Guest House

September 9th, 2006 by 3rdsidewalker

Marina_132

8 August 2006, Ghent

Balik2 dari pusat kota Ghent, siap2 packing tuk pergi, keadaan malah memburuk. Awalnya, Charlotte cuma nanya besok mau pergi jam berapa. Saya bilang keretanya bakal pergi jam 9, jadi saya bakal pergi jam 8.30an dari rumahnya. Dia menyetujui, jadi semuanya ok2 aja. Tapi entah kenapa, sejam-an kemudian, doi berubah pikiran..
Dia bilang saya seharusnya keluar dari rumahnya jam 7an, bareng ama dia pergi ke kantor.

Saya jadi BT juga akhirnya setelah numpuk2. Pertama karena dia berubah2 pikiran mlulu. Yang kedua, saya mau belanja di supermarket dulu yang baru buka jam segituan, jadi bawa tas gede ke supermarket, gimanaa gitu? Lagian plis donk, saya mau pergi juga dari rumah dia. What is the problem sih actually?
“Gimana ya.. Selain saya ga nyaman ada orang lain di rumah ketika saya ga ada, rumah itu bagi saya ‘little temple’. Kita harus menjaganya dari ‘energi2 aneh di luar sana’.

Eergh.. pikir saya bete, gimanapun juga harus nurut. There you go, spiritual freak! Orang2 yang ‘spiritual’, jadi musuhin dunia material. Meninggalkan dunia material ‘dengan segala keburukannya’. Ga ma tau. Saya sih lebih menghargai orang2 yang ‘ngorbanin diri’ nyemplung ke dunia material dan berkotor2 nyoba ngebantu sesuatu di dalamnya. Bukan para pertapa di gunung ini.
Kayak host2 HC lainnya yang membuka diri ama dunia material di luar, baik ato buruk. Karena mereka percaya kebaikan pun bisa ngubah yang buruk2. Bukan spiritual freak yang nyoba mengisolasi rumahnya dari ‘energi2 buruk dari luar’ gini.

Huh.. masih bersungut-sungut.
I could have chosen to hate her.. actually..
Ketika tiba2, saya pun menyadari sesuatu.. Kalo.. saya bener2 memaksudkan apa yang saya katakan, maka sebetulnya saya pun harus membuka hati saya buat dia..

Jadinya malem itu, di kamar ala hippies itu pun saya merenung lagi.
Malah bukan merenung.. Tidak ada lagi teori di sini, tidak ada yang harus dipikirin. Pikiran dan ide selalu menerima sebagian dan menolak sebagian yang lain. Tapi di sini semuanya harus diterima . Undang juga yang buruk2. Semua tamu harus diterima dengan tangan terbuka..

Alkemi yang sesungguhnya pun terjadi - yang bisa ngubah batu biasa jadi emas..
Ketika kita nerima yang jahat2 juga..
Ohohoho.. nyeri..

Kamu pun kebingungan kenapa kamu baik2 aja walaupun nyeri. Biasanya kita ga nerima yang jelek2 karena takut ama perasaan nyeri itu, tapi ternyata kalo kita bersedia menerima rasa sakit itu - sabar - di balik kita ada yang sayang juga ama kita, Sesuatu yang ngemong perasaan nyeri itu. Something Else..
Subhanallah..

Paginya, patuh tuk berniat pergi bareng Charlotte, tapi beda setengah jam karena dia buru2, saya pun nyempetin bikin surat.
Dear Charlotte..
Sorry if I dont come in the right time in your house (plus semua alasan kenapa dulu sempet berencana 5 hari.)
I really hope everything will go well in your life.
And really thank you for everything. I really mean it, coz u also made it!
(You keep on inspiring, directly or indirectly, since the day we met in India!:) )

P.S: I dont really understand when you say that your house is a temple. To me, a temple is never bricks and wall. It is in human heart.
So you might consider your house rather as a guest house - just like Rumi poetry that you used to quote - where you can invite also some unwanted guests (like me, hehe..)
Coz a heart must break, Charlotte..
A heart must break..
To let Something Else pours out of it..

Awas, Barang Pecah Belah!

September 9th, 2006 by 3rdsidewalker

Marina_054

8 August 2006, Ghent

Aku duduk di samping sungai Leie yang cantik, dengan gedung2 di belakang dan depan yang kayak deretan rumah Barbie (dengan selera lebih klasik yang tahan 1000 taun). Ghent ini membuatku terpesona. Gak terlalu beken di telinga, tapi pas jalan2 di dalamnya terasa menyenangkan. Semuanya diniatin. Di setiap sudut kota ada pot2 bunga segar yang dimaksudkan tuk mendekorasi kota. Banyak toko2 kecil, jual souvenir ato barang2 kerajinan. Barang2 kecil berharga banget, dijaga sepenuh hati.
Seperti juga rumah Charlotte, pikirku. Diwarnain beda tiap ruangan. Ato liat juga cara dia ngebungkus hadiah sabun kecil tuk tetangganya.

