Student Peace Prize
Trondheim, 23 Februari 2007
Suasana Grand Hall agak menegang ketika layar infocus di depan menayangkan sebuah film dokumenter yang dibuat oleh para pelajar
Burma
(
Myanmar
) yang mengungsi ke
Thailand
. Film dibuat ketika mereka kembali ke perbatasan untuk menangkap gambar para warga
Burma
yang sedang melarikan diri.
Sekitar 30 orang, beberapa wanita di dalamnya membawa bayi dan anak kecil, berjalan cepat dan diam-diam. Berharap tidak bertemu tentara SPDC Myanmar yang berpatroli di hutan situ. Jika mereka bisa sampai dalam keadaan hidup ke tanah
Thailand
, maka itu hanyalah sebuah keberuntungan.
Begitulah kira-kira suasana alur pengungsian yang sedang deras dari negara yang menghabiskan hanya 1% dari GDP untuk pendidikan dan kesehatan, dan 40% untuk militer itu. Regime militer yang kini berkuasa sudah mulai melebarkan sayapnya ke wilayah Timur
Burma
untuk mengopresi suku-suku minoritas yang bertebaran di desa-desa
sana
. Ratusan desa dibakar habis. Suku Shan, salah satu yang menderita paling parah, seringkali menjadi target hukuman mati bagi warganya yang kedapatan pernah memberitakan sesuatu kepada pihak rescue internasional.
Metode lain dari pasukan militer yang paling parah adalah pemerkosaan, sebagai metode untuk lebih mendegradasikan harkat suku-suku marjinal yang dianggap tidak pantas berdiri sejajar oleh golongan para penguasa militer itu.
Para
tentara yang memasuki desa-desa itu telah mendapat izin formal dari para atasannya untuk memperkosa, dan hingga saat ini, tercatat sekitar 400.000 wanita telah menjadi korban.
Charm Tong
Berita-berita tentang kemalangan desa-desa di Timur
Burma
ini, tidak terlalu diketahui dunia internasional karena ketatnya penjagaan informasi oleh regime militer
Myanmar
. Karena itulah Charm Tong, salah seorang pengungsi di perbatasan Thailand yang melarikan diri bersama orang tuanya saat berusia 6 tahun, kini berdiri dan mengumumkan kepada seluruh dunia apa yang telah dialami sukunya yang minoritas.
Ia telah memberikan kesaksian di depan Sidang Umum PBB di New York ketika usianya baru 20 tahun, dan pada tahun 2005 kemarin bertemu dengan Presiden Bush untuk memperjuangkan hak-hak wanita di sana. Ia menerima penghargaan Marie Claire Women of The World Award pada tahun 2004. Dan kini, ia berdiri di podium Grand Hall sini untuk memberitakan hal yang sama kepada para pelajar di seluruh dunia. Ia juga datang sebagai pemenang penghargaan ISFiT Student Peace Prize 2007.
Banyak yang telah dilakukan Charm Tong bagi para pengungsi di perbatasan
Thailand
. Di usianya yang ke-25 ini, ia adalah pendiri sekolah bagi suku-suku etnik: SSSNY (the School for Shan State Nationalities Youth), yang didirikannya pada tahun 2001. Sekolah ini adalah reaksi atas berkurangnya pendidikan secara signifikan di wilayah Shan di Burma.
Charm Tong percaya akan kesetaraan etnis yang berbeda-beda, sehingga orang-orang dari berbagai grup etnis
Burma
: Palaung, Akha, Lahu, Kachin, dan Pa-O, dapat belajar di
sana
. Pendidikan yang diberikan Charm Tong pun jauh dari propaganda. Yang ia inginkan dari sekolah ini hanyalah orang-orang yang berbeda dapat belajar dan tinggal bersama, sehingga tertanam dalam hati mereka saling pemahaman dan penghormatan terhadap budaya, agama, dan identitas yang berbeda-beda. Suatu hal yang hilang dari regime militer yang berkuasa di
Burma
sekarang.
