilai suatu gologan bagi seluruh tatanan masyarakat. Tantangannya, seperti yang diungkapkan Profesor Bjorn Myska sehari sebelumnya, lebih pada menemukan titik temu.

            Kelima, affirmative action. Semua persepsi yang telah dibangun tersebut, harus diejawantahkan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Perusahaan-perusahaan di Norwegia harus mulai membuka pekerjaan mereka tanpa membeda-bedakan ras atau agama. Di lain pihak, kaum Muslim di Norwegia pun harus berhenti mengekskusifkan diri, dan mulai bertindak sebagai seorang bangsa Norwegia, bukan atas nama umat Muslim saja.

Seorang pelajar dari Turki kemudian memberi masukan, bahwa identitas agama bahkan jangan disebut-sebut lagi dalam praktek-praktek nyata tersebut. Media jangan memberitakan bahwa “Muslim A memasuki perusahaan Norwegia B, dan bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh”, karena itu tetap menyiratkan keterpisahan: bahwa ada kaum Norwegia dan kaum Muslim. Seperti yang telah diterapkan di Turki, identitas agama tidak disebut-sebut lagi bahkan di kartu identitas, sehingga masyarakat pun dapat bergerak atas dasar keahlian terlepas dari apapun identitasnya.

Di akhir kuliah Dr. Inggrid menekankan lagi, persepsi masyarakat sangat dipengaruhi cara media merepresentasikan berita. Maka, dengan pilihan ini, sebaiknya media mengambil niatan konstruktif dalam apapun yang mereka beritakan.

Jawaban atas pertanyaan sang workshop leader sebelum terpotong kuliah, adalah untuk membiarkan media memberitakan apa adanya: sang teroris melarikan diri dengan burqa. Tetapi, jika media yang bersangkutan memang berniat untuk membentuk persepsi masyarakat secara konstruktif, maka ia akan menyengaja memberitakan hal-hal lain yang akan menumbuhkan rasa pemahaman dalam masyarakat. Di samping artikel Burqa yang bersangkutan, media tersebut dapat menambahkan artikel lain: the struggle within, misalkan, menceritakan bagaimana dalam umat Islam sendiri banyak yang tidak menyetujui aksi-aksi terorisme itu. Selanjutnya, media-media tersebut juga dapat memberitakan info-info Muslim moderat secara rutin, untuk menetralkan persepsi masyarakat terhadap umat Islam yang telah ‘tercoreng namanya’ akibat aksi-aksi kekerasan tersebut.

Saling Silang

Tetapi apakah rasa pemahaman dalam masyarakat yang kita idam-idamkan itu memang memungkinkan untuk terjadi? Sejauh apa kita dapat memahami orang lain yang nampak ada di seberang kutub?

            Para peserta workshop kembali disodorkan sebuah ‘game’. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok terdiri dari peserta negara-negara berkembang, dan kelompok lainnya peserta negara-negara maju. Keduanya akan diminta untuk berdebat mengenai suatu hal.

            Kini kami, peserta negara-negara berkembang yang seringkali menjadi ‘korban’ pemberitaan media Barat yang ‘seenaknya’, diminta untuk mencari argumen-argumen, untuk membela mati-matian: Kebebasan Berbicara Mutlak. Dan para peserta dari negara-negara maju, yang seringkali merasa dongkol karena kebebasan bicara terbatasi oleh etika-etika Timur semacam agama, diminta untuk membela mati-matian: Kebebasan Berbicara yang Beretika.

            Kedua kelompok berdiskusi terpisah untuk menemukan argumen-argumen. Dan reaksi pertama yang terjadi dalam kelompok kami, adalah bengong. Begitu pula tampaknya kelompok yang satunya lagi.

            Tetapi kemudian, demi menyukseskan permainan, kami pun memaksa diri kami untuk menyelami pikiran orang-orang yang berbicara bebas mutlak itu. Mencoba merasakan bagaimana rasanya menjadi mereka.

            Dan argumen-argumen pun tiba-tiba mengalir keluar. Setiap peserta nampak fasih berbicara seolah mereka memiliki alur pikiran orang-orang bebas tersebut. Pada akhirnya, sebuah hasil tercapai, bahwa kami membela kebebasan berbicara mutlak karena hal tersebut menciptakan ‘masyarakat yang matang’. Sebuah masyarakat yang tidak lagi harus didikte apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Jika memang ada suatu etika yang hendak dicapai, maka biarkan manusia mencapainya dengan sendirinya, bukan melalui aturan-aturan. Let children find out for themselves which one is good and bad. Jika anak yang bersangkutan harus merasakan sakit terlebih dahulu hingga akhirnya dapat belajar sesuatu, biarkanlah begitu adanya. Seringkali pula aturan-aturan, jika tidak disertai kesadaran pengikutnya, hanya akan ditinggalkan atau dilabrak cepat atau lambat.

            Giliran kelompok lain merepresentasikan penemuannya. Dinyatakan bahwa kebebasan berbicara harus disertai etika demi menghindari kekacauan atau anarki dalam masyarakat. Penghindaran chaos ini perlu untuk menjaga kestabilan ekonomi yang pada akhirnya berguna bagi semua orang. Lagipula, batasan-batasan etika itu perlu karena kita secara common sense memang harus saling menghormati dengan orang lain.

            Pada akhirnya, debat yang direncanakan tidak jadi dilaksanakan karena memang tujuan permainan tadi hanya untuk ‘memaksa’ kita berpikir sebagaimana orang lain berpikir.

Ternyata, memang kemampuan kita untuk memahami orang lain tidak terbatas. Kita memiliki kemampuan sebegitu fleksibelnya untuk ‘menempatkan diri pada sepatu orang lain’. Tergantung apakah kita berniat memilih melakukan itu saja atau tidak.

2 Responses to “Persepsi”

  1. Gatot Says:

    mm.. di indonesia sendiri, gerakan paranoidsme Islam ke rasa banget tersetting di media. kenapa selalu isu2 sensitif yang selalu diangkat?. sehingga menciptakan image dalam pikiran bahwa islam (extrime, berpecah, keras dll). akibatnya jangankan non-Islam, orang islam sendiri juga parno sama agamanya sendiri!.

    mm.. kebebasan perlu di batasi oleh etika (pembatasan) agar tidak destruktif. pembatasan destruktif juga perlu di batasi oleh kebebasan konstruktif agar tidak kontra produktif…

  2. Unewmerse Says:

    hey!
    I made on photoshop animated myspace banners.
    have a look at them:
    http://tinyurl.com/5wmgpn
    Thanks a lot 4 your website ;-) xoxoxo

Leave a Reply