Lamunanku terbuyarkan ketika tiba2 ada seorang cowok duduk di sebelah dan ngajak kenalan. Namanya Ben, tinggal di sebuah kota ga jauh dari Ghent.
Pas kubilang namaku Marina, Ben mulai menyenandungkan sebuah lagu dengan banyak kata Marina. “Tau lagu itu?” Dan dia terkejut ketika aku geleng2. “Itu lagu klasik taun 70an, punyanya Roco Granata.”

Karena saya tetep geleng2 kepala, kita pun akhirnya jalan2 di seputaran pusat kota Ghent yang kecil itu tuk nyari2 CD Roco Granata.
“Apa kerjaanmu? Kok weekdays gini bisa liburan?”
Ternyata Ben seorang seniman. Painter tepatnya. “Tapi itu kayak masa lalu. Dulu saya rajin banget pameran. Sekarang udah ngga, cape. Jadinya dorman, nyari2 inspirasi aja terus kayak sekarang.”

Kita rada cape setelah pergi ke 4 toko musik dan gagal mendapatkan CD yang dicari. “Wah, gagal deh.. sori ya,” kata Ben.
No worry, saya selalu bisa download dari internet.”

Dan kita pun ngelanjutin jalan, menuju sungai tadi tuk ngambil motor dia. “Apa biasanya yang kamu lukis?”
Women, hahaha..”
“Dassar..” Dan selanjutnya dia menarik sesuatu dari dompetnya. Sebuah postcard, yang ternyata  hasil lukisannya. Di luar dugaan, ketimbang lukisan2 bugil kayak di film Titanic, ternyata lukisannya bener2 oke. Cuma segaris2 kuas hitam di atas latar belakang putih, kayak lukisan2 Zen.
“Wow..”
Dan dia ngasi postcard lainnya. Kali ini patung, “Ada di samping sebuah jembatan di Brugge.” Monumen yang gak kalah mencengangkan. Sangat kontemporer (dan tentunya agak menyeramkan) dan kerasa banget kualitas seninya. 
Geezz..  you are very talented. Continue your exhibitions, man..
“Hahaha.. ngga deh. Saya mau ngerem dulu. Cape.. and afraid of broken-hearts..
Paintings.. can break your heart? Ga ngerti.. bukan mahasiswa seni.”
“Jelas. Kamu harus jaga jarak dari dia. Kalo ngga kamu bakal keseret ke dalamnya, dan gets too.. emotional..
Baiklah.. whatever..!

Kita sampai lagi di samping sungai Leie. Terlihat sebuah motor gaya diparkir di sisi sungai yang kuno. Dia pun pamitan dan naik ke motornya. “Nice to meet you. Thanks for the walk!”

Sesaat sebelum dia pergi, tiba2 ada ilham yang menclok ke kepala. Mungkin juga jawaban atas permasalahan Charlotte.
Hey.. maybe you should try to break your heart! And just see what comes out of it..

Patah Hati

September 9th, 2006 by 3rdsidewalker

Marina_042

6 August 2006, Ghent

Suatu hari yang indah di India, saya bertemu seorang cewek bernama Charlotte di Mahabodhi International Meditation Centre. Hari itu selalu saya ingat sebagai hari magical karena di hari yang sama pula saya ketemu si ‘cowok 2-harian’: Kev Brosnahan.

Dua orang ini, Kev dan Charlotte, selalu saya ingat kemudian sebagai dua orang yang udah kayak.. guru. Karena selama saya di Leh itu, walaupun kebanyakan dihabisin bareng Kev, Charlotte pun banyak mengeluarkan wejangan2 yang sangat inspiratif dan mengubah hidup, terkenang hingga sekarang. Belum lagi puisi2nya yang dikirim via email. Saya dan Kev kemudian berakhir menobatkan cewek yang satu ini sebagai ‘the Healer’.

Di salah satu email inspiringnya itu, Charlotte pernah mengundang teman2 yang dia temui di India tuk suatu waktu datang ke rumahnya di Ghent. Saya selalu ingat itu, sehingga ketika tiba gilirannya saya ada di Eropa sekarang, semangat lah saya tuk pergi ke rumahnya. Niatnya, ya ngga lain tuk get inspired lagi, mengulang satu hari yang mengharukan di Leh itu. Jadwal pun diset 5 hari tuk tinggal di Ghent, beda sendiri dari kota2 lainnya yang cuma 3 hari.