Ketika penulis berbicara padanya tentang aksi yang seharusnya dilakukan terhadap opresi militer, dan memberitakan hasil World Parliament Experiment kemarin, ia menyatakan penolakan terhadap intervensi UN Peacekeeping atau militer lainnya. Ia berpikir bahwa aktivitas militer di
Burma
sudah terlalu banyak, dan aktivitas militer tidak seharusnya dibalas dengan aktivitas militer lagi. Dalam keadaan terdesak pun, ia masih percaya dengan solusi non-kekerasan.
Selain mengajar di SSSNY, Charm Tong juga bekerja dalam organisasi SWAN (Shan Women’s Action Network). Ia adalah salah seorang pendiri organisasi ini pada tahun 1999, yang bertujuan menghentikan eksploitasi atau kekerasan apapun terhadap wanita dan anak-anak
Burma
. Pada tahun 2002, SWAN mempublikasikan “License to Rape”, sebuah laporan mengenai bagaimana metode sistematis militer
Burma
menggunakan pemerkosaan untuk mengendalikan dan melemahkan suku Shan.
Ketika ditanya mengenai apa yang kira-kira yang para pelajar
sana
dapat sumbangkan bagi perjuangan
Burma
, Charm Tong menyatakan bahwa kita dapat terus menyebarkan informasi. Terus mengumumkan kepada dunia apa yang sebenarnya sedang terjadi di
Burma
. Karena kenyataan bahwa kami semua dapat mendengarnya bicara saat itu di Grand Hall juga membutuhkan perjuangan yang tidak kecil.
Lanjutkanlah meng-update berita mengenai
Burma
, salah satunya dari website organisasinya: www.shanwomen.org yang dapat dijadikan salah satu sumber informasi terpercaya mengenai
Burma
. (Untuk website SSSNY sendiri tidak dapat ia berikan, karena pemerintahan
Thailand
hingga kini masih tidak mendukung sekolah tersebut sehingga letak pastinya pun masih dirahasiakan).
Charm Tong juga memohon para pelajar untuk tidak melakukan turisme dulu ke
Burma
, karena hal tersebut benar-benar memberikan sumbangan yang signifikan kepada pemerintah militer.
Untuk langkah yang lebih politis, Charm Tong lebih menyarankan sanksi ekonomi ketimbang intervensi militer. Ia mengharapkan setiap pelajar dapat memastikan jika negaranya bukan salah satu penyuplai senjata ke
Burma
(
Indonesia
sendiri bukan salah satunya, ujarnya, karena bahkan pemerintah
Indonesia
telah memberikan bantuan yang cukup signifikan terhadap perjuangan demokrasi
Burma
), dan melakukan aksi yang dibutuhkan mengenainya.
Charm Tong juga menyatakan, sebagai sanksi ekonomi, agar kita tidak membeli barang apapun yang “Made in Myanmar/Burma”. Dan bahkan untuk berhati-hati pada produk berlabel “Made in
Thailand
” karena beberapa produk buatan
Burma
terkadang telah diganti labelnya.
Bantuan lainnya yang dapat dilakukan adalah justru untuk menghentikan bantuan (foreign aid) apapun kepada
Burma
. Karena semua bantuan internasional tersebut tidak pernah sampai ke rakyat, melainkan dipakai pemerintah untuk memperbanyak fasilitas militer mereka.
Peace Prize Ceremony
Tepuk tangan riuh rendah ketika Trondheim Symphony Orchestra telah memainkan dengan apik komposisi orkestra mereka, dalam gedung megah Olavshallen di pusat
kota
Trondheim
, tempat diadakannya ISFiT Peace Prize Ceremony 2007.
