A Tale of Svartlamon
September 4th, 2006 by 3rdsidewalkerSkandinavia oh Skandinavia.. (lagi)
Saking adil n aktivisnya negara2 ini, beberapa orang pun bahkan mempertanyakan sistem sosial mereka sendiri yang udah bagus banget itu..
Gila ya kalian?
Di stand Boikott Israel waktu itu, aku ketemu seorang lain bernama Bjorn, mantan jurnalis yang dulu ‘ada di Palestina tuk ngeliput The Last Intifada’. Ngobrol2 dikit, akhirnya Bjorn ngundang saya buat ngeliat proyek barunya di Trondheim: sebuah ghetto bernama Svartlamon.
Walhasil sampailah saya, Lisa, dan Sanna ke area itu setelah kita balik dari Storas Festival. Beda sendiri dari area Trondheim lain yang cantik dan berbunga2, kerasa langsung kalo area ini masih dalam pembangunan. Bangunan2nya berarsitektur seadanya dan kebun2nya berantakan pula. Bjorn ngundang kita masuk ke dalam kantornya, dan langsung ngecap menjelaskan sejarah Svartlamon.
Jadi area ini bermula sejak jaman setelah Perang Dunia Kedua, ketika pabrik2 senjata di deket situ udah ga berfungsi lagi, dan area ini jadi terabaikan. Orang2 yang ‘kurang beruntung’ pun jadinya mulai membangun pemukiman di situ dan menetap. Kemudian, tentunya ekonomi Norwegia membaik, dan pemerintah pun ingin menggusur tempat itu. Penduduk di situ, yang waktu itu kebanyakan seniman2, protes. Karena mereka berpenghasilan ga terlalu besar dan ga akan sanggup ngebayar flat yang mahal di bagian kota lainnya.
Demonstrasi berlangsung, dan akhirnya mereka menang dan dibolehin menetap di sana.
“Tapi itu setelah meyakinkan pemerintah, bahwa Svartlamon akan menjadi contoh pemukiman ekologis pertama bagi Norwegia, bahkan semoga untuk dunia.“
Ekologis, karena, rumah2 berarsitektur biasa2 saja yang tadi kita liat itu, semuanya murni terbuat dari kayu. Ampe ga ada genteng karena konon mengandung semacam senyawa yang ‘sulit terurai’. Kemudian mereka juga menganut filosofi kalo belum rusak, kenapa harus dibenerin. Yang intinya buat ngerem aktivitas industri yang terus2an nyiptain produk2 baru yang sebetulnya belum perlu2 amat: TV, radio, kulkas, yang sekarang cuma bisa end-up di lautan.
Hoo.. saya terkesima. Lisa dan Sanna masih agak gatel pingin keluar dari area itu.
“Tapi lebih dari semua itu, sebetulnya inti dari area ini adalah tuk memelihara sepetak area yang terbebas dari cengkeraman perusahaan2. Kalo sewa di bagian kota lainnya mahal karena air diatur ama perusahaan si ini, listrik dimiliki perusahaan si itu, dan berlanjut terus hingga mencapai jaringan perusahaan2 lainnya yang begitu mengakar dan meluas, maka kita berusaha meminimasi hal itu.”
Kita keluar ke kebun yang bener2 ga keurus itu.
“Dan kita ga dapet sokongan dana dari pihak manapun juga yang kita curigai ada deal tertentu ama perusahaan2 tertentu.“ Makanya kebun2 di sini ga seindah kebun lainnya di Trondheim. Dan butuh bertahun2 di sini tuk merenovasi sebuah rumah dibandingkan apartemen yang terlihat di kejauhan yang cuma butuh 5 bulan buat komplit 100%.
Gila.. bukan setuju ato nolak, tapi saya terkesima. Ada sekelompok orang macam ini yang nyoba tuk keluar dari cengkeraman jaringan kapitalisme yang kini udah kayak senyawa oksigen di udara aja kali..(ehm.. berlebihan ya?)
“By people, for people. Cuma itu yang kita eksperimenkan di sini, di tengah2 sistem yang sebetulnya cuma peduli ama winning dibandingkan others.”
Anyhow, for a quick visit too, log on to www.svartlamon.org