Saya pun akhirnya bertemu lagi dengan Charlotte the Healer!
And everything went nice in the beginning.. Charlotte ngabisin waktu berkebun. Kita ngobrol ngalor ngidul basa-basi, tentang kerjaan dan sebagainya.
Terus, kita juga jalan2, lagi2 ke kebun sekitar (karena rumah Charlotte ini ada di Groene Vallei, lembah hijau).

Keanehan mulai terjadi pas kita nyampe rumah, kayaknya terkesan kalo dia gak terlalu ingin ngobrol banyak2. Pertama dia pengen tidur setelah jalan2 keluar itu, ya udah.. aku baca2 buku dia aja di kamar di lantai atas. Terus dia bangun, kita sempet sejam ngobrol2, eh.. pengen tidur lagi.. :D Jadinya saya naik ke kamar di atas lagi.
Kayak agak2 menghindari percakapan.. Ah.. mungkin cuma perasaan..

Tapi kayaknya bukan cuma perasaan, karena setelah usaha ‘menghindari tamu’ itu, dia terlihat mulai BT lebih jauh. Pertama soal air, agak2 nyepet2 tuk gak pake air banyak2 karena mahal.. dan “air tawar itu berharga banget di muka bumi”. Ok, aku masih bisa laksanakan itu.
Terus pas nanya kalo aku bisa pake komputer, dia bilang dia ga suka
orang lain buka komputernya pas dia ga disitu karena itu udah kayak
diari pribadi.
Terus pas nonton TV, suasana tiba2 memanas gara2 saya bilang kalo India itu chaotic. Emang chaotic, kenyataan! Tapi apa juga yang dengan chaotic? Sejak itu rada ga konek, ditanya juga ga jawab..buehee
Baiklah.. baiklah..

Tidak berakhir di situ. Sesaat sebelum tidur, dia tiba2 nanya berapa lama saya bakal tinggal di rumahnya. Saya bilang 5 hari, ampe tanggal 10. Dia terlihat restless lagi dan nanya ‘katanya cuma ampe tanggal 8?’
(Jadi gini ceritanya, waktu itu dia pernah email kalo dia ga bisa terima tamu pas dia kerja. Dan dia bilang dia kerja tanggal 8. Jadi waktu itu aku bilang cuma ampe tanggal 8. Tapi ternyata dia kerja tanggal 1, dan dia masih welcome aku. Jadi kukira dia udah ga masalah terima tamu pas lagi kerja - asal jangan pas pacarnya dateng aja, tanggal 11. Jadi kupikir, selama sebelum tanggal 11, apalagi krn dateng ke Belgianya juga telat karena kehambat di Stockholm, aku bisa tinggal di situ..)

Ternyata itu masalah! Singkatnya dia ndak mau terima aku di situ lama2. Soalnya “mau istirahat dan siap2” sebelum pacarnya dateng. Aku pun jadi bingung, berarti tanggal 9 dan 10 tinggal di mana?
Jadilah aku nyari2 host baru dari Hospitality Club. Untung2an dapet kalo mepet gitu, kalo ngga.. ya .. nginep di stasiun kereta kali ya..

Akhirnya jam setengah duaan, setelah mengirim sekitar 10 email ke host2 hospitality club, saya pun kembali ke kamar. Lemes.. cape..
Patah hati karena sepertinya yang antusias ketemu cuma aku doank. Kecewa karena host2 sebelumnya, yang ketemu juga belum pernah, lebih bela2in ama tamunya. Dan tentunya.. kecewa karena sang guru dan inspirator cuma ‘manusia biasa’..

Lebih lagi.. mengingat betapa dekatnya dia ama Kev, saya jadi mikir kalo Kev juga begini di rumahnya..
Halo di atas kepala Charlotte dan Kev berangsur2 hilang. Dan itu mengecewakan banget, kayak  keilangan inspirasi dan panutan..

Benar2 deh, ya Tuhan.. bahkan orang yang paling kita percayain juga, suatu waktu harus ‘jatuh’. Leaving you walking alone.. dan pastinya.. bertumpu cuma ama Dia doank..

Aneh

September 8th, 2006 by 3rdsidewalker

Marina_130

5 August 2006, Kopenhagen – Ghent

Perjalanan menuju daratan Eropa Barat ini.. aneh..
Pertama, karena perjalanannya ternyata lebih jauh dari yang dikira. Harus ganti kereta empat kali: Kopenhagen – Hamburg – Koln – Brussels – Ghent (karena Eurail Pass cuma mengcover kereta kelas 2 sehingga ngga-bisa-ngga cuma ini pilihannya).
Lalu, keretanya juga pake masuk2 feri segala lagi pas masuk ke Jerman. Kerren..
Lalu, tuk pertama kalinya pula merasakan kecepatan kereta ICE yang walopun jalan 300 mph, tetep  uenak.. banget!