Dalam acara tersebut, seniman-seniman terbaik Norwegia menghadirkan pertunjukan terbaik mereka, untuk menghormati sang pemenang Student Peace Prize tahun itu. Di antara pertunjukannya adalah Ingrid Lorentzen, balerina ternama Norwegia; Lionheart Brothers, band kontemporer Norwegia yang mendapat pengakuan kritisi internasional; dan Ingrid Lode, penyanyi muda berbakat yang sedang naik daun di Norwegia.
Student Peace Prize adalah penghargaan yang diberikan kepada pelajar atau organisasi pelajar yang telah melakukan perjuangan luar biasa bagi perdamaian dan hak asasi manusia di negara-negara di mana hal tersebut sangat dibutuhkan. Charm Tong, memenuhi semua kriteria tersebut.
Borge Brende, anggota parlemen Norwegia dan pemimpin organisasi PD Burma (The International Network of Political Leaders Promoting Democracy in
Burma
), memberikan pidato yang menggerakkan. Ia menceritakan bagaimana
Burma
dulu adalah bangsa yang makmur, pengekspor beras nomor satu di dunia. Belum lagi salah satu anak bangsanya yang menjadi sekjen PBB: Mr. U Thant. Karenanya apa yang terjadi pada
Burma
sekarang ini adalah sesuatu yang sangat menyedihkan. Dan atas kelanjutan semangat yang ditunjukkan Vaclav Havel (mantan presiden Republik Ceko) dan Desmond Tutu yang pertama kali meminta kebijakan ke Sidang Umum PBB mengenai
Burma
, maka saat ini pun ia mengajukan permintaan yang sama kepada para hadirin. “Saya menantang kalian,” tegasnya dengan penuh semangat, “Saya menantang kalian terutama dunia Barat, untuk tidak berinvestasi di
Burma
saat ini!”
Acara penghargaan semacam ini juga sangat berperan untuk mengingatkan kembali dunia atas konflik
Burma
yang semakin hari semakin terlupakan, ujarnya. Karena jika sanksi ekonomi belum juga memberikan dampak, maka kita masih memiliki ‘metode Amnesty International’: membuat pemerintah opresor di mana pun sadar, bahwa “Semua warga dunia tahu apa yang sedang engkau lakukan. Kami semua sedang melihatmu.”
Martin Svarva, presiden ISFiT 2007, menyatakan kepentingan Student Peace Prize dalam pidatonya, “Mengapa Student Peace Prize?” tanyanya, “Mengapa bukan Nobel Prize saja di
Oslo
? Karena penghargaan-penghargaan itu belum cukup. Karena kita, para pelajar, dapat pergi ke area-area di mana para diplomat tidak mau pergi. Karena kita tahu, para pelajar di seluruh dunia saat ini sedang berjuang untuk perdamaian, dengan atau tanpa diketahui khalayak luas.”
“Dan penghargaan ini, Charm Tong,” lanjutnya kepada Charm Tong, “tidak akan membuatmu kebal peluru. Tidak akan melindungimu dari bahaya. Tetapi dapat dijadikan sebuah pengingat bagimu, bahwa kami para pelajar di sini mendukung perjuanganmu. Bahwa kami para pelajar di Norwegia ini akan mengawasimu setiap saat, dan akan terus mengikuti situasimu di
sana
.”
Charm Tong berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke podium untuk menerima penghargaan Student Peace Prize 2007.
Para
hadirin berdiri dan memberikan tepuk tangan yang keras dan berkelanjutan.
Seluruh performansi artistik dan kata-kata bijaksana yang bertaburan di Olavshallen saat itu, telah cukup untuk menggerakkan hati semua pelajar yang hadir.
Seperti yang dikatakan Kathrine Sund, ketua panitia Student Peace Prize, “Charm Tong ingin mengubah dunia, dan ia meyakinkan kita bahwa hal itu mungkin.
Para pelajar bertanggung jawab untuk mengejawantahkan pikiran-pikirannya ke dalam aksi, dan keberanian Charm Tong adalah contoh bagi kita semua dalam hal itu.”