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam, saya pun merasa agak hepi karena akhirnya hampir sampai di Brussels. Eh.. tiba2, kereta ICE berhenti di tengah jalan. Seorang pramugari kereta berulang2 minta maaf lewat speaker pengeras suara karena keterlambatan kereta , tapi suaranya kok bergetar gitu.. kayak yang lagi panik.
Selidik demi selidik setelah jalan ke gerbong kereta paling depan, ternyata kereta berhenti karena telah menabrak seorang laki-laki di atas rel kereta.
Kok bisa?
Kirain stupit aja, tapi ternyata diketahui bahwa tu cowok kemungkinan sedang bunuh diri…
Si cowok langsung dibawa ke rumah sakit, ga tau kabarnya..

Sampe stasiun, koran2 di sekitar pun heboh menyeritakan sebuah kejadian nasional yang tidak biasa di Belgia: pembunuhan. Dan itu terjadi di stasiun utama Brussels ini. Alesannya, adalah karena seorang negro hendak merampok sebuah MP3 player dari seorang bule yang lagi nunggu kereta. Tentunya si korban gak mau. Si negro pun ngamuk dan akhirnya menusuk si korban pake pisau Swiss Army..

Ck ck ck.. creeping creeping.. strange atmosphere here in Belgium..

Kulturhavn

September 8th, 2006 by 3rdsidewalker

Img_1131

4 August 2006, Kopenhagen

Di tepi sebuah sungai bernama Inderhavnen, terdapat deretan gedung2 modern dan pabrik2 industri yang penting bagi kelangsungan hidup Kopenhagen.
Tapi kebalikannya di seberang sungai, hari ini, terdapat sebuah event bernama Kulturhavn. Sebuah event yang dimaksudkan tuk merayakan keragaman budaya dan kegiatan santai..

Kegiatan santai? Jangan tanya..
Sejak pagi, saya nyoba2 segala macam kegiatan yang tumplek ga nyambung. Sesaat pertama nontonin cowok2 Denmark yang cakep2 main polo air, dan sesaat kemudian udah pergi ke stand lain tuk nonton tari salsa. Nonton pun ga cukup, karena sang guru Brazil pun kemudian narik orang2 yang nonton di situ tuk nari bareng.

Seudah nari samba, kegiatan terlihat semakin seru di luar. Anak2 nyobain atraksi2 kolam renang yang dibangun di sepanjang sungai jernih itu. Kebanyakan loncat2 tuk nyebur ke sungai - dari trampoline, ato dari balok kayu tinggi yang dibangun tuk itu.

Yang lainnya main skateboard (tentunya). Dan di stand lainnya ada acara debat politik segala. Belum lagi teater rakyat, yang berencana ngadain pementasan kolosal taunan, sehingga mereka narikin penduduk Kopenhagen untuk ikutan main. Stand lainnya ada acara tari rakyat, yang seru dan cerah ceria. Sehingga jadinya saya pun ikutan ngeprokin ama orang2 tua yang ada di sekitar penari2 itu. Yeehaw!

Selesain ngeprokin, saya pergi ke stand selanjutnya: stand klub rafting yang konon diketawain karena ‘mau rafting di mana di Kopenhagen? Sungainya datar2 gitu?’
Anyhow, rafting still feel nice. Jadinya saya pun nyobain sejam dayung-mendayung di sungai yang lebar itu.

Seabis rafting, ada acara Tai Chi di stand Well-Being. Jadinya saya nyobain juga. Feel the Force.. hmm..

Setelah sukses jadi Jedi Apprentice, saya pun pergi pake perahu nelayan ke sebuah sisi sungai lainnya di situ, ke sebuah area bernama Nokken, yang punya filosofi sama ama Svartlamon di Trondheim. Cuma bedanya, di sini mereka ga sekuat Svartlamon tuk mastiin pemerintah ga akan menggusur mereka.

Langit berangsur2 mendung, padahal nelayan2 di Nokken itu udah nyiapin sebuah panggung tuk konser musik country. Musik dimulai, begitu pun hujan. Angin malah bertiup kencang hampir nerbangin panggung mereka yang cuma terdiri dari tenda plastik putih. Pabrik2 besar abu2 tua menyeringai seram di latar belakang.

Tinggal tunggu waktu sisi sungai seberang sana menggusur mereka2 ini.
Tapi selama rakyat Kopenhagen masih dateng ke event2 kayak gini, tuk sejenak menikmati kegiatan santai dan budaya semacam ini, mungkin sedikit aja bisa ditunda..

Kanan-Kiri

September 8th, 2006 by 3rdsidewalker

Img_1111

3 August 2006, Kopenhagen

Terlihat sebuah gedung di kejauhan dengan atapnya yang aneh. Tiga ekor buaya, atau monster, dengan ekor super panjang meliuk2 ke atas membentuk kerucut kayak es krim.
Es krim warna abu2 menyeramkan.

Apaan tuh? Saya pun jalan ke kiri dari jalanan shopping centre Stroget mendekat ke arahnya. Jalan2 beberapa langkah, saya udah dekat dengan gedung parlemen yang ga kalah indahnya. Dan ternyata ada hal lain lebih menarik perhatianku, sebuah stand berisi orang2 bertampang Arab dengan bendera Iran di mana2. Apaan (lagi) tuh? Saya pun batal pergi ke gedung aneh tadi dan malah nongkrong bareng mereka, hehe..

Segerombolan orang kumpul2 untuk merayakan sesuatu yang rupanya adalah keberhasilan mereka ga makan apa2 selama 45 hari, sebagai sebuah protes ke parlemen Denmark.
“Kami para pengungsi yang dapet asylum dari pemerintah Denmark. Ato tepatnya.. harusnya dapet asylum dari pemeritnah Denmark,” kata Kumar salah seorang dari mereka.

“Emang apa yang terjadi di Iran?”

“Pemerintah kita kejam pada yang ‘beda’, singkatnya.”

“Seberapa beda kalian?” kata saya bingung. Bukannya Iran itu sumber banyak pergerakan kontemporer ya? Dari film2 sosial, agama Baha’i yang kini mendunia, ampe cewek2 feminis pemenang penghargaan buku.

“Contohnya saya aja, pengikut Sufisme. Hal2 yang dianggap bid’ah kayak gini dilarang ama pemerintah Iran."
Sufi.. aha.. terdengar sebagai konflik yang familiar sejak zaman Syeh Siti Jenar, mungkin..

Tanya demi tanya, Kumar melanjutkan praktek Sufinya di Kopenhagen ini.
"Wah, ngapain aja kerjaannya? Pengajian? Ikutan donk.."
“Kita ga terlalu sering baca Quran, yang penting adalah hati.”
Wah.. nekad itu namanya,  “Bukannya baca Quran itu syariah? Pantes aja pemerintah Iran ngamuk, hehe..”

“Ya tapi kalo sesuai hati mau gimana?”
Kayak ngerasain Pizza itu enak tapi kemudian ada orang lain yang bilang kalo Pizza itu ga boleh enak, hehe.. “Kalo itu bermanfaat buat kita secara pribadi, mau gimana? Apa bisa semua orang diseragamkan cara menjalani hidupnya?”

Kumar ngobrol2 sama beberapa bule yang dateng. Beberapa ternyata anggota parlemen sendiri yang telah mendukung perjuangan mereka ‘dari dalam’.

“Yah.. Ngomong2, selamat donk ya kalo gitu! Permintaan kalian dikabulkan dan akhirnya dapet izin tinggal.”

“Satu tingkat telah terlalui, tinggal kini survive di Denmark yang rasis ini aja, hehehe..”
Ternyata bukan berarti Denmark ok2 aja, karena menurut Kumar, kekuatan partai liberal makin lama makin besar. Partai sayap kanan yang ternyata punya kaitan erat ama Jurgen Posten sebagai media mereka.
“Dan partai ini sebetulnya menggambarkan psikis orang2 Denmark kebanyakan. Lucu mereka itu, di lain hal mereka butuh kita untuk ngerjain hal2 yang ga ingin mereka kerjakan: kerjaan2 kelas dua. Tapi di lain pihak, mereka juga ga terlalu seneng kita di sini.”

“Saya kira kasus Jurgen Posten itu karena mereka ga setuju ama terorisme2 yang terjadi di seluruh dunia.”
“Ngga juga. Mereka manfaatin image Islam yang lagi buruk aja untuk jadi motor penggerak kemenangan partai mereka. Untuk membebaskan diri dari para imigran Muslim, singkatnya.”

Begitulah nasib imigran2 Iran itu, terjepit antar yang kejam di negara asal, dan yang rasis di negara baru.

Survival Story

September 8th, 2006 by 3rdsidewalker

Img_1035

2 August 2006, Kopenhagen

Bryan punya cewek yang ga kalah kocak: Svetlana. Sejak hari pertama, saya pun udah jatuh cinta pada pendengaran pertama. Hangat, terbuka, dan ya itu.. bodor.

Asep rokok di tangan Svetlana mengepul tuk kesekian kalinya (sehari sebungkus kayaknya). “You know what,” kata Bryan, “She’s hot and sexy, but her babe-level decreasing with every cigarette she smokes.” Dan Svetlana cuma cengar-cengir aja.

Bryan pergi, dan pagi itu kita ngegosipin Bryan di dapur. “Six months.. It’s been too long with him.. too long..” Svetlana megang dahi kayak ada masalah besar. 

Svetlana ternyata asal Yugoslavia. “Dulu waktu saya satu tahun, kami sekeluarga memutuskan untuk pergi dari Yugoslavia. Perang udah memanas sehingga kayaknya kudu pergi dari rumah.”

“Terus, waktu bapak saya dan sekeluarga masuk sebuah mobil yang bakal nganter kami, supirnya ternyata orang Cina yang ga ngerti bahasa Yugoslavia. Bapak saya ngejelasin bahwa mereka mau pergi ke Turki. Pake bahasa Tarzan, plus panik karena mobil ngebut. Si sopir Cina terus ngomong bahasa Cina, dan akhirnya ngangguk2 aja. Akhirnya kita sampe di pelabuhan, dan kami pun naik sembunyi2. Nyampe-nyampe, malah di Denmark. Ha ha ha!!”
Gwa nyengir kuda, ga tau kudu terkesima ato merasa tragis.

“Terus waktu umur 13 tahun, saya pun dinikahin Bokap saya, ama orang India Muslim. Mungkin udah budaya kami, saya ga bisa nolak. Tapi akhirnya saya cinta juga kok ama suami pertama saya itu. Sayang dia  meninggal 3 tahun kemarin, tabrakan mobil karena nyetir pas lagi ngehirup kokain.” Svetlana masih nyengir2. Nyengir kuda mulai hilang..

“Waktu itu rasanya udah pingin bunuh diri aja. Untungnya keluarga support banget, dan saya juga ketemu ama cowok Denmark lain yang hampir jadi suami saya. Sayang ternyata dia orangnya  ngga banget! Kecanduan alkohol, dan ga kerja apa2. Jadinya semua saya yang ngurusin, beliin ini.. itu. Cinta itu buta, man! Untungnya sekarang saya udah sadar.”

“Beruntung banget kamu sekarang ama Bryan yang baek itu.”

“Iya sih, tapi saya takut ngenalin dia ama keluarga nih! Enam bulan belum dikenalin juga. Soalnya keluarga saya jadinya ga percaya lagi ama cowok Denmark. Ato malah ga percaya lagi ama cowok2 yang berniat mendampingi saya. Dulu juga Bapak saya ampe nyariin cowok India Muslim itu tuk dinikahin ke saya karena…” tuut.. kisah tragis yang sepertinya harus disensor pula demi privasi.

Yang jelas setelah dia cerita saya cuma bisa melongo.
Svetlana masih ajaa nyengir2, “Yah, begitulah hidupku selama 25 tahun ini.”

“Saya heran banget kamu masih jadi orang yang santai gini. Kalo saya jadi kamu, udah .. gila kali..”

“Temen2 saya juga bilang gitu. Hehe.. entahlah, mungkin saya bisa bilang keluarga saya suportif banget. Terutama Bapak saya yang paling saya dengarkan. Beliau pendeta. Setaun sekali pergi ke Afrika ama Save The Chidren, pernah juga waktu itu ke Aceh. Beliau selalu bilang, “Svetlana, masalah apapun yang kamu hadapi, itu cuma setetes air di antara lautan masalah di dunia ini. Jadi, tegarlah! Dan Bapak saya selalu bilang, kalo kasih Tuhan akan melampaui dan menggantikan sebesar apapun kesengsaraan yang saya rasakan. Cinta Tuhan selalu lebih besar dari apapun juga yang mungkin terjadi.”

“Karena itulah, tiap kali Bryan bilang ‘God doesn’t exist’, saya bakal nampar dia dan musuhan ampe berhari2, ampe dia minta maaf! Hehehe… Coz.. truly.. Dia adalah Sumber kekuatanku satu2nya, yang bisa nyebabin saya melalui semua ini.”

“..wow..”

“Dan.. Sumber kekuatan itu begitu besarnya sampe kayaknya ke orang2 yang udah jahat ama saya itu pun saya ngga niat bales dendam. Saya maafin kok. Karena, kayak dikatakan di Injil, we are not the judge. Cuma Tuhan satu2nya hakim di alam semesta ini. Kalo kita menghakimi, siap2 dipotong lidahnya di akherat nanti! Kayak kata Injil juga. Jadi, serahkan aja semuanya ke Tuhan. Hati pun bebas..”

That is one amazing heart!”

“Hehe.. saya harap begitu. Soalnya Bapak saya juga selalu bilang, kalo Tuhan gak ngeliat apapun selain hati. Gak masalah apa keyakinanmu, semua orang sederajat, Dia cuma ngeliat hati manusia!”

Svetlana pun senyum2 lagi, mungkin udah siap ama bodoran selanjutnya. Tapi senyum dia kini punya dimensi yang lebih dalam. Terkesima ama what faith can do..

People

September 8th, 2006 by 3rdsidewalker

Img_1048

3 August 2006, Kopenhagen

Kopenhagen punya tempat tersendiri dalam benak saya.

Hari itu, jalan2 di seputaran kota yang disuratkan Bryan tuk saya kunjungi, (dari patung Little Mermaid, jalanan2 dengan gedung2 ala biskuit Monde, Nyhavn Kanal, etc etc, ampe
Town Hallnya) semuanya penuh dengan suasana yang summer Eropa banget! Langit biru muda, matahari kuning cerah, dan orang2nya yang juga pirang2. Bule banget lah..! Dan tentunya, apa yang ada di benak saya selama ini… mereka rasis ngga ya..?
You know lah, kasus karikatur Nabi!
Jadi selama itu saya selalu bilang ke diri saya tuk siap2 aja..

Tapi, siapa sangka, saya baik2 banget di Kopenhagen! Jasmani rohani!
Emang ga ada yang terlalu ramah, tapi mereka asik2 aja tuh. Dan yang lebih mengherankan, adalah bahwa di distrik kedua, tempat Bryan tinggal, malah kayak ngga lagi di Eropa. Kayaknya 60% imigran di sana. Dan bukan sekadar imigran, bisa dibilang itu dominasi Muslim!
Belum pernah di bagian Eropa lainnya saya jalan2, dan selalu nemu gerombolan cewek berkerudung ketawa/i, terus hampir semua restoran ada tulisan halalnya, dan supermarket2nya penuh ama barang2 jarang dengan penjaga2 bertampang Arab. Lebih2 lagi, kamar yang saya tempatin di rumah Bryan juga penuh ama Quran n Sejadah, hehehe.. Yup, seroang bule Kopenhagen di sini pun baru masuk Islam.

Karenanya sore itu saya keluar lagi tuk jalan2 di distrik ajaib itu (setelah ‘dimarahin’ Bryan karena surfing internet melulu: “Kamu lagi liburan di Kopenhagen dan cuma surfing internet? Nih buku, buat diliat2. Pergi gih sana, hus!” Hehehe..)
Buku Steve McCurry, fotografer National Geographic yang punya spesialisasi motoin orang2 dari deket. Pasti udah pernah liat fotonya yang sekarang jadi sampul buku itu, seorang cewek kecil Afghanistan berkerudung merah dengan mata hijaunya yang “wild”.

Saya pun jalan2 di Norrebrogade, jalan utama distrik itu. Matahari udah hampir tenggelam, lampu2 kelap kelip. Atmosfir menyenangkan memasuki hati. Atmosfir yang cuma ada di Asia ato Arab, kerasa dari orang2 yang ketawa ketiwi sepanjang trotoar, plus warna warni baju mereka ato harum rempah2 dari supermarket2  sepanjang jalan.

Saya memutuskan tuk duduk di sebuah bangku, dan mulai ngebuka2 buku itu. Setiap halaman menggambarkan satu orang dari seluruh dunia - dari biksu Tibet berjubah merah ampe pemuja setan di Amerika. Semuanya berkarakter kuat.

Setiap halaman berlian sendirinya. Tapi yang ngebuat terharu, adalah ketika semua halaman itu digabung jadi satu buku. Setiap halaman jadi penting karena halaman selanjutnya bakal menunjukkan gambar yang beda sama sekali.

Setiap orang sebuah warna yang ngebuat warna lain ada

(Kok bisa2nya saya nyadarin ini di Kopenhagen? Gimana dengan kerasisan karikatur Nabi?)

Jam udah menunjukkan pukul 11 malam. Balik ah, kalo ngga ntar Bryan ngebodor lagi.

Bryan ngebodor.. Untuk kasus Bryan yang punya buku ini, mungkin rasis2an itu iseng aja kali ya..?

Membaik dan Memburuk

September 4th, 2006 by 3rdsidewalker

Img_1028

1 August 2006, Oslo-Copenhagen

Leaving Scandinavia (walo Denmark juga sebetulnya masih Skandinavia):
1.    Pemandangan berangsur2 memburuk! Gunung2 spektakuler Norwegia semakin melandai. Bahkan bukan melandai aja, di beberapa tempat terlihat pembuangan mobil2 dan besi2 yang ga sedap dipandang. Lebih lagi, alam2 hijau menghilang dan kini kuning kering. Landai selandai2nya..
Baik:Buruk = 0:1
2.    Keadaan perut membaik drastis karena beli roti super besar enak hanya 40 sen. Plus selai coklatnya yang juga cuma 80 sen. Keajaiban di tengah2 harga lain yang telah ngebuat Norwegia sebagai negara kedua termahal di dunia (setelah Jepang).
Baik:Buruk = 1:1
3.    Mabok.. mabok.. (biasa ini sih, setiap naik kereta ato bis)
Baik:Buruk = 1:2
4.    Dapet cara tokcer tuk ngatasin mabok: duduk di kursi yang berlawanan arah ama laju kereta. It somehow just works for me :D
Baik:Buruk = 2:2
5.    Bosen.. ga ada yang menarik di luar. Dan ribut ga puguh di dalem kereta. Dua orang cewek ngegosip keras banget, plus seorang anak cewek yang tiap lima menit nangis ke maminya..Tak bisa tidur lah daku..
Baik:Buruk = 2:3
6.    Ketemu malaikat lagi, seorang cewek Afghanistan. Saya cuma nanyain kalo di stasiun Copenhagen ntar ada money changer karena saya belum punya uang Denmark, dia malah ngasih 6 euro buat transportasi! (yang ternyata cukup tuk selama 3 hari saya di Copenhagen ntar!:D)
Baik:Buruk = 3:3
7.    Matahari bersinar di samping kereta banget waktu di kereta, ampe pipi jadi kaku keluar2 kereta. Dan kayaknya alam ‘bales dendam’ ngeliat saya ga terlalu hepi ama mereka, karena pas nyampe, ujan deras turun ngebuat basah kuyup ketika lari2 ke flatnya host..
Baik:Buruk = 3:4
8.    Bryan, host selanjutnya dari HospitalityClub yang menurut testimoni2 di profilnya adalah seorang cowok jenaka, bukain pintu, “Nice weather, isn’t it?”
Baik:Buruk = 4:4

Baik ato buruk? It’s just traveling..:D The way it is..

Tapi Ku Baik2 Saja..

September 4th, 2006 by 3rdsidewalker

Img_1005

1 August 2006, Oslo

Aku duduk menghirup udara segar jam 9 pagi di sebuah kursi kayu tua. Kursi kayu yang ada di penghujung benteng tua kota Oslo. Di depan, pelabuhan Oslo dan segala aktivitas paginya mulai bergerak. Segar.
Baik2 saja..

Saya pun membuka roti yang saya beli di supermarket tadi. Mengoleskan selai coklat ke roti itu dengan bahagianya, ohohoho..
Saya makan seadanya sambil ngeliatin ibu kota Norwegia di depan yang adem ayem itu - kota yang kalah spektakuler kalo dibandingkan bagian2 Norwegia lainnya yang edan. Sebuah jam raksasa berdenting keras di kejauhan, pukul 9.15.

Udara pagi sangat bersahabat dan angin sepoi2 berhembus. Keadaan setenang debur ombak di pelabuhan di bawah. I feel calm n happy..

Dan kemudian, sebuah kebenaran sederhana pun hinggap di kepala, ‘Why shouldn’t we?’

Why worry..?

Di luar duit yang minim, dan ‘perjuangan2’ tuk hidup di Eropa dengan kondisi yang minim. Di luar kesendirian bepergian dengan keamanan yang ga pernah terjamin seratus persen.. Why worry..?

Karena ombak di pelabuhan di bawah baik2 saja. Gedung2 perkantoran di seberang sana baik2 saja. Nobel Peace Centre di tepi pantai juga. Jam besar di kejauhan juga. Udara di antara kita juga baik2 saja..
Kalo saat ini harus ada sesuatu yang dinamakan ‘masalah’, maka tidak bisa tidak dia hanya akan ada di dalam kepala manusia..

Kata ‘masalah’ tercipta ketika ada seseorang bernama ‘saya’, yang tentunya tidak selamanya keinginannya terpenuhi?
Tapi kalau tidak ada ‘saya’, atau katakanlah kalau ia tidak terlalu ‘dipikirin’, why worry..?

Karena Hidup.. baik2 saja..
Alam semesta terus2an mengalir untuk tetap seimbang .. apa2 harus digantikan..
Itu semua baik2 saja..
Menjadi ‘masalah’ ketika ada ‘saya’ yang harus ’suatu saat tergantikan’ itu..

The biggest problem in the universe is yourself..

(N btw, kalo ada yang harus diselesaikan, selesaikan aja. Bukan ’masalah’, selesaikan aja..:D